Udara panas yang menyengat kulit di masa sekarang seolah menjadi teman akrab bagi penduduk perkotaan di Indonesia. Kawan GNFI tentu merasakan betapa teriknya matahari saat berjalan di trotoar ibu kota sampai diapit oleh deretan gedung pencakar langit yang menjulang angkuh.
Bangunan-bangunan tersebut mayoritas terbungkus kaca, memantulkan cahaya, dan menjebak panas di jalanan. Pemandangan tersebut sering kali dianggap sebagai simbol kemajuan. Sebuah kota dianggap modern jika penuh dengan beton dan kaca yang berkilauan.
Padahal, tanpa disadari, konsep Pembangunan tersebut justru memperparah kondisi lingkungan dan memaksa penghuninya bergantung sepenuhnya pada pendingin ruangan buatan atau Air Conditioner (AC).
Paradigma pembangunan kota modern sering kali melupakan satu hal fundamental, yaitu iklim tropis Nusantara tidak cocok dengan desain kotak kaca tertutup. Gedung-gedung tersebut boros energi dan justru memanaskan lingkungan sekitarnya.
Ironis memang, ketika manusia berusaha menciptakan kenyamanan, cara yang ditempuh justru merusak kenyamanan tersebut dalam skala yang lebih luas. Di tengah kegelisahan akan krisis iklim dan suhu bumi yang kian mendidih, muncul sebuah pertanyaan besar.
Apakah kondisi demikian harus terus berkiblat pada desain arsitektur Barat yang tidak ramah tropis, atau justru jawaban atas krisis iklim sebenarnya sudah tersimpan rapi dalam memori kolektif nenek moyang?
Mengenal Visi Solarpunk dan Relevansinya

Ilustrasi visual kota hijau dalam konsep Solarpunk (Pexels | Tom Fisk)
Istilah Solarpunk terdengar asing dan futuristik di telinga Gen Z. Banyak referensi, salah satunya artikel berjudul Solarpunk 2077 dari Progresa, yang mendefinisikan Solarpunk sebagai sebuah sub-genre fiksi ilmiah yang menawarkan optimisme radikal.
Berbeda dengan Cyberpunk yang menggambarkan masa depan kelam penuh teknologi tinggi tetapi kualitas hidup rendah, Solarpunk membayangkan dunia saat teknologi canggih hidup berdampingan secara harmonis dengan alam.
Visi tersebut menampilkan masyarakat yang sejahtera, rendah emisi karbon, dan memanfaatkan energi matahari serta angin sebagai sumber kehidupan utama.
Konsep Solarpunk sering kali menampilkan visual kota yang hijau, penuh tanaman merambat di dinding gedung, dan turbin angin yang artistik. Dunia Barat menganggap hal tersebut sebagai sebuah utopia, sebuah mimpi masa depan yang harus dikejar.
Namun, Kawan GNFI perlu menyadari satu hal menarik. Bagi masyarakat Nusantara, hidup selaras dengan alam dengan teknologi yang berkelanjutan bukanlah fiksi ilmiah atau mimpi di siang bolong.
Hal tersebut menjadi sejarah dan identitas asli bangsa. Nenek moyang masyarakat Indonesia sebenarnya menjadi praktisi Solarpunk orisinal, jauh sebelum istilah tersebut populer di forum-forum internet global.
Kecanggihan Teknologi Pasif dalam Arsitektur Vernakular
Jika Kawan GNFI menengok riset dari Sustain Review, teknologi pendingin pasif yang didambakan dunia Barat sebenarnya sudah ada di halaman belakang negeri sendiri. Arsitektur vernakular atau rumah adat di berbagai penjuru Nusantara bukan sekadar tumpukan kayu yang disusun secara estetis.
Bangunan-bangunan tersebut merupakan mahakarya teknik sipil yang dirancang khusus untuk merespons iklim tropis lembap.
Lihat saja bagaimana Rumah Gadang di Sumatra Barat atau Rumah Betang di Kalimantan didirikan. Desain bangunan tersebut tidak menempel langsung ke tanah, melainkan berbentuk panggung.
Kolong rumah panggung bukan hanya berfungsi sebagai kandang ternak atau gudang, melainkan memiliki fungsi aerodinamika yang vital. Ruang kosong di bawah lantai mengakitbatkan udara bergerak bebas, mendinginkan lantai rumah dari bawah secara alami.
Udara panas di dalam ruangan akan naik ke atas dan keluar melalui celah-celah atap yang tinggi, sementara udara sejuk dari bawah akan masuk menggantikan. Sirkulasi silang atau cross ventilation yang tercipta membuat suhu di dalam rumah adat jauh lebih rendah dibandingkan suhu luar, tanpa memerlukan bantuan listrik se-watt pun.
Bandingkan dengan rumah beton tipe modern yang sering kali terasa seperti oven saat siang hari jika AC dimatikan.
Arsitektur vernakular membuktikan bahwa kenyamanan termal bisa dicapai dengan desain cerdas, bukan dengan energi boros.
Ketangguhan Struktur Melawan Bencana

Ilustrasi ketangguhan struktur bangunan melawan bencana (Pexels | Eva Klanduchova)
Keunggulan arsitektur lokal tidak berhenti pada kenyamanan suhu saja. Bahkan, GNFI pernah mengulas betapa jeniusnya struktur anti-gempa rumah adat yang sering dianggap kuno oleh sebagian orang
Nenek moyang sadar betul bahwa Nusantara berdiri di atas Cincin Api atau Ring of Fire. Alih-alih melawan alam dengan membangun struktur kaku yang mudah retak, para leluhur memilih untuk menari bersama guncangan.
Teknologi sambungan kayu pada rumah adat, seperti sistem pasak dan ikatan tanpa paku logam sehingga bangunan untuk bergerak fleksibel saat gempa terjadi.
Struktur tersebut memiliki sifat elastisitas yang luar biasa. Ketika tanah berguncang, bangunan ikut bergoyang, tetapi tidak rubuh karena sambungannya tidak kaku mati.
Prinsip base isolation yang kini diagung-agungkan dalam teknik sipil modern Jepang, sejatinya memiliki napas yang sama dengan kearifan lokal bangunan tradisional di Nias atau Jawa.
Hal tersebut membuktikan bahwa arsitektur vernakular bukan produk masa lalu yang tertinggal, melainkan sebuah teknologi keselamatan yang sangat maju dan relevan.
Membangun Masa Depan dengan Wajah Nusantara
Sayangnya, persepsi masyarakat modern sering kali salah kaprah. Banyak orang menganggap rumah kayu atau bambu sebagai tanda kemiskinan atau ketertinggalan. Padahal, beton dan kaca tidak selalu berarti kemajuan.
Sekarang merupakan momentum yang tepat untuk mengubah pola pikir tersebut. Kawan GNFI tidak harus membongkar rumah dan menggantinya dengan replika rumah adat secara utuh.
Esensi dari Solarpunk Nusantara yaitu mengadopsi prinsip kerjanya, bukan sekadar meniru bentuk fisiknya.
Arsitek muda dan pemilik rumah masa kini dapat mulai menerapkan prinsip bernapas pada hunian modern. Penggunaan ventilasi silang yang maksimal, tritisan atap yang lebar untuk menghalau sinar matahari langsung, serta pemilihan material yang tidak menyerap panas menjadi langkah awal yang brilian.
Mengintegrasikan tanaman hijau ke dalam fasad bangunan juga bukan sekadar tren estetika, melainkan upaya menurunkan suhu mikro di sekitar hunian.
Menuju Kemandirian Desain
Kondisi bangsa yang demikian mampu memiliki kekayaan intelektual arsitektur yang luar biasa. Sudah saatnya publik berhenti merasa inferior terhadap desain minimalis ala Barat yang belum tentu cocok dengan iklim setempat.
Solusi atas krisis iklim dan kenyamanan hunian tidak perlu dicari jauh-jauh ke benua lain. Jawaban tersebut ada pada warisan leluhur yang sampai sekarang terabaikan.
Menghidupkan kembali prinsip arsitektur vernakular dalam konteks modern menjadi wujud nyata dari semangat Solarpunk ala Indonesia. Sebuah gerakan untuk menciptakan masa depan yang canggih, tetapiĀ tetap berpijak pada bumi pertiwi.
Kawan GNFI memiliki peran kunci untuk memulai perubahan tersebut yang dimulai dari keputusan-keputusan kecil dalam menata tempat tinggal.
Mari, jadikan kearifan lokal sebagai basis teknologi masa depan, agar anak cucu nanti tetap bisa merasakan sejuknya angin Nusantara di tengah tantangan iklim global.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


