pakar ugm konflik iran vs israel as isa jadi momentum untuk tingkatkan produktivitas pupuk dalam negeri - News | Good News From Indonesia 2026

Pakar UGM: Konflik Iran vs Israel-AS isa Jadi Momentum untuk Tingkatkan Produktivitas Pupuk Dalam Negeri

Pakar UGM: Konflik Iran vs Israel-AS isa Jadi Momentum untuk Tingkatkan Produktivitas Pupuk Dalam Negeri
images info

Pakar UGM: Konflik Iran vs Israel-AS isa Jadi Momentum untuk Tingkatkan Produktivitas Pupuk Dalam Negeri


Konflik yang belum kunjung usai antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat mendorong perubahan dan dampak yang cukup signifikan bagi dunia. Selain memicu kekhawatiran akan kelangkaan energi global akibat dibatasinya Selat Hormuz, perang ini juga menimbulkan dampak lain terkait berkurangnya pasukan pupuk berbasis nitrogen.

Pupuk berbasis nitrogen banyak diproduksi oleh negara-negara Teluk. Namun, akibat serangan Israel dan Amerika Serikat pasokan dan distribusi pupuk berbasis nitrogen pun ikut terganggu. Jika dibiarkan, hal ini akan memicu dampak keamanan pangan global.

Sebagai informasi, pupuk berbasis nitrogen adalah pupuk yang mengandung banyak unsur hara jenis Nitrogen (N) sebagai nutrisi utama yang membantu merangsang pertumbuhan vegetative tanaman. Pupuk ini sangat penting untuk pembentukan klorofil, protein, dan fotosistesis yang cepat.

Produksi pupuk nitrogen sangat bergantung pada industri gas alam. Negara-negara yang memiliki cadangan gas besar umumnya menjadi pemain utama dalam industri ini, termasuk negara-negara Teluk seperti Iran, Arab Saudi, Oman, Qatar, sampai Uni Emirat Arab.

Dorong Kemandirian Pupuk Dalam Negeri

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Subejo, S.P. M.Sc., Ph.D., menyebut, perang Timur Tengah menimbulkan dampak bagi sektor pangan, utamanya kelangkaan pupuk berbasis nitrogen untuk produksi pupuk kimia. Namun, sebenarnya kelangkaan itu bisa diatasi.

Dalam keterangannya di laman ugm.ac.id, tidak semua bahan pupuk berasal dari impor. Terdapat pupuk-pupuk yang bisa diproduksi dalam negeri.

“Kalau misalnya pupuk organik, kemudian pupuk hayati kan sesungguhnya tidak tergantung impor, tapi kalau pupuk kimia memang sebagian bahannya harus impor,” jelasnya.

baca juga

Jika konflik terjadi dalam waktu panjang, maka kapal-kapal yang membawa bahan baku itu akan sulit masuk ke Indonesia. Hal ini tentu akan berisiko.

Akan tetapi, situasi ini bisa menjadi momentum baik untuk meningkatkan produktivitas pupuk dalam negeri. Pupuk organic yang berasal dari bahan kotoran ternak, termasuk kompos dari limbah-limbah organik, bisa dioptimalkan.

“Jadi di satu sisi, tetap ada risiko kekurangan pupuk, kimia, tapi kita berkesempatan untuk mengganti ke pupuk organik. Kalau hal ini serius antara pemerintah dengan swasta, bersama masyarakat, ini adalah momentum untuk memanfaatkan sumber daya yang kita punya,” kata Subejo.

Antisipasi yang Bisa Dilakukan

Kondisi dunia yang belum stabil dinilai Subejo harus diantisipasi dengan baik oleh pemerintah dengan menyiapkan produk-produk organik. Selain itu, perlu dilakukan antisipasi pada level desa melalui kelompok tani maupun BUMDES.

Bantuan mesin pupuk tidak mesti harus besar, tapi setidaknya bisa cukup untuk produksi pupuk tingkat desa. Subejo mengatakan, antisipasi ini perlu dilakukan agar petani tetap produktif.

“Ini diantisipasi mulai sekarang, karena 4 bulan tidak disiapkan dan tiba-tiba bahan bakunya betul-betul tidak bisa masuk, pasti nanti akan beresiko kebutuhan petani, sehingga petani tidak bisa memproduksi berbagai komoditas dengan baik,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Subejo menyarankan agar pemerintah segera melakukan edukasi ke masyatakat agar tidak terlalu bergantung pada pupuk kimia dan mulai bergeser ke pupuk organik.

Selain itu, pemerintah juga bisa memberikan bantuan ke desa-desa berupa mesin pengolah pupuk organik. Langkah ini bisa menjadi momentum untuk mengajarkan pentingnya pupuk organik dengan mensosialisasikan dan menyiapkan infrastruktur pendukungnya sembari melihat perkembangannya.

“Jika hal tidak disiapkan, nanti ketika misalnya betul-betul terjadi kelangkaan, harganya sangat mahal, kemudian tidak tersedia, pasti masyarakat akan kolaps. Tapi kalau strategi tersebut dilakukan, melalui penyuluhan, melalui pengadaan mesin, termasuk mungkin pelatihan, saya kira menjadi kesempatan yang sangat baik untuk mulai disiapkan,” pungkasnya.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.