Ada sebuah cerita rakyat dari Yogyakarta yang menceritakan tentang legenda Ki Ageng Paker. Legenda ini berkisah tentang seorang pemuda yang sangat menyayangi berbagai macam hewan dan merawatnya.
Tanpa disangka, niat baik Ki Ageng Paker dalam merawat berbagai macam hewan ternyata mampu mendatangkan balasan yang tidak dia duga sebelumnya. Simak kisah dari legenda Ki Ageng Paker tersebut dalam artikel berikut ini.
Legenda Ki Ageng Paker, Cerita Rakyat dari Yogyakarta
Disitat dari buku Antologi Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta, pada zaman dahulu di Desa Peker hiduplah seorang pemuda yang suka memelihara hewan. Pemuda tersebut bernama Ki Wangsayuda.
Dirinya gemar memelihara berbagai macam hewan. Beberapa hewan yang ada di kediamannya seperti kuda, burung, gajah, dan lainnya.
Ki Wangsayuda ingin agar hewan-hewan tersebut tidak punah begitu saja. Hal inilah yang mendorong dirinya untuk memelihara semua hewan tersebut.
Pada suatu hari, Ki Wangsayuda kedatangan seorang tamu yang bernama Ki Dipanala. Ki Dipanala ternyata sedang mencari burung perkututnya yang sudah lama hilang.
Burung perkutut Ki Dipanala tersebut bernama Jaka Mangun. Dirinya berharap burungnya tersebut sempat diselamatkan oleh Ki Wangsayuda yang dikenal menyayangi binatang.
Ki Wangsayuda kemudian mengajak Ki Dipanala ke sarang burung yang ada di kediamannya. Ketika memasuki burung tersebut, Ki Dipanala mendengarkan kicauan burung yang tidak asing dan mirip dengan Jaka Mangun.
Mendengarkan kicauan tersebut, Ki Dipanala dan Ki Wangsayuda kemudian pergi mendekatinya. Ki Dipanala kemudian menceritakan ciri-ciri dari burung perkutut kesayangannya itu pada Ki Wangsayuda.
Begitu mendekat, ternyata ciri-ciri burung perkutut tersebut persis sama dengan apa yang dijelaskan Ki Dipanala. Dengan senang hati Ki Wangsayuda menyerahkan burung perkutut tersebut pada Ki Dipanala.
Ki Dipalana sangat berterima kasih atas jasa Ki Wangsayuda. Dia berharap bisa membalas budi baik dari Ki Wangsayuda nantinya.
Namun hal tersebut ditolak oleh Ki Wangsayuda. Dia berkata jika tidak ada maksud apa-apa dibalik pemberian tersebut.
Dirinya hanya ingin menyelamatkan setiap hewan yang terlihat kesusahan. Keinginan inilah yang akhirnya membuat Ki Wangsayuda merawat Jaka Mangun hingga Ki Dipanala datang.
Beberapa pekan kemudian, sekelompok prajurit tiba-tiba mendatangi kediaman Ki Wangsayuda. Mereka berkata hendak mencari Ki Wangsayuda yang ada di rumah tersebut.
Ki Wangsayuda kemudian menghadap prajurit tersebut dengan perasaan tenang. Para prajurit kemudian berkata jika Ki Wangsayuda tidak perlu khawatir dengan kedatangan mereka.
Prajurit ini ternyata utusan dari Prabu Brawijaya dari Kerajaan Majapahit. Ki Wangsayuda makin terkejut begitu mengetahui jika Ki Dipanala yang dia temui sebelumnya adalah Prabu Brawijaya yang menyamar.
Prabu Brawijaya bermaksud untuk memberikan hadiah pada Ki Wangsayuda yang sudah menyelamatkan Jaka Mangun. Para prajurit kemudian memberikan bungkusan hadiah yang dititipkan oleh Prabu Brawijaya pada Ki Wangsayuda.
Setelah menerima bungkusan itu, Ki Wangsayuda kemudian membuka bingkisan tersebut bersama sang istri. Alangkah terkejutnya Ki Wangsayuda dan istri karena bungkusan itu berisi emas permata yang sangat banyak.
Ki Wangsayuda merasa bahagia dengan hadiah tersebut. Dia tidak menyangka jika niat baiknya mendapatkan ganjaran yang sekian banyak.
Meskipun sudah bergelimang harta, Ki Wangsayuda tetap menjadi seseorang dengan pribadi yang baik. Harta yang dia miliki kemudian digunakan untuk membantu masyarakat yang ada di Desa Paker.
Sejak saat itu, Ki Wangsayuda kemudian dikenal dengan nama Ki Ageng Paker. Namanya terus diabadikan dan dikenang oleh masyarakat Desa Paker yang ada di Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


