pelangi di mars warna baru film sci fi indonesia - News | Good News From Indonesia 2026

Pelangi di Mars, Warna Baru Film Sci-Fi Indonesia

Pelangi di Mars, Warna Baru Film Sci-Fi Indonesia
images info

Pelangi di Mars, Warna Baru Film Sci-Fi Indonesia


Industri film Indonesia kembali kedatangan film fiksi ilmiah baru lewat Pelangi di Mars. Film ini merupakan karya debut film panjang sutradara Upie Guava, yang sebelumnya dikenal lewat karya-karya video musiknya.

Sinema tersebut menggabungkan petualangan luar angkasa dengan drama keluarga, menghadirkan cerita yang tidak hanya imajinatif, tetapi juga emosional.

Film ini diproduksi oleh Dendi Reynando bersama rumah produksi Mahakarya Pictures dan sejumlah kolaborator lainnya. Menjelang penayangannya, crew menggelar konferensi pers pada Sabtu (14/3/2026) di Cinema XXI Epicentrum.

Cast dan Kru Saat Press Conference | Dokumentasi Pribadi
info gambar

Cast dan Kru Saat Press Conference | Dokumentasi Pribadi


Dalam acara, para pemain dan kru hadir untuk berbagi cerita mengenai proses produksi film. Beberapa di antaranya adalah pemeran karakter Pelangi, Myesha Lin dan Messi Gusti. Turut hadir pula Lutesha, Rio Dewanto, Gilang Dirga, hingga Livy Renata, bersama para pengisi suara, body actor, jajaran produser, dan perwakilan dari rumah produksi.

Sinopsis Cerita

Secara cerita, Pelangi di Mars mengambil latar masa depan pada tahun 2090-an. Film ini mengikuti kisah seorang anak bernama Pelangi—diperankan oleh Messi Gusti—yang digambarkan sebagai manusia pertama yang lahir dan tumbuh di Planet Mars.

Dalam ceritanya, Pelangi harus menjalani kehidupan di Mars setelah koloni manusia meninggalkan planet tersebut. Ia kemudian hidup bersama sejumlah robot yang rusak dan terbengkalai di planet itu.

Bersama para robot ini, Pelangi memulai petualangan untuk mencari mineral langka bernama Zeolit Omega yang diyakini dapat membantu memurnikan air sekaligus mengatasi krisis air di Bumi.

Rencananya, Pelangi di Mars akan tayang di bioskop Indonesia mulai 18 Maret 2026, bertepatan dengan momen libur Idulfitri. Film ini diharapkan dapat menjadi tontonan keluarga yang dapat dinikmati oleh berbagai kalangan usia.

baca juga

Inspirasi di Balik Pelangi di Mars

Upie Guava Sutradara Pelangi di Mars Saat Press Conference | Dokumentasi Pribadi
info gambar

Upie Guava Sutradara Pelangi di Mars Saat Press Conference | Dokumentasi Pribadi


Tidak hanya menghadirkan kisah petualangan luar angkasa, film ini juga lahir dari kegelisahan sang sutradara terhadap semakin minimnya tontonan yang mampu memantik imajinasi anak-anak tentang masa depan.

Menurut Upie Guava, generasi sebelumnya tumbuh dengan berbagai karya fiksi ilmiah yang mendorong mereka untuk bermimpi dan membayangkan masa depan.

“Kami dulu tumbuh di zaman yang cukup beruntung. Kita belum kenal internet, kita tumbuh dengan komik dan film seperti Star Wars, Back to the Future, Jurassic Park dan komik Tintin. Film-film atau literasi itu membuat gue pengen cepat-cepat dewasa, karena menjadi dewasa rasanya seru, gue pengen menaklukan dunia, gitu,” ujar Upie dalam konferensi pers.

Ia menambahkan bahwa literasi fiksi ilmiah memiliki peran penting dalam membangun cara pandang generasi muda terhadap masa depan. Menurutnya, perkembangan karya sci-fi di suatu negara bahkan dapat menjadi indikator bagaimana bangsa tersebut memandang teknologi dan masa depan.

“Literasi sci-fi itu bisa menjadi benchmark sejauh mana sebuah negara berpikir tentang masa depannya,” katanya.

Karena alasan tersebut, Upie memilih memulai debut film panjangnya dengan genre fiksi ilmiah. Baginya, membuat film sci-fi bukan sekadar eksplorasi visual. Namun, juga upaya menghadirkan cerita yang dapat menumbuhkan rasa ingin tahu serta menggugah anak-anak untuk memiliki mimpi yang besar di masa depan.

Bukan Sekadar Film Sci-Fi

Meski mengusung latar luar angkasa, Pelangi di Mars juga menyimpan cerita emosional tentang hubungan antara orang tua dan anak. Hal ini turut dirasakan para pemerannya saat membangun karakter masing-masing.

Aktor Rio Dewanto yang memerankan tokoh Banyu, ayah dari Pelangi, mengaku mencoba membangun emosi karakter dengan membayangkan hubungannya sendiri dengan sang anak.

“Emosinya gue coba bangun aja, karena untungnya gue punya anak perempuan. Jadi gue coba membayangkan, gimana sih ketika gue nggak ketemu anak gue selama itu,” ujar Rio.

Bimo Kusumo Saat Press Conference
info gambar

Bimo Kusumo Saat Press Conference | Dokumentasi Pribadi


Hal serupa juga dirasakan oleh Bimo Kusumo, aktor pengisi suara karakter Robot Batik, sebagai sosok penjaga yang menemani Pelangi selama berada di Mars.

Menurutnya, karakter tersebut punya kedekatan dengan perannya sebagai seorang ayah dalam kehidupan nyata. Ia melihat Robot Batik sebagai figur yang tidak selalu sejalan dengan keinginan anak, tetapi tetap hadir sebagai teman sekaligus pelindung yang setia mendampingi.

baca juga

Adaptasi Teknologi Baru

Proses penggarapan Pelangi di Mars sendiri telah dimulai sejak tahun 2020. Produser Dendi Reynando menjelaskan bahwa pada tahap awal produksi, tim mulai merancang konsep visual sekaligus membangun dunia cerita yang akan ditampilkan dalam film.

Dalam proses produksinya, film ini menggunakan pendekatan hybrid production, yaitu menggabungkan live action dengan animasi melalui pemanfaatan teknologi extended reality (XR).

Menurut Upie Guava, penggunaan teknologi tersebut membuat para kru belajar semuanya dari awal dan memang tidak ada sekolahnya. Para kru bahkan mencari referensi mengenai teknologi tersebut secara mandiri, mulai dari mempelajari berbagai materi di internet hingga berkomunikasi dengan pelaku industri serupa di luar negeri.

Meski demikian, Upie bersyukur, Pelangi di Mars merupakan salah satu early adopter teknologi tersebut dalam produksi film di Indonesia. Hal ini menjadi langkah penting, mengingat industri film nasional sering kali tertinggal dalam hal pemanfaatan teknologi produksi.

“Karena selama ini saya melihat permasalahan di industri film adalah kadang-kadang pengalaman teknologi itu datangnya terlalu lambat. Di luar negeri mungkin sudah digunakan 10 tahun, sementara kita baru mencoba sekarang,” ujarnya.

Sebagai film fiksi ilmiah dengan pendekatan produksi yang cukup berbeda, Pelangi di Mars diharapkan dapat menghadirkan warna baru dalam industri perfilman Tanah Air. Selain menyajikan visual petualangan luar angkasa, film ini juga membawa pesan tentang harapan, persahabatan, serta mimpi besar anak-anak tentang masa depan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Amanda Jingga Rambadani lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Amanda Jingga Rambadani.

AJ
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.