Kini, informasi tidak cukup hanya benar, tapi juga dituntut harus cepat, jelas, dan mudah dipahami. Kalau tidak, publik akan membentuk versinya sendiri. Apalagi dengan adanya media alternatif yang tidak selalu menerapkan prinsip berimbang.
Istilah blunder dalam penyajian informasi tidak hanya menyangkut kejadian di masyarakat. Kampus pun bisa jadi objek dari ketidakakuratan informasi kalau humas tidak segera memberikan pernyataan.
Akibatnya, jika kampus lambat merespons, kepercayaan masyarakat terhadap instansi pendidikan sangat mungkin untuk terpengaruh.
Ini realitas yang dihadapi banyak institusi pendidikan hari ini. Oleh karena itu, peran humas kini berubah; dari sekadar penyampai informasi, menjadi pengelola kepercayaan.
“Di era digital, komunikasi bukan lagi fungsi pendukung, melainkan elemen kunci dalam membangun kepercayaan publik,” kata Prof. Dr. Engkos Achmad Kuncoro, Vice Rector Academic Development BINUS University.
Penguatan peran humas saat ini sangat penting. Peran itu lah yang kini digodog dalam kegiatan Program Tendik Berdampak 2026 yang digelar oleh BINUS University bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Tidak hanya sehari, untuk memperoleh konsep dan praktik yang lebih dalam, program ini dilangsungkan selama 3 hari, yakni pada 7–9 April 2026 di Jakarta. Sebanyak 51 tenaga kependidikan dari berbagai perguruan tinggi ikut ambil bagian. Mereka hadir sebagai wakil wajah kampus yang sehari-hari berhadapan langsung dengan publik.
Tentu, selama tiga hari, kegiatan tidak selalu dijalankan layaknya pelatihan formal yang kaku. Acara ini juga digelar dengan menghadirkan workshop intensif untuk mengasah keterampilan dan sesi praktik langsung yang mensimulasikan situasi nyata yang sering dihadapi humas.
Beberapa Kasus, Kampus Tidak Terlatih Menghadapi Publik
Kenapa harus digelar Program Tendik Berdampak 2026 selama 3 hari? Sebab, di lapangan, banyak kampus sebenarnya kuat di akademik, tapi lemah di komunikasi publik.
Kampus-kampus ini menilai komunikasi sebagai tambahan, bukan bagian inti dari strategi.
Padahal, komunikasi publik itu punya teknik tentu. Misalnya, media relations untuk membangun hubungan dengan jurnalis agar informasi tidak dipelintir hingga manajemen isu yang membuat kampus mampu merespons krisis dengan cepat tanpa memperburuk situasi.
“Penguatan pendidikan tinggi tidak hanya bertumpu pada aspek akademik, tetapi juga pada peran strategis tenaga kependidikan sebagai penggerak ekosistem pendidikan,” tambah Engkos.
Ini lah yang coba dijawab lewat Program Tendik Berdampak 2026. Peserta praktik langsung menghadapi simulasi situasi nyata tentang bagaimana merespons isu, menyusun pesan, hingga menentukan timing komunikasi.
Bahkan, ada benchmarking dengan praktik industri.
Ketua program, Haris Suhendra, menekankan bahwa peserta harus bisa langsung menerapkan apa yang dipelajari.
Pesan Penting dari Menteri: Jangan Berhenti di Pengetahuan
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto, mengingatkan bahwa program seperti ini tidak boleh berhenti di ruang pelatihan.
“Saya berharap tidak hanya terjadi transfer pengetahuan, tetapi juga lahir praktik-praktik baik yang bisa langsung diimplementasikan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi, utamanya antar tenaga kependidikan. Kolaborasi ini bisa jadi ruang untuk saling berbagi pengalaman, strategi, dan praktik terbaik.
Karena sebenarnya, tantangan komunikasi tidak bisa diselesaikan sendiri, melainkan harus melibatkan kolaborasi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


