Kobak sumur adalah sendang atau sumur yang terletak di Desa Ciranggon, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Karawang. Cerita di balik Kobak Sumur ini tidak lepas dari peristiwa yang terjadi pada masa awal Karawang berdiri.
Hal tersebut juga menjadi alasan adanya pantangan memelihara terlebih menyembelih kambing bagi warga Ciranggon. Yuk, simak bersama!
Singaperbangsa dan Pemberontak
Melansir dari situs resmi kesbangpol.karawangkab.go.id, berdirinya Karawang ditandai dengan keberhasilan Wiraperbangsa dalam membebaskan Karawang dari pengaruh Banten.
Setelah berhasil, Wiraperbangsa diberi jabatan Wedana yang saat ini setingkat Bupati di Karawang. Wiraperbangsa juga diberi gelar Adipati Kertabumi III, serta sebilah keris bernama “karosinjang”.
Sayangnya, setelah pemberian jabatan juga gelar tersebut dan hendak kembali ke Karawang, ia singgah terlebih dahulu ke Galuh. Wiraperbangsa wafat di sana, sebelum sempat memimpin. Melalui Piagam Pelat Kuning Kandang Sapi Gede, jabatan Bupati Karawang dilanjutkan oleh Raden Singaperbangsa, selaku anaknya.
Singaperbangsa menjadi Bupati pertama Karawang dan diberi gelar Adipati Kertabumi VI. Berdasarkan pengangkatan Bupati saat itu, Singaperbangsa akan memimpin Karawang bersama Aria Wirasaba. Keduanya setingkat.
Namun dalam pelaksanaan pemerintahan, Aria wirasaba dianggap seperti bawahan dan hanya mempertahankan serta memerintah Waringin Pitu, Parakan Sapi, dan Adiarsa.
Kurangnya kekompakan Singaperbangsa dengan Aria Wirasaba dalam menjalankan pemerintahan, dimanfaatkan oleh pemimpin pasukan tentara Trunajaya yaitu Nata Manggala dan Wangsanga.
Mereka diberi tugas untuk memblokir jalan menuju Batavia untuk menghalangi Amangkurat meminta bantuan Belanda.
Bersama pasukannya, Nata Manggala dan Wangsanga menyerang tempat tinggal Singaperbangsa. Hal ini dilakukan, karena Singaperbangsa dianggap membantu terjadinya perundingan Mataram dengan Belanda di Jepang, sehingga membuat Trunajaya di hukum mati.
Singaperbangsa yang terdesak lari ke arah utara. Hingga di daerah Tunggak Jati Tengah, ia berhasil tertangkap dan kepalanya dipenggal. Sedangkan istri, anaknya yaitu Raden Anom Wirasuta beserta keluarga berhasil menyelamatkan diri dengan menyeberangi sungai citarum. Dalem Singa Derpa Kerta Kumambang memimpin pelarian ini terus menuju selatan.
Hampir bersamaan dengan peristiwa tersebut, R. Suriadipati putra Rangga Gede dari Sumedang diangkat menjadi Rangga di Kelapa Dua. Indra Manggala Putra Dalem dari Tasikmalaya bersama pasukannya juga segera menuju Karawang, saat mendengar kondisi Karawang yg diserang pemberontak.
Dalam perjalanannya, Indra Manggala bertemu rombongan istri dan keluarga Singaperbangsa. Kedua pihak melakukan perjanjian damai. Setelah itu, Indra Manggala bersama Suriadipati segera masuk ke wilayah Kotaraja untuk menyelamatkan Singaperbangsa.
Kepala Singaperbangsa, Kobak Sumur, dan Menyembelih Kambing
Meski akhirnya mengetahui bahwa Singaperbangsa telah gugur dengan kepala terpenggal, keduanya telah sepakat untuk menyelamatkan potongan kepala Singaperbangsa.
Mereka menyusup ke pendopo Karawang yang telah dikuasai pemberontak dan melihat potongan kepala Singaperbangsa ditancapkan dekat pendopo.
Hal tersebut bermaksud untuk mempertontonkan gugurnya pemimpin Karawang dan membuat rakyat menyerah serta tunduk pada pemberontak.
Dengan taktik dan strategi jitu, Indra Manggala dan Suriadipati berhasil menyelamatkan kepala Bupati Karawang tersebut. Mereka membawanya untuk disatukan dengan tubuh Singaperbangsa dan dimakamkan dengan layak. Tubuhnya telah terlebih dahulu dibawa oleh para abdi dalem dan rakyat Karawang yang berhasil mengungsi.
Berdasarkan cerita yang tersebar secara lisan, sebelum sampai ke daerah Manggung Jaya, yaitu tempat memakamkan Singaperbangsa yang telah direncanakan, Indra Manggala dan Suriadipati berhenti untuk istirahat di daerah Ciranggon. Tepatnya di kawasan irigasi dekat sebuah sendang.
Tergerak oleh rasa prihatin karena melihat kepala Singaperbangsa yang kotor berlumuran darah, keduanya membersihkan potongan kepala tersebut dengan air dari sendang yang saat ini disebut Kobak Sumur.
Kabarnya, akibat dari perbuatan tersebut, air sendang yang awalnya jernih tiba-tiba berubah menjadi merah dan berbau anyir. Lalu mereka merasakan suasana di sekitar menjadi sunyi dan hening seperti di kuburan. Dengan indra keenam yang mereka miliki, dapat dirasakan makhluk halus beraura jahat hadir di tempat itu.
Makhluk halus tersebut adalah siluman penunggu kawasan setempat. Bau anyir dan potongan kepala Singaperbangsa sangat menarik baginya. Indra Manggala dan Suriadipati yang merasa bertanggung jawab atas kepala Singaperbangsa, mencoba mengusir siluman tersebut. Namun, siluman tersebut tidak mudah ditaklukan karena memiliki kesaktian tinggi.
Terdesak dengan gangguan siluman, mereka melihat beberapa orang sedang menggiring kambing. Suriadipati memanggil mereka dan menceritakan yang terjadi, dengan maksud untuk meminta seekor kambing kepada para pengembala. Kepala kambing itu akan digunakan sebagai tumbal, menggantikan kepala Singaperbangsa.
Seorang pengembala langsung memberikan seekor kambingnya setelah mendengar penjelasan Suriadipati. Kambing tersebut langsung disembelih hingga kepalanya terlepas dari badannya. Kepala kambing itu langsung ditancapkan menggunakan batang bambu kuning di sekitar sendang.
Dengan cara tersebut, mereka berhasil bebas dari gangguan siluman. Siluman tersebut pergi dengan membawa bandan kambing tanpa kepala. Kepala kambing yang ditancapkan bukan hanya untuk mengecoh siluman. Namun, juga sebagai isyarat bahwa kepala Singaperbangsa berhasil diselamatkan. Setelah itu, Indra Manggala dan Suriadipati kembali melanjutkan perjalanan ke Manggung.
Hingga saat ini menurut cerita masyarakat setempat, sendang yang disebut Kobak Sumur tersebut masih ada di Desa Ciranggon. Serta masyarakat di daerah Ciranggon tabu untuk memelihara, terlebih menyembelih kambing.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


