Kasus Hantavirus kembali menjadi sorotan dunia setelah munculnya klaster infeksi pada kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina menuju Kepulauan Canary pada 2026.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan sedikitnya 6 kasus terkonfirmasi (per Mei 2026) dengan beberapa kematian yang diduga berkaitan dengan jenis Andes virus, salah satu varian hantavirus yang langka dan berbahaya.
Kabar terbaru tersebut memunculkan kekhawatiran global terhadap penyakit zoonosis yang berasal dari hewan pengerat. Tidak hanya di luar negeri, Kementerian Kesehatan RI juga melaporkan adanya 23 kasus positif hantavirus di Indonesia sejak 2024 hingga Mei 2026 yang tersebar di 9 provinsi.
Di Indonesia sendiri, pembahasan mengenai hantavirus masih tergolong minim. Padahal, pemahaman mengenai virus ini penting agar masyarakat tidak mudah panik sekaligus mengetahui langkah pencegahan yang tepat.
Apa Itu Hantavirus?
Hantavirus adalah kelompok virus yang dibawa oleh hewan pengerat seperti tikus dan mencit. Virus ini dapat menular ke manusia melalui urine, air liur, atau kotoran tikus yang mengering lalu terhirup melalui udara.
Dalam beberapa kasus, penularan juga dapat terjadi akibat kontak langsung dengan rodensia atau permukaan yang telah terkontaminasi. Namun, hantavirus tidak menyebar semudah flu biasa.
Penyakit akibat hantavirus terbagi menjadi dua jenis utama, yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal serta pembuluh darah.
Kasus HPS banyak ditemukan di kawasan Amerika, sedangkan HFRS lebih sering terjadi di Asia dan Eropa. Tingkat kematian akibat hantavirus tergolong cukup tinggi apabila tidak ditangani dengan cepat.
Gejala Hantavirus yang Perlu Diwaspadai
Gejala hantavirus pada tahap awal sering kali menyerupai flu biasa. Kondisi ini membuat banyak orang terlambat menyadari infeksi yang terjadi.
Beberapa gejala awal yang umum muncul antara lain:
Demam tinggi
Nyeri otot
Sakit kepala
Tubuh lemas
Mual dan muntah
Nyeri perut
Pada fase yang lebih serius, penderita dapat mengalami sesak napas akibat cairan yang memenuhi paru-paru. Dalam kondisi tertentu, hantavirus juga dapat menyebabkan tekanan darah menurun drastis hingga gagal ginjal.
Karena gejalanya mirip penyakit umum lainnya, pemeriksaan medis menjadi langkah penting apabila seseorang memiliki riwayat kontak dengan tikus atau lingkungan yang terkontaminasi.
Mengapa Hantavirus Berbahaya?
Bahaya utama hantavirus terletak pada perkembangan penyakit yang bisa berlangsung cepat. Seseorang yang awalnya hanya mengalami demam dapat mengalami gangguan pernapasan berat dalam beberapa hari.
Selain itu, hingga saat ini belum terdapat obat antivirus khusus yang benar-benar efektif untuk menyembuhkan hantavirus. Penanganan medis umumnya dilakukan melalui terapi suportif seperti pemberian oksigen, cairan infus, hingga perawatan intensif di ICU.
Faktor lain yang membuat hantavirus berbahaya adalah rendahnya kesadaran masyarakat terhadap penyakit ini. Banyak orang masih menganggap keberadaan tikus di rumah sebagai hal biasa, padahal hewan tersebut dapat menjadi pembawa berbagai penyakit zoonosis.
Perubahan lingkungan juga ikut meningkatkan risiko penyebaran hantavirus. Urbanisasi, sanitasi buruk, penumpukan sampah, hingga perubahan iklim dapat memicu peningkatan populasi rodensia di sekitar permukiman manusia.
Cara Mencegah Hantavirus dengan Tepat
Pencegahan hantavirus sebenarnya dapat dimulai dari kebiasaan sederhana menjaga kebersihan lingkungan. Langkah ini penting karena sumber utama penyebaran virus berasal dari hewan pengerat.
Berikut beberapa cara mencegah hantavirus yang perlu diperhatikan:
Menjaga Kebersihan Rumah
Pastikan rumah terbebas dari tumpukan sampah, sisa makanan, dan area lembap yang dapat menjadi sarang tikus. Bersihkan gudang, dapur, dan sudut rumah secara rutin.
Menutup Akses Tikus
Periksa lubang kecil, ventilasi, atau celah pintu yang memungkinkan tikus masuk ke rumah. Gunakan kawat atau penutup khusus agar rodensia tidak mudah masuk.
Menggunakan Pelindung saat Membersihkan Kotoran Tikus
Jangan menyapu kotoran tikus dalam keadaan kering karena partikel virus dapat beterbangan di udara. Gunakan masker dan sarung tangan, lalu semprot area tersebut dengan disinfektan sebelum dibersihkan.
Menyimpan Makanan dengan Aman
Simpan makanan dalam wadah tertutup agar tidak menarik perhatian tikus. Kebiasaan membiarkan makanan terbuka dapat meningkatkan risiko keberadaan rodensia di rumah.
Mengendalikan Populasi Tikus
Apabila populasi tikus mulai banyak, gunakan perangkap atau hubungi layanan pengendalian hama agar penanganannya lebih aman.
Pentingnya Edukasi tentang Hantavirus
Meningkatnya perhatian terhadap hantavirus menunjukkan bahwa penyakit zoonosis masih menjadi tantangan kesehatan global. Edukasi kepada masyarakat menjadi langkah penting agar informasi yang beredar tidak menimbulkan kepanikan berlebihan.
Banyak informasi di media sosial yang sering menggambarkan hantavirus sebagai “virus mematikan baru”, padahal virus ini sudah lama dikenal dalam dunia medis.
Karena itu, masyarakat perlu mengakses informasi dari sumber terpercaya seperti World Health Organization (WHO) dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC).
Memahami hantavirus bukan berarti hidup dalam ketakutan terhadap tikus atau lingkungan sekitar. Kesadaran mengenai kebersihan, sanitasi, dan kesehatan lingkungan justru menjadi kunci utama untuk mencegah penyebaran penyakit ini.
Dengan mengenali gejala serta cara pencegahannya, masyarakat dapat lebih siap menghadapi ancaman hantavirus tanpa terjebak informasi yang menyesatkan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


