14 maret 1904 mengenang pertempuran di benteng pasir gayo lues 122 tahun yang lalu - News | Good News From Indonesia 2026

Maret 1904, Mengenang Pertempuran di Benteng Pasir Gayo Lues 122 Tahun yang Lalu

Maret 1904, Mengenang Pertempuran di Benteng Pasir Gayo Lues 122 Tahun yang Lalu
images info

Maret 1904, Mengenang Pertempuran di Benteng Pasir Gayo Lues 122 Tahun yang Lalu


Runtuhnya pusat kekuasaan Kesultanan Aceh pada awal abad ke-20 menandai babak baru dalam perjalanan perang di tanah Aceh. Pada tahun 1903, Sultan Aceh, Teuku Muhammad Daud Syah, akhirnya berhasil ditawan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Sebelumnya, sejumlah panglima besar yang selama bertahun-tahun memimpin perlawanan juga telah gugur di medan juang, di antaranya Teuku Umar dan Teuku Cik di Tiro, disusul oleh banyak panglima dari wilayah Gayo yang turut bertempur di pesisir Aceh.

Kekosongan kepemimpinan ini membuat kekuatan perlawanan di berbagai wilayah melemah, sementara di pedalaman Gayo Lues sendiri masyarakat masih sering terlibat dalam konflik antarkampung yang memperlihatkan betapa rapuhnya situasi politik di kawasan tersebut.

Bagi pemerintah kolonial Belanda, penangkapan Sultan Daud Syah bukanlah akhir dari ekspedisi militer mereka di Aceh. Gubernur Militer Aceh saat itu, J.B. van Heutsz, bertekad menuntaskan penaklukan seluruh wilayah Aceh hingga ke daerah-daerah yang belum tersentuh kekuasaan kolonial.

Wilayah pedalaman Gayo–Alas menjadi target berikutnya karena dikenal sebagai kawasan yang sulit dijangkau dan masih kuat mempertahankan kedaulatannya. Untuk menjalankan misi tersebut, Van Heutsz menunjuk Letnan Kolonel G.C.E. van Daalen memimpin ekspedisi militer ke pedalaman pada tahun berikutnya.

baca juga

Dalam perjalanan ekspedisi inilah Van Daalen bersama pasukan Marsose melakukan serangkaian operasi militer yang kemudian tercatat sebagai salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah perang Aceh, ketika sekitar 4000 rakyat Gayo Lues, termasuk perempuan dan anak-anak tewas dalam penyerbuan terhadap tujuh benteng pertahanan rakyat dimulai dari benteng Pasir, Gemuyang, Durin, Badak, Rikit Gaib, Penosan, dan Tampeng.

Ekspedisi militer ke pedalaman Aceh itu akhirnya dimulai pada 9 Februari 1904. Pasukan yang dipimpin Letnan Kolonel G.C.E. van Daalen bergerak perlahan menembus medan yang berat melewati hutan lebat, sungai, dan perbukitan yang selama ini menjadi benteng alam bagi masyarakat Gayo–Alas.

Setelah menempuh perjalanan sekitar satu bulan, rombongan pasukan kolonial itu akhirnya tiba di wilayah Gayo Lues, tepatnya di Kampung Kela. Dari titik inilah operasi militer Belanda mulai menyasar kampung-kampung yang dianggap sebagai pusat pertahanan rakyat. Sasaran pertama mereka adalah Benteng Pasir, sebuah benteng pertahanan rakyat yang berada di Kampung Pasir.

Kampung ini terletak di kaki gunung dan di tepi aliran sungai, sehingga posisi benteng yang dibangun oleh masyarakat setempat tampak sederhana dan dibuat dengan tergesa-gesa. Tidak banyak yang menduga bahwa pasukan Belanda akan masuk dari arah Kampung Kela menuju wilayah tersebut.

Setelah lebih dahulu membakar Kampung Rerebe, pasukan Belanda bergerak menggempur Kampung Pasir pada 14 Maret 1904 dengan kekuatan sekitar satu setengah brigade pasukan Marsose. Serangan itu segera memicu perlawanan dari masyarakat setempat.

Rakyat Pasir tidak tinggal diam, mereka berusaha mempertahankan kampungnya dengan pedang serta berbagai senjata tradisional yang dimiliki. Namun perlawanan itu berlangsung dalam kondisi yang tidak seimbang, sebab pasukan kolonial telah dilengkapi dengan senjata api yang jauh lebih modern.

Dalam catatan yang ditulis oleh Kempees, pertempuran di Benteng Pasir menelan korban 41 orang dari pihak rakyat, termasuk dua orang perempuan, sementara di pihak Belanda tercatat enam orang mengalami luka-luka. Setelah berhasil menaklukkan Pasir, pasukan Belanda melanjutkan operasi mereka dengan “membersihkan” kampung-kampung lain di sekitarnya, seperti Terangun, Padang, Rempelam Pinang, dan Jabo.

Meski demikian, sebagian pejuang dari Kampung Pasir yang berhasil lolos dari serangan itu terus melanjutkan perjuangan di wilayah lain, di antaranya Gemuyang dan Penosan, menjaga api perlawanan agar tidak sepenuhnya padam di pedalaman Gayo Lues. Benteng selanjutnya akan kita bahas di artikel selanjutnya.

baca juga

Lebih dari satu abad setelah peristiwa itu, Kampung Pasir kembali diuji oleh sejarah, meski dalam bentuk yang berbeda. Menjelang akhir tahun 2025, bencana hidrometeorologi berupa banjir bandang menerjang wilayah Gayo Lues dan menyapu sebagian besar permukiman di desa tersebut.

Rumah-rumah yang dahulu berdiri di kaki gunung dan di tepi sungai banyak yang rusak bahkan hilang terbawa arus. Lanskap kampung berubah, seakan menghapus sebagian jejak ruang yang pernah menjadi saksi peristiwa besar di masa lalu.

Namun sebagaimana benteng yang pernah berdiri di sana, ingatan tentang Kampung Pasir tidak serta-merta lenyap bersama derasnya air. Sejarah perlawanan yang pernah terjadi di tempat itu tetap hidup dalam cerita, catatan, dan ingatan kolektif masyarakat.

Kampung Pasir mungkin berubah, bahkan sebagian jejak fisiknya bisa saja hilang, tetapi kisah tentang keberanian warganya dalam mempertahankan tanah mereka lebih dari seabad lalu akan tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Gayo Lues.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.