Upaya mewujudkan kemandirian pangan terus menjadi perhatian pemerintah pusat hingga ke tingkat desa. Sejalan dengan visi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, swasembada pangan diposisikan sebagai salah satu fondasi utama pembangunan nasional.
Komitmen tersebut tertuang dalam misi kedua Asta Cita, yakni memantapkan sistem pertahanan dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, dan sumber daya lainnya.
Menindaklanjuti semangat tersebut, KKN Universitas Tidar (Untidar) Tahun 2026 turut berkontribusi melalui program kerja bertajuk “Pelatihan dan Pemanfaatan Lahan untuk Kemandirian Pangan” di Desa Tampirkulon, Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang.
Program ini bertujuan mendorong masyarakat agar mampu memenuhi sebagian kebutuhan pangannya secara mandiri, dimulai dari skala rumah tangga.
Kegiatan kemandirian pangan ini dilaksanakan selama dua hari, yakni pada Sabtu dan Minggu, 10–11 Januari 2026, dengan lokasi utama di kediaman Kepala Desa, Poniman.
Program difokuskan pada pemanfaatan lahan sempit dan penggunaan barang bekas sebagai media tanam, sehingga mudah diterapkan oleh masyarakat tanpa memerlukan biaya besar.
Tim KKN Untidar memanfaatkan galon air bekas sebagai wadah tanam. Media tanam yang digunakan berasal dari bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar, yakni campuran tanah, pupuk kandang, serta daun bambu yang telah membusuk.
Adapun bibit tanaman yang dimanfaatkan meliputi tanaman pangan, seperti cabai dan tomat, serta tanaman obat keluarga (toga), antara lain kunyit, serai, dan jahe.

Pada hari pertama pelaksanaan, tim KKN Untidar bekerja sama dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Tampirkulon dalam tahap persiapan dan pembuatan wadah tanam.
Proses dimulai dengan membersihkan galon bekas, membentuknya menjadi pot menyerupai bunga, serta melubangi bagian bawah sebagai saluran air. Setelah itu, galon dicat menggunakan cat minyak dengan beragam warna agar tampak lebih menarik dan bernilai estetis.
Kepala Desa Tampirkulon dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ketahanan pangan ini diharapkan dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, program tersebut dapat menjadi contoh sederhana pemanfaatan lahan rumah tangga sekaligus mendorong kebiasaan menanam tanaman pangan secara mandiri di lingkungan desa.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Dusun sekaligus anggota Kelompok Wanita Tani Desa Tampirkulon, Lantiyah, menilai kegiatan ini sebagai bentuk kolaborasi positif antara mahasiswa dan masyarakat.
“Kegiatan ini membuktikan bahwa mahasiswa dan masyarakat desa, khususnya kelompok wanita tani, dapat berkolaborasi secara sinergis sebagai langkah awal menuju kemajuan desa,” ujarnya.
Pada hari kedua, kegiatan dilanjutkan pada Minggu pagi, bertepatan dengan agenda rutin kerja bakti warga Desa Tampirkulon. Setelah kerja bakti selesai, anggota KKN Untidar mengarahkan masyarakat untuk berkumpul di kediaman Kepala Desa selaku tuan rumah kegiatan.
Warga kemudian mendapatkan penjelasan singkat mengenai konsep ketahanan pangan dan teknis penanaman yang akan dilakukan.
Selanjutnya, mahasiswa dan masyarakat bersama-sama mencampur media tanam dan menanam bibit ke dalam wadah yang telah disiapkan sehari sebelumnya. Proses penanaman berlangsung secara gotong royong dan disambut antusias oleh warga yang hadir.
Setelah kegiatan berakhir, tanaman yang telah ditanam dibagikan kepada masyarakat untuk dibawa pulang dan dirawat secara mandiri di rumah masing-masing.
Sisa bibit tanaman juga didistribusikan ke rumah warga yang belum sempat mengikuti kegiatan, sehingga manfaat program dapat dirasakan secara lebih merata.
Melalui program ini, tim KKN Untidar berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya ketahanan pangan dapat terus tumbuh.
Dengan langkah sederhana dan pemanfaatan sumber daya sekitar, kemandirian pangan di tingkat rumah tangga diharapkan mampu menjadi kontribusi nyata menuju swasembada pangan nasional.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


