aca alamsyah membeli hutan agar tidak dirusak sembarang orang tamu di penginapan back to nature bisa lebih dekat dengan alam - News | Good News From Indonesia 2026

Aca Alamsyah Membeli Hutan Agar Tidak Dirusak Sembarang Orang, Tamu di Penginapan Back to Nature Bisa Lebih Dekat dengan Alam

Aca Alamsyah Membeli Hutan Agar Tidak Dirusak Sembarang Orang, Tamu di Penginapan Back to Nature Bisa Lebih Dekat dengan Alam
images info

Aca Alamsyah Membeli Hutan Agar Tidak Dirusak Sembarang Orang, Tamu di Penginapan Back to Nature Bisa Lebih Dekat dengan Alam


Di Bukit Lawang, orang-orang biasanya datang untuk melakukan dua hal, antara melihat orangutan atau foto-foto di pinggir sungai, bahkan bisa juga keduanya. Pemandangan di sana memang sangat menakjubkan.

Bagi Kawan yang belum tahu, Bukit Lawang adalah kawasan wisata di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Lokasinya berada di tepi Taman Nasional Gunung Leuser. Tempat ini paling dikenal sebagai salah satu lokasi melihat orangutan Sumatera di habitat alaminya.

Kalau dari Medan, perjalanan ke Bukit Lawang biasanya memakan waktu sekitar 3–4 jam lewat jalur darat. Kawasannya berada di pinggir Sungai Bohorok dan dikelilingi hutan hujan tropis Leuser.

Jika Kawan ke sini, cobain menginap di Back to Nature! Penginapan itu milik Aca Alamsyah, seseorang yang membeli lahan hutan di Bukit Lawang untuk dilestarikan. Ia rela merogoh kocek agar bisa membebaskan hutan dari aktivitas yang bersifat merusak, bahkan untuk kegiatan yang katanya wisata alam sekalipun.

Betul, ini faktanya! Menurut Aca, wisata alam tidak selalu ramah lingkungan. Banyak tempat yang menjual hutan, sungai, atau satwa liar sebagai daya tarik, tetapi di saat yang sama mereka membuka lahan dan merusak ekosistemnya.

Keresahan itu yang membuat Aca akhirnya memilih membuat eco tourism atau ekowisata. Ini adalah konsep wisata yang bukan cuma menawarkan pemandangan alam, tetapi juga berusaha menjaga lingkungan dan melibatkan masyarakat sekitar.

Caranya unik, Aca rela membeli hutan agar ia bisa melestarikan. Agar hutan-hutan itu tidak dirusak sembarangan. Aca lantas membuat penginapan ramah lingkungan yang dinamakan Back to Nature.

“Bagaimana jika kita membeli hutan itu, agar tetap liar?” begitu cerita yang ditulis Back to Nature tentang awal mula tempat itu berdiri.

baca juga

Sedikit Demi Sedikit, Lama-Lama Kebeli 100 Hektare

Aca bukan tipe orang yang dari awal bercita-cita jadi aktivis lingkungan. Tahun 1999, ia cuma membangun guest house kecil di Bukit Lawang. Tempat sederhana untuk wisatawan yang datang ke kawasan Leuser.

Seiring waktu, wisatawan di Bukit Lawang semakin banyak. Aca menilai hutan di sekitarnya pun makin menyusut. Aca lalu memilih untuk membeli lahan hutan sedikit demi sedikit. Kini lahannya mencapai 100 hektare. Tak hanya dibeli, tim Back to Nature menanam ratusan pohon buah di lahan itu agar bisa dinikmati satwa liar di sana.

Hal yang paling membuat Aca merasa pilihannya tidak sia-sia ketika membeli hutan bukan urusan uang dari bisnis penginapan, melainkan ketika orangutan mulai muncul lagi di sekitar sungai.

“Terkadang, kami melihat orangutan minum dari sungai. Saat itulah kami tahu kami melakukan sesuatu yang benar,” kata Aca.

Sosok Suswaningsih, PNS yang Berjuang Hidupkan Lahan Tandus di Gunungkidul

Tempat Menginap yang Dekat dengan Alam

Back to Nature punya beberapa jenis penginapan. Ada tenda murah, chalet kayu, bungalow, sampai kamar yang langsung menghadap sungai.

Bangunannya banyak memakai kayu dan batu. Suasananya lebih mirip rumah singgah di tengah hutan. Malam hari yang terdengar bukan musik kafe, melainkan suara sungai dan serangga. Aca sengaja mendesain penginapannya sedekat mungkin dengan alam.

“Fall asleep to the sound of the river and wake to birds, gibbons, and forest light.
Simple, comfortable eco-lodging designed to blend in — not stand out,” tulisnya di laman resmi.

Nah, akses menuju eco-lodge milik mereka dibuat sesederhana mungkin. Tamu yang datang harus berjalan kaki sekitar 35 sampai 40 menit menyusuri Sungai Bohorok.

Awalnya jalur itu hanya dipakai wisatawan menuju penginapan. Lama-lama warga sekitar ikut memanfaatkannya. Petani lewat situ untuk membawa hasil kebun. Pemandu rafting juga memakai jalur yang sama.

Akhirnya, jalan setapak di pinggir sungai itu bukan cuma jadi akses wisata, tetapi juga membantu aktivitas warga tanpa harus membuka jalan besar di tengah hutan.

Di sana, wisatawan bisa ikut trekking hutan mulai beberapa jam sampai belasan hari menuju Kutacane, Aceh Tenggara. Mereka menyebutnya “ethical jungle trek”. Artinya, perjalanan dilakukan dalam kelompok kecil dan tidak sembarangan mendekati satwa liar.

Ini penting karena orangutan sangat rentan tertular penyakit manusia. Kedekatan genetik mereka dengan manusia membuat risiko penularannya tinggi. Jadi kalau ada tempat wisata yang terlalu bebas berinteraksi dengan orangutan, sebenarnya itu bukan kabar baik buat satwanya.

Di perjalanan, tamu juga belajar soal tanaman obat, cara bertahan hidup di hutan, sampai memahami ekosistem Leuser.

Jadi, bagaimana? Apakah Kawan tertarik untuk menginap di Back to Nature?

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.