Sesuai judulnya, konteks berikut kini mulai mendapatkan perhatian dari berbagai pihak, menyambung perkembangan teknologi yang kian canggih dari waktu ke waktu. Tidak dapat dimungkiri, Revolusi Industri merupakan titik awal dalam peradaban manusia yang terjadi akan banyaknya perombakan secara sistemis.
Moda transportasi yang awalnya terkesan manual, misalnya dengan cikar atau andong, sekarang telah digantikan dengan kendaraan bermesin. Manusia yang sebelumnya hanya berandai-andai menjelajahi luasnya angkasa, sekarang perlahan ilmuwan dari masing-masing negara berkompetisi merasuki bentang galaksi melalui berbagai proyek yang visioner nan ambisius.
Tidak usah jauh-jauh, cara manusia bersosialisasi pun sebenarnya merupakan bentuk evolusi yang paling terjangkau sekaligus unik untuk dinalar, yang tidak harus direnungkan sampai menyebabkan masygul saking kompleksnya. Semoga para antropolog menilai baik premis dari penulis.
Dalam perspektif biologi, manusia sejatinya adalah makhluk super cerdas yang mempertimbangkan akan semua hal. Disikatnya habis semua aspek yang bisa diindra maupun tidak, baik itu yang bersifat rasional hingga mistis. Apa contohnya? Menjawabnya akan terasa seperti membuat kamus kehidupan. Mau tentang politik, inti filosofi dan pedagogi, ideologi, sistem keuangan, strata budaya, bahkan hingga esensi moralitas, manusia sanggup memperdebatkannya.
Ini jauh berbeda dengan mamalia lain yang masih pada taraf terkait dengan batas teritorial, konstruksi sosial sederhana, upaya melindungi diri dari ancaman, maupun perselisihan antarsesama yang tidak serumit manusia punya. Bayangkan saja, manusia pun sampai terpikir dengan konspirasi tentang alien yang berpotensi mengakhiri eksistensinya di muka bumi, sesuatu yang jujur bikin penulis takjub.
Satu hal yang tidak ketinggalan, mumpung juga ini tergolong fresh sebagai topik nasional, adalah mengenai teknologi informasi dan komunikasi. Bermula dari dikembangkannya bahasa lisan, dilanjutkan dengan sistem aksara dan kepenulisan, penemuan telepon dan TV, hingga pada kemunculan gawai dan aplikasi media sosial—itu adalah bukti konkret kemajuan peradaban.
Tidak sesusah berinteraksi via pos seperti zaman kakek-nenek kita, kini hanya mengandalkan sinyal yang bagus dan wi-fi/kuota internet, pesan dapat tersampaikan dengan mudah. Tokoh utama yang berkecimpung dalam hal ini adalah anak muda.
Generasi Z dan Teknologi Digital: Layaknya Ditakdirkan Bersama
Secara umum, ahli demografi menyepakati tahun lahir dari Generasi Z berada di sekitar tahun 1997 hingga 2012. Dilansir dari kumparan.com (14/3/2019: diperbarui), generasi ini lahir dengan jaringan internet yang telah berkembang pesat dalam kehidupan manusia.
Diketahui terdapat 7 karakteristik yang melekat pada Generasi Z, antara lain memiliki ambisi besar untuk sukses, cenderung berperilaku secara instan, mencintai kebebasan, percaya diri, menyenangi hal detail, ingin mendapatkan pengakuan dari pihak luar, serta terpapar oleh digitalisasi. Tidak mengherankan bahwa banyak julukan yang disematkan ke generasi ini, seperti iGen, digital native, dan tech-savvy.
Memang diakui, posisi sebagai anak muda sekarang disandang oleh Generasi Z, yang barangkali telah berusia antara 17-29 tahun. Mereka mulai masuk dalam kehidupan yang sebenarnya pascasekolah, entah melanjutkan studi atau telah terlibat dalam dunia kerja.
Di titik ini pula, karena sifat kritis akibat derasnya informasi di era digital, Generasi Z pun mulai mempertanyakan—lebih tepatnya ke arah menuntut ‘idealisme’ mengenai konstelasi hidup, sebagaimana juga yang telah dibahas oleh Ahmad Cholis Hamzah dalam opininya bertajuk “Gen Z, Pelopor Pergerakan Massa”.
'Efek Samping' yang Mulai Tampak
Stepanova (2014) dalam artikelnya yang berjudul “Problems of the Socialization of Today’s Young People” menyoroti adanya semacam kesenjangan pandangan antara anak muda dan orang tua. Disebutkan bahwa generasi muda adalah perwujudan nilai-nilai budaya masa kini, yang mengindikasikan keengganan untuk meramal masa depan oleh sebab ketidakpastian yang selalu mereka hadapi.
Ini berbeda jauh dengan generasi tua yang dikenal sebagai pembawa nilai tradisional, yang dianggap lebih family-oriented dan cenderung mampu menunjukkan resiliensi terhadap hal yang membahayakan maupun yang tidak sesuai dengan harapan sosial. Dengan pemaparan ini, apakah Kawan menyadari perbedaan kontekstualnya?
Adapun perbedaan tersebut seringkali menimbulkan pertikaian yang sengit, bahkan tidak jarang sampai berujung pada kekerasan dan tindak pidana. Globalisasi mungkin memberikan kepraktisan menjalani hidup, namun banyak pihak yang masih kurang memperhatikan sisi negatif dari pada itu.
Jika berbicara dalam data, laman indonesiabaik.id (2021) mengemukakan bahwa tingkat kesopanan warganet Indonesia berada pada peringkat ke-29 dari 32 negara yang berpartisipasi pada survei Microsoft dalam laporan yang bertajuk “Digital Civility Index (DCI)”.
Skor yang diperoleh adalah 76 poin, yang mana semakin tinggi skor akan berbanding lurus terhadap ketidaksopanan daring. Walaupun kelompok usia dewasa disebut lebih berkontribusi dalam penurunan ini, lantas itu tidak menjadikan anak muda boleh terabaikan. Justru dari situ, anak muda perlu dibimbing untuk bijaksana dalam berbagai situasi, tidak hanya di dunia nyata tetapi juga di jagat maya.
Refleksi
Dishon & Ben-Porath (2018) dalam artikel dengan judul “Don’t @ me: rethinking digital civility online and in school” menjelaskan ada tiga usulan karakteristik kesopanan digital, yaitu mengenai komitmen terhadap dialog yang berkelanjutan dan adil, mencari audiens yang beragam dengan tujuan bersama, dan akuntabilitas horizontal.
Secara esensial, digarisbawahi bahwa teknik berkomunikasi secara digital perlu mempertimbangkan tata krama, siapa yang diajak bicara, serta penggunaan diksi yang sesuai demi menghindari potensi konflik dan ambiguitas yang berkepanjangan. Dalam pelaksanaannya, karakteristik tersebut dianjurkan untuk disisipkan dalam kurikulum dan metode pedagogis guru yang berlaku saat itu.
Akhir kata, kiranya kebijakan pelarangan media sosial bagi yang dibawah 16 tahun oleh pemerintah mampu memberi dampak positif yang nyata bagi masa depan anak muda. Yang terpenting, orang tua wajib mengawasi tumbuh-kembang anak pada periode seperti ini.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


