Jembatan Cisomang merupakan jembatan kereta api tertinggi di Indonesia. Terletak di Desa Cisomang, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Jembatan Cisomang berada di ketinggian kurang lebih dari 100 meter dari dasar Sugai Cisomang.
Panjang total Jembatan Cisomang adalah 243 meter. Jembatan ini terletak di antara Stasiun Cisomang yang sudah nonaktif dan Stasiun Cikadongdong.
Uniknya, jembatan ini memiliki tiga generasi. Generasi pertamanya sudah ada sejak era penjajahan Belanda. Sementara itu, generasi terakhirnya adalah jembatan kereta api yang sampai saat ini masih digunakan.
Jembatan KA Tertinggi yang Punya 3 Generasi

Pembangunan Jembatan Cisomang di era kolonial | Koleksi Tropen Museum
Pembangunan Jembatan Cisomang bertujuan untuk menghubungkan jalur dari Bandung menuju Jakarta. Jembatan ini memiliki tiga generasi, di mana dua generasi lamanya sudah ada sejak zaman kolonial.
Jembatan Cisomang generasi satu dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS) pada tahun 1984 dan dioperasikan di tahun 1906. Namun, kondisi tanah di area sekitar tidak stabil dan membuat beberapa kereta sempat anjlok saat melintasinya.
Kemudian, jembatan generasi dua dibangun pada 1932 untuk menggantikan jembatan yang lama. Dengan demikian, Jembatan Cisomang generasi satu resmi ditutup untuk kereta. Sisa-sisa jembatannya sudah nyaris hilang, hanya fondasinya yang masih berdiri di area sekitar persawahan warga.

Jembatan Cisomang gen II | NFarras/WikimediaCommons
Jembatan ini punya panjang 230 meter. Pilar besi bajanya ditopang dengan fondasi yang tertanam sedalam tiga meter di kedalaman tanah.
Jembatan generasi dua digunakan sangat lama hingga akhirnya dipensiunkan pada tahun 2004. Berbeda dengan “kakaknya”, sisa-sisa jembatan kedua ini masih tampak kokoh berdiri sampai sekarang. Ada warga yang menggunakan sisa kerangka jembatan itu untuk sekadar nongkrong sembari menunggu kereta lewat.
Kemudian, tahun 2000, pemerintah Indonesia membangun Jembatan Cisomang generasi ketiga. Merangkum dari PT Kereta Api Indonesia (Persero), pembangunan si “bungsu” melibatkan ahli konstruksi kereta api asal Austria. Pembangunannya selesai pada tahun 2004.
Jembatan Cisomang baru menggunakan konstruksi baja yang melengkung ke atas. Jembatan ini juga memiiki rel ganda serta jalur kecil yang diperuntukkan untuk motor dan pejalan kaki. Jembatan generasi dua dan tiga ini bersebelahan.
Punya Urban Legend Terkenal
Menyandang status sebagai jembatan kereta api aktif tertinggi di Indonesia, Jembatan Cisomang konon memiliki urban legend yang cukup terkenal. Merangkum dari Instagram @urangpurwakarta.id, ada kisah misteri yang menyelimuti jembatan ini.
Yang pertama adalah soal kemunculan merpati putih. Ada mitos yang berkembang di tengah masyarakat jika ada dua ekor burung merpati putih terbang di sekitar jembatan, akan ada kejadian buruk yang terjadi.
Selain itu, dikatakan bahwa ada sosok gaib yang menunggu jembatan yang bernama Nyi Daweh. Ia memiliki rupa yang amat cantik, hingga membuat lelaki terpesona, termasuk Sinyo Belanda.
Namun, agaknya kecantikannya ini membawa petaka. Konon, Nyi Daweh dikubur hidup-hidup untuk dijadikan tumbal dan ditanam di tiang ke dua Jembatan Cisomang yang lama, Saat dikubur itu, ia memakai kebaya berwarna merah.
Menurut kesaksian beberapa orang, Nyi Daweh kerap terlihat di ujung jembatan dengan baju serba merah
Namun, perlu diketahui bahwa kisah-kisah mistis yang melekat adalah mitos dan kepercayaan lokal yang tumbuh di sekitar masyarakat. Di tengah urban legend itu, Jembatan Cisomang tetap menjadi primadona karena memiliki pemandangan sekitar yang memikat. Hijaunya alam mampu membius mata siapa pun yang melihatnya.
Ada Kawan GNFI yang pernah atau bahkan sering melewati jembatan ini saat bepergian dari Bandung ke Jakarta dan sebaliknya?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


