Sebagaimana yang telah diketahui, bangsa Eropa mulai melakukan ekspedisi atau penjelajahan dunia baru sekitar abad ke-15 M. Wilayah cakupan jelajahnya luas dan beragam, mulai dari Benua Amerika hingga ke Asia termasuk Kepulauan Nusantara. Banyak orang memahami konteks ini sebagai zaman penjelajahan samudra. Zaman ini dimulai saat Kekaisaran Romawi Timur atau Kekaisaran Bizantium runtuh setelah melawan kekuasaan Islam.
Dikisahkan pada 1453, Kesultanan Turki Utsmani (Ottoman) di bawah kepemimpinan Sultan Mehmed II berhasil menganeksasi Konstantinopel (kini Istanbul) dari pemerintah Romawi Timur. Letaknya yang sangat strategis menjadi alasan utama banyak bangsa mencoba untuk menguasainya, termasuk dari bangsa Islam.
Alhasil, kejatuhan kota itu menyebabkan jalur perdagangan antara Laut Mediterania dan Lisboa tertutup sehingga Eropa terkendala dalam berdagang akibat embargo dan blokade yang dilakukan militer Ottoman. Hal inilah yang menjadikan bangsa Eropa berinisiatif mencari rute perdagangan baru sekaligus rempah-rempah ke Dunia Timur.
Adapun Portugis merupakan bangsa Eropa pertama yang berlayar hingga ke Nusantara. Sosok bernama Alfonso de Albuquerque memimpin sekitar 18 kapal yang mengangkut 1.200 orang. Rombongan ini mampu menaklukkan Malaka pada 1511, lalu menyasar wilayah Maluku setahun kemudian. Pencapaian Portugis memelopori kerajaan tetangganya seperti Spanyol guna mengikuti apa yang dikerjakan selama ini.
Portugis dan Spanyol sempat baku hantam di Maluku. Dalam upayanya mencari aliansi, Portugis mendekat ke Kerajaan Ternate melawan Spanyol yang dekat ke Kerajaan Tidore. Lambat laun, kedatangan bangsa Belanda dan Inggris ke Nusantara turut mewarnai kisah penjelajahan yang ironisnya berubah menjadi kolonialisme dan imperialisme.
Sehubungan dengan konteks sejarahnya, barangkali Kawan lebih mengingat kepada van den Bosch yang menerapkan sistem tanam paksa (Cultuurstelsel) atau Thomas Stamford Raffles yang terkenal akan reformasi kebijakannya yang cenderung berpihak pada masyarakat pribumi. Namun, apakah Kawan sudah mengetahui siapakah Pieter Both itu? Apa perannya bagi Nusantara kala itu?
Introduksi
Sebelum itu, Kawan perlu mengerti kronologi akan datangnya Belanda ke Nusantara dalam masa penjelajahan. Seperti mayoritas bangsa Eropa lain, kedatangan Belanda saat itu adalah demi rempah-rempah. Rempah-rempah merupakan bahan baku yang sangat berharga di Eropa, karena dapat digunakan serta diolah menjadi obat, parfum, makanan pokok, hingga pengawet makanan. Mengingat iklim Eropa yang subtropis, jatuhnya Konstantinopel ke tangan Ottoman adalah bencana besar bagi keberlangsungan hidup masyarakat. Oleh sebab itu, diadakanlah pencarian rempah-rempah di wilayah lain secara masif, terutama daratan Asia.
Aksi yang mereka lakukan ini dimotivasi oleh konsep yang dikenal dengan “3G”. 3G bukanlah soal ‘kuat-lemahnya sinyal’, melainkan sebuah akronim dari Gold-Glory-Gospel.
Secara harfiah, Gold diartikan sebagai keinginan guna mendapatkan kekayaan sebanyak mungkin di wilayah baru yang disinggahi, bertujuan demi kepentingan kerajaan atau pemerintahan imperialis. Glory merujuk terhadap superioritas dalam menguasai wilayah yang dikunjungi untuk dijadikan koloni baru. Gospel sendiri dimaknai sebagai upaya untuk menyebarluaskan ajaran kekristenan (Katolik maupun Protestan) pada wilayah yang dikunjungi.
Golongan misionaris seringkali ikut dalam ekspedisi rombongan kapal, sebagai panggilan hidup dan tugas mulia terhadap perkabaran Injil.
Menelusuri Kiprah Sang Gubernur Jenderal
Terkait konteks berikut, Pieter Both merupakan sosok pertama dalam kepemimpinan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) guna mengisi posisi sebagai gubernur jenderal. Menyitat katadata.co.id (20/1/2023), disebut gubernur jenderal berfungsi sebagai kepala eksekutif kolonial serta panglima tentara kolonial. Hingga tahun 1903, semua pejabat dan organisasi pemerintah adalah agen resmi dari gubernur jenderal, sepenuhnya bergantung pada administrasi pusat dari kantor gubernur jenderal untuk anggaran mereka.
Hingga 1815, gubernur jenderal memiliki hak mutlak untuk melarang, menerapkan sensor, maupun membatasi penerbitan apapun dalam koloni. Selain itu, posisi ini juga berhak mengasingkan siapapun yang dinilai subversif dan berbahaya bagi perdamaian serta ketertiban kawasan tanpa harus melalui jalur hukum. Guna memastikan tidak ada praktik penyelewengan selama menjabat, gubernur jenderal diawasi oleh lembaga bernama Raad van Indië (Dewan Hindia). Selain itu, gubernur jenderal juga bertanggung jawab terhadap Heeren XVII, yaitu sebuah badan yang terdiri atas 17 pemegang saham.
Sebelum menjadi gubernur jenderal, Pieter Both pernah mengemban tugas sebagai laksamana pada perusahaan bernama Brabant Company atau Brabantsche Compagnie, yang juga dikenal sebagai pendahulu VOC dalam misi dagang Kerajaan Belanda. Adapun tugas utama Pieter Both sebagai gubernur jenderal adalah mengamankan kepentingan dagang perusahaan di wilayah Hindia Timur. Tidak hanya itu, ia juga bertugas menemukan lokasi yang cocok guna melabuhkan armada kapal VOC, sekaligus sebagai pusat pemerintahan.
Dalam melaksanakan tugasnya, Both mendirikan pos perdagangan permanen VOC di Jayakarta, mengikuti pos yang sebelumnya sudah dibangun di Banten. Jayakarta inilah yang kemudian bertransformasi menjadi pusat pemerintahan VOC hingga seterusnya. Akan tetapi, saat itu Batavia belum dibentuk, dan pengaruh VOC di Jayakarta masih sebatas untuk kegiatan dagang.
Pada waktu itu, pusat pemerintahan VOC berlokasi di Ambon, yang dekat dengan pusat produksi rempah-rempah. Mengingat Ambon cenderung kurang strategis dalam hal rute perdagangan dan aktivitas rutin, Both mempertimbangkan pemindahan administrasi perusahaan dari Ambon ke Jayakarta. Semenjak itulah, VOC mulai melebarkan pengaruhnya di sana.
Kepemimpinannya sebagai gubernur jenderal tidak luput dari tantangan. Salah satu tantangan yang dihadapi Both adalah agresifnya Inggris dalam membuka jalur perdagangan di Jawa. Tercatat selama tahun 1611-1617, Inggris membuka pos dagang di wilayah Sukadana, Makassar, Jayakarta, Jepara, Aceh, serta Jambi.
Ini menunjukkan bahwa era kepemimpinan Both sebagai gubernur jenderal VOC yang pertama penuh dengan kepelikan aktual. Selain membendung kekuatan militer Inggris, ia juga harus mempertahankan pengaruhnya dari ancaman Portugis di Selat Malaka dan Spanyol di Kepulauan Maluku.
Walaupun disebut ia tidak mampu menuntaskan total tugasnya hingga akhir masa kepemimpinan tanggal 6 November 1614, namun Pieter Both berhasil membangun fondasi yang terbilang kuat bagi operasional VOC di Hindia Timur.
Selanjutnya, ia digantikan oleh Gerard Reynst yang sejatinya sudah ditunjuk sejak 1613, namun perlu 18 bulan perjalanan untuk sampai di Hindia Timur. Seusai melepas jabatan, Pieter Both berlayar kembali ke Belanda dengan empat kapal. Sayangnya, kapal yang ditumpangi karam di Flic-en-Flac, Mauritius.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


