Ratusan goodie bag pernah dikerjakan Ahmad Saad, tapi tidak satu pun dibayar oleh pemesan.
Padahal, itu tidak hanya membuat kerugian. Uang dari pesanan biasanya menjadi modal untuk produksi berikutnya. Ketika pembayaran tidak diselesaikan, perputaran usaha bisa terhenti karena kehabisan modal.
“Jumlahnya ratusan goodie bag. Penghasilannya seharusnya bisa saya gunakan untuk modal. Tapi ya sudahlah, diikhlaskan saja,” ujarnya, dikutip dari Kumparan.
Meski dihadapkan dengan ujian tersebut, Saad memilih melanjutkan usahanya. Ia nriman dengan apa yang terjadi.
Pengalaman itu bukan satu-satunya tantangan di awal usahanya. Saad juga pernah di fase harus mencari pasar hingga ke kabupaten tetangga.
Berjualan dari Pintu ke Pintu
Dulu, ketika belum punya pelanggan tetap, Saad mengandalkan metode door to door untuk berjualan. Ia mendatangi langsung calon pembeli.
Saad berkeliling ke kantor-kantor di Kudus, Demak, Pati, hingga Jepara. Tas dibawa di punggung sedangkan ia berjalan dengan dua tongkat penyangga. Sementara untuk jarak jauh, ia menggunakan motor roda tiga yang sudah dimodifikasi.
Benar, Saad merupakan penyandang disabilitas yang dalam kesehariannya menggunakan alat bantu untuk berjalan.
Dengan penuh keyakinan, ia menawarkan produk buatannya sendiri, walaupun respons yang didapat saat itu tidak selalu positif.
“Terkadang ditolak karena mereka belum membutuhkan. Ada juga yang tidak percaya kalau produk tas tersebut buatan saya sendiri,” katanya.
Fase ini ia jalani sekitar satu tahun.
Pesanan Mulai Berdatangan
Setelah melewati fase panjang, Saad mulai menerima pesanan dari berbagai instansi. Beberapa instansi yang pernah memesan ke Saad di antaranya Kemensos dan RSUD Loekmono Hadi Kudus. Ia juga pernah mengerjakan pesanan dari Pertamina, BNI, dan TIKI.
Produk yang dibuat beragam, mulai dari tas punggung, tas gunung, handbag, tas tempat tamiya, dan goodie bag.
Harga produknya pun variatif, berkisar Rp10 ribu hingga Rp180 ribu.
Pasarnya pun meluas ke Semarang, Jakarta, Bali, dan daerah lain.
Dari hasil itu, Saad bisa menyekolahkan dua anaknya, membeli sepeda motor baru, dan memiliki sebidang tanah.
Mengoperasikan Mesin Jahit Hanya dengan Satu Kaki
Dalam proses produksi, Saad mengoperasikan mesin jahit hanya dengan satu kaki.
“Saya tetap semangat menyelesaikan pesanan walaupun hanya bisa menggunakan kaki kiri untuk mengoperasikan dinamo mesin jahit,” katanya.
Padahal, mesin jahit manual menggunakan pedal kaki untuk menggerakkan jarum. Menggunakan satu kaki membutuhkan usaha ekstra agar ritme tetap stabil untuk mendapatkan hasil jahitan yang tetap rapi.
Usai dapat kepercayaan dari pelanggan, Saad tidak hanya fokus menjual. Ia juga memperkuat kualitas produk. Bahan yang digunakan tidak ecek-ecek.
“Saya menggunakan benang yang biasa digunakan untuk celana jeans. Benangnya besar dan kuat supaya tas buatan saya tidak cepat jebol,” jelasnya.
Ia juga memilih ritsleting yang lebih tebal.
“Ritsleting tas saya gunakan yang besar dan kuat agar tidak mudah rusak.”
Benang jeans lebih tebal dan tahan tarik. Ritsleting besar lebih kuat menahan beban, sehingga tas tidak mudah rusak.
Kilas Balik Kondisi Saad
Perjuangan Saad berkeliling menawarkan tas tidak bisa dilepaskan dari kondisi fisik yang ia alami. Ia lumpuh sejak kecil.
Sebenarnya, saat kecil, ia sempat punya tumbuh normal. Namun setelah jatuh dari sepeda, ia mengalami demam dan kejang yang membuat kedua kakinya lumpuh.
Sejak itu, aktivitasnya harus dibantu tongkat, kursi roda, dan kendaraan khusus.
Ia bahkan sempat berhenti sekolah selama setahun.
“Saya sempat malu menjadi disabilitas,” ujarnya.
Ia melanjutkan sekolah di SMP khusus disabilitas di Solo dan dari sana lah kepercayaan dirinya kembali lahir.
Setelah lulus SMP, Saad tidak langsung membuka usaha.
Ia lebih dulu belajar di tempat kakaknya yang sudah lebih dulu membuat tas dan goodie bag.
Di situ, ia memahami proses produksi, mulai dari bahan, pola, hingga jahitan.
Pada 2012, ia mulai membuka usaha sendiri di rumah.
Tetap Jalan, Meski Tidak Mudah
Saat ini, Saad masih menjalankan usahanya dari rumah.
Ia juga mulai memanfaatkan pemasaran online untuk menjangkau lebih banyak pelanggan.
Tidak ada perubahan besar dalam cara kerjanya. Tapi pesanan kini jauh lebih stabil dibanding awal.
“Ke depannya saya akan terus menekuni usaha ini,” imbuhnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


