Eskalasi konflik Timur Tengah antara Iran dengan Amerika Serikat-Israel menjadi sorotan tajam dunia, tak terkecuali masyarakat Indonesia. Sebagai negara penganut prinsip politik luar negeri bebas aktif, posisi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh meja diplomasi, tapi juga didorong oleh aspirasi rakyatnya.
Survei yang dilakukan oleh tiga lembaga termashyur Tanah Air, yakni Lembaga Survei Indonesia, Indikator Politik Indonesia, dan SaifulMujani Research & Consulting, mayoritas masyarakat Indonesia tegas tidak memberikan legitimasi terhadap serangan militer yang dilakukan AS-Israel ke Iran.
Hasil survei yang bertajuk Legitimasi Publik atas Perang Amerika-Israel dan Iran menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat tidak setuju dengan serangan AS-Israel ke Iran, yakni sebesar 60,1 persen. Sementara itu, sekitar 23 persen di antaranya menyatakan sangat tidak setuju.
Lalu, apa penyebab atau faktor yang membentuk sikap masyarakat dalam menyikapi konflik tersebut?
Penolakan Masyarakat dari Berbagai Perspektif
Hasil survei menunjukkan jika ada beberapa faktor yang menyebabkan masyarakat Indonesia tidak melegitimasi serangan AS-Israel ke Iran, yaitu:
- Publik Indonesia pada umumnya tidak realis;
- Tidak berpandangan bahwa Israel adalah tanah yang dijanjikan;
- Preferensi pada demokrasi dibanding rezim militer;
Kawan, publik Indonesia pada umumnya tidak realis karena survei menunjukkan bahwa mayoritas warga, sekitar 67 persen, tidak setuju/sangat tidak setuju dengan pandangan bahwa “hubungan antarnegara di dunia pada dasarnya saling mengancam. Karena itu segala cara harus dilakukan untuk mempertahankan diri. Kalau perlu dengan memusnahkan negara lain yang dinilai mengancam”. Sementara itu, yang setuju/sangat tidak setuju hanya 19,1 persen dan yang menyatakan antara setuju dan tidak setuju dan tidak bersikap adalah 3,6 persen.
Selanjutnya, sekitar 53,7 persen warga tidak setuju/sangat tidak setuju dengan pandangan bahwa Israel adalah tanah yang dijanjikan Tuhan untuk Yahudi, sedangkan 21,5 persen setuju/sangat setuju. Di lain sisi, yang menyatakan antara setuju dan tidak setuju adalah 16,1 persen dan yang tidak bersikap sebesar 8,7 persen.
Masyarakat juga memiliki preferensi untuk berada dalam demokrasi dibandingkan rezim militer. Hal ini dibuktikan dengan 54 persen di antaranya yang tidak setuju/sangat tidak setuju dengan tentara aktif yang memerintah negara.
Meskipun demikian, sekitar 36 persen menyatakan setuju/sangat setuju. Masyarakat yang menyatakan antara setuju/tidak setuju adalah sebesar 4,7 persen dan yang tidak bersikap 5,2 persen.
65,3 persen masyarakat berpendapat, meskipun tidak sempurna, demokrasi adalah sistem pemerintahan terbaik untuk Indonesia. Proporsi ini jauh lebih tinggi dibanding keadaan otoritarianisme, sekitar 11,5 persen.
Dari paparan di atas, bisa disimpulkan bahwa secara keseluruhan, perang AS-Israel dengan Iran tidak mendapatkan legitimasi dari publik Indonesia. Aspirasi ini sangat penting untuk didengar pemerintah, khususnya dalam memberikan respons luar negeri atas perang yang sedang terjadi antara tiga negara tersebut.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


