ngertakeun bumi lamba makna filosofis sejarah dan jadwal ritual di tangkuban perahu - News | Good News From Indonesia 2026

Bukan Sekadar Upacara Adat, Inilah Alasan Mengapa Ritual Ngertakeun Bumi Lamba Harus Dilakukan di Puncak Gunung Tangkuban Perahu

Bukan Sekadar Upacara Adat, Inilah Alasan Mengapa Ritual Ngertakeun Bumi Lamba Harus Dilakukan di Puncak Gunung Tangkuban Perahu
images info

Bukan Sekadar Upacara Adat, Inilah Alasan Mengapa Ritual Ngertakeun Bumi Lamba Harus Dilakukan di Puncak Gunung Tangkuban Perahu


Ngertakeun Bumi Lamba adalah upacara adat masyarakat Sunda yang bertujuan untuk menghormati, mensyukuri, dan menjaga keseimbangan alam semesta. Ritual ini rutin dilaksanakan di Gunung Tangkuban Perahu sebagai gunung yang dianggap sebagai sumber kehidupan.

Ritual Ngertakeun Bumi Lamba biasa dilakukan di bulan Juni tiap tahunnya atau disebut dengan bulan kapitu atau bulan ke-7 dalam kalender suryakala. Pelaksanaannya dilakukan di sekitar Kawah Ratu yang dianggap sebagai kawasan suci.

Arti dan Etimologi: Apa Itu Ngertakeun Bumi Lamba?

Secara linguistik, istilah ini berakar dari bahasa Sunda kuno yang memiliki makna filosofis mendalam, yakni:

  • Ngertakeun: Berasal dari kata kerta yang berarti memelihara atau menyejahterakan.
  • Bumi: Merujuk pada tanah, tempat tinggal, atau dunia fisik.
  • Lamba: Berarti alam atau jagat raya.

Dalam konsep filosofis dan kosmologis Sunda kuno, kehidupan dibagi menjadi tiga unsur utama, yakni tri tangtu yang berarti tiga hal yang pasti. Ada tiga lapisan alam yang dipercaya, yakni Buana Nyungcung (alam atas atau Ketuhanan), Buana Tengah (manusia), dan Buana Larang (alam bawah yang umumnya dikaitkan dengan nafsu).

Ngertakeun Bumi Lamba bertujuan untuk menyejahterakan bumi, merawat alam, dan mengucap syukur atas hasil bumi yang diberikan oleh Sang Pencipta. Menariknya, bukan hanya masyarakat Sunda saja yang terlibat dalam upacara ini. Ada pula perwakilan dari suku Bali, Jawa, hingga Dayak yang ikut menghadiri dan mengikuti ritual adat tersebut.

Sejarah dan Asal-Usul Ritual Ngertakeun Bumi Lamba

Konon, eksistensi ritual adat ini didasarkan dalam ajaran naskah kuno Sanghyang Siksakanda Ng Karesian (1518 M). Naskah ini mengamanatkan agar manusia menjaga bumi agar tetap lestari.

Kitab tersebut ditulis pada masa pemerintahan Prabu Jayadewata dari Kerajaan Sunda Galuh. Konsep menjaga alam ini mencakup bagaimana manusia harus menjaga kesucian gunung sebagai hulu air sekaligus penopang kehidupan, sesuai dalam kitab kuno itu.

baca juga

Mengapa Gunung Tangkuban Perahu Dipilih sebagai Tempat Upacara?

Seperti yang sudah dituliskan sebelumnya, gunung merupakan penopang kehidupan. Gunung Tangkuban Perahu dalam hal ini dianggap sebagai pusat gunung purba di Sunda dan disebut-sebut sebagai “ibu”. Gunung ini dijadikan sebagai kabuyutan karena dianggap sebagai puncak tertinggi yang mengantarkan kehidupan.

Gunung Tangkuban Perahu merupakan salah satu gunung suci di tatar Pasundan. Kawahnya disebut sebagai simbol kehidupan yang harus dijaga dari tangan manusia yang serakah.

Prosesi dan Tahapan Upacara Ngertakeun Bumi Lamba

Prosesi upacara Ngertakeun Bumi Lamba dilakukan dengan khidmat, mulai dari ngareremokeun sebagai bentuk penyucian energi. Kemudian, ada ngeteg linggih ngadegkeun. Terakhir, akan ada sesaji dilarung ke Kawah Ratu.

Terdapat arang dan dupa yang dibakar serta dibawa berkeliling. Merangkum dari berbagai sumber, peserta yang hadir turut membawa dupa yang sudah dibakar.

Setelahnya, sesepuh adat membawa daun sirih dan diberikan pada perwakilan tiap daerah yang datang. Kemudian, mereka menari bersama dan beberapa di antaranya akan membagikan air beras yang sudah didoakan.

Penghormatan diekspresikan melalui sesajen, pembacaan mantra, nyanyian suci, musik tradisional, tarian jiwa, dan meditasi sebelum ditutup dengan pelarungan sesaji ke kawah.

Pesan Ekologis: Lebih dari Sekadar Ritual

Warginet, Ngertakeun Bumi Lamba sejatinya adalah bentuk pelestarian lingkungan berbasis budaya. Ritual ini melarang perusakan hutan di sekitar gunung. Masyarakat diingatkan bahwa menebang pohon sembarangan merupakan pelanggaran pada kesucian ritual.

Di sisi lain, di tengah gencarnya edukasi soal isu climate change di dunia, kearifan lokal ini sangat relevan karena memposisikan alam sebagai subjek yang harus dihormati, bukan objek yang dikuras sumber dayanya saja. Secara sederhana, Ngertakeun Bumi Lamba merupakan mitigasi bencana berbasis spritualitas.

Panduan Pengunjung & Jadwal Pelaksanaan 2026

Waktu pelaksanaan Ngertakeun Bumi Lamba adalah di bulan kapitu atau Juni 2026. Namun, tanggal belum diumumkan resmi. Pastikan untuk memantau pengumuman resmi dari TWA Tangkuban Perahu atau komunitas adat setempat.

Bagi Warginet yang berencana untuk berkunjung dan melihat prosesi Ngertakeun Bumi Lamba, berikut beberapa panduan etika yang penting untuk diperhatikan:

  • Berpakaian sopan. Disarankan untuk mengenakan pakaian adat sebagai bentuk penghormatan budaya.
  • Menjaga ketenangan selama prosesi adat berlangsung.
  • Mengikuti instruksi petunjuk kasepuhan atau orang tua adat.
  • Menghormati pemangku adat.
  • Dilarang membuang sampah sembarangan, utamanya di area kawah yang suci

Ngertakeun Bumi Lamba bukan sekadar tontonan budaya, melainkan komitmen kolektif berbasis budaya untuk menjaga alam semesta. Ritual tradisional Sunda ini mengajak masyarakat luas untuk menghormati dan menjaga bumi tempat dipijak yang sudah memberikan kehidupan kepada umat manusia.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
MS
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.