Kiai Sedayu dan Kanjeng Kiai Naga adalah dua benda pusaka yang ada di Keraton Yogyakarta. Konon ada sebuah cerita rakyat dari Yogyakarta yang menceritakan tentang legenda Kiai Sedayu dan Kanjeng Kiai Naga tersebut.
Menurut ceritanya, kedua benda pusaka ini didapatkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwana I dulunya. Kedua benda pusaka ini kemudian dititahkan untuk terus dijaga hingga saat sekarang.
Bagaimana kisah dibalik legenda Kiai Sedayu dan Kanjeng Kiai Naga tersebut?
Legenda Kiai Sedayu dan Kanjeng Kiai Naga yang Jadi Benda Pusaka Keraton, Cerita Rakyat dari Yogyakarta
Dinukil dari buku Antologi Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta, alkisah pada suatu hari Sri Sultan Hamengkubuwana I hendak pergi melakukan pertapaan. Sang sultan hendak pergi bertapa ke sebuah telaga yang ada di Desa Kemundung.
Telaga tersebut dianggap sebagai tempat yang cocok untuk mendekatkan diri dengan Yang Kuasa. Atas dasar inilah sultan memutuskan untuk melakukan pertapaan di Telaga Kemundung tersebut.
Sebelum berangkat, sultan menitipkan sebuah titah pada sang patih. Sultan meminta patih untuk menggantikan dirinya sementara dalam memimpin pemerintahan Mataram.
Setelah itu, sultan langsung pergi menuju Telaga Kemundung. Sang sultan menyamar sebagai rakyat biasa dengan mengenakan pakaian seadanya.
Sang sultan tidak ingin masyarakat Mataram mengetahui bahwa dia ada di antara mereka. Selain itu, sang sultan juga ingin melihat secara langsung realita apa yang tengah terjadi di daerah yang dipimpinnya tersebut.
Setelah beberapa waktu, sampailah sang sultan di Telaga Kemundung. Sultan kemudian langsung memulai pertapaannya dengan khusyuk dan khidmat.
Meskipun sudah bertapa cukup lama, belum ada tanda-tanda alam yang didapatkan oleh sultan. Tiba-tiba muncul dua ekor kuda yang lengkap menggunakan pelana serta kendali mulutnya berlari ke arah sang sultan dengan kencangnya.
Bersamaan dengan kemunculan dua kuda ini, tiba-tiba ada juga sebuah suara yang bergema di sana. Suara tersebut meminta sultan untuk menangkap kedua ekor kuda tersebut.
Begitu mendengar suara ini, sang sultan langsung membuka kedua matanya. Namun tidak ada seorangpun yang terlihat di sekitar Telaga Kemundung tersebut.
Sultan kemudian langsung mengejar kedua kuda tersebut. Ketika kedua kuda tersebut akan berhasil dipegang, tiba-tiba mereka langsung melarikan diri dengan kencangnya.
Kedua kuda ini melarikan diri ke arah Pantai Selatan. Sang sultan pun mengejar kedua kuda yang melaju kencang tersebut.
Begitu tiba di Pantai Laut Selatan, tiba-tiba kedua kuda itu lenyap seketika. Yang tertinggal di sana hanya pelana dan kendalinya saja.
Sang sultan kemudian membawa kedua benda tersebut ke istana. Berkat kesaktian yang dia miliki, sang sultan bisa membawa kedua benda pusaka itu dengan mudahnya.
Di tengah perjalanan, sang sultan bertemu dengan Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga kemudian bertanya hendak ke mana sultan dengan kedua benda tersebut.
Sultan kemudian menjawab jika dia akan membawa kedua benda itu ke istana. Kedua benda ini akan dijadikan pusaka karena didapatkan dengan cara gaib.
Setelah tiba di keraton, sultan kemudian mengenakan pelana dan kendali itu ke kuda-kuda keraton. Namun kuda-kuda tersebut jatuh terkulai karena keberatan.
Melihat hal itu, sultan kemudian mengeluarkan sebuah sabda. Pelana dan kendali kuda tersebut akan diberi nama Kiai Sedayu dan Kanjeng Kiai Naga.
Kedua benda ini akan menjadi pusaka kerajaan. Sultan berpesan jika kedua benda pusaka ini untuk terus dirawat oleh anak keturunannya.
Pesan sultan ini terus dipegang hingga saat sekarang. Biasanya kedua benda pusaka tersebut akan dibersihkan setiap bulan Sura.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


