Ada yang aneh dengan meja makan kita. Indonesia punya sumber daya genetik ayam lokal yang melimpah, tapi industri perunggasan kita masih bergantung ke luar negeri untuk urusan bibit.
Selama ini, kita masih sangat bergantung pada impor Grand Parent Stock (GPS) ayam ras komersial. Padahal, kalau ada gangguan geopolitik atau perdagangan dunia sedang terganggu sedikit saja, stabilitas produksi ayam dalam negeri bisa langsung kena dampaknya.
Langkah ini bertujuan untuk memutus rantai ketergantungan itu. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mulai serius mengkaji pengembangan GPS ayam lokal yang secara genetik sudah khatam dengan iklim tropis kita.
Ayam lokal kita sebenarnya punya keunggulan telak. Mereka lebih tahan banting dengan cuaca Indonesia dan punya cita rasa yang sudah cocok di lidah masyarakat. Sayangnya, urusan riset dan investasi bibit inti ini memang sudah lama dikuasai negara-negara maju.
Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Yudhistira Nugraha, menyebutkan bahwa pengembangan bibit inti ini adalah fondasi. Tanpa GPS milik sendiri, kemandirian pangan cuma jadi jargon.
Apalagi kebutuhan protein hewani kita terus naik, terutama dengan adanya target-target besar pemerintah untuk penyediaan makan bergizi bagi masyarakat.
Target 2027 dan Obsesi Punya Bibit Sendiri
Ayam lokal memang punya rasa yang enak, tapi produktivitasnya sering kali kalah jauh kalau disandingkan dengan ayam ras impor.
Di sinilah riset masuk. Fokusnya bukan cuma memelihara ayam yang sudah ada, tapi memperbaiki pemuliaan dan menggunakan teknologi reproduksi agar ayam lokal kita bisa produktif secara massal.
Intinya, ayam lokal harus bisa bersaing secara ekonomi di kandang-kandang modern, bukan cuma sekadar hobi.
BRIN menargetkan koleksi khusus hasil riset peternakan ini bisa mulai terlihat hasilnya pada 2027.
Targetnya, menghasilkan ayam pedaging dan petelur yang lebih adaptif, efisien, dan yang paling penting, tidak rewel dengan agroekosistem Indonesia. Riset ini dilakukan agar bibit unggul nasional ini punya performa yang tidak kalah dengan bibit "impor" yang selama ini mendominasi pasar.
Langkah ini diharapkan bisa mempercepat ketersediaan bibit yang lebih produktif di tangan peternak. Kepala Pusat Riset Peternakan BRIN, Santoso, juga menekankan bahwa potensi genetik saja tidak cukup.
Perlu ada perbaikan sistem pembibitan yang modern agar permintaan gizi masyarakat yang berkualitas bisa dipenuhi dari dalam negeri sendiri.
Bukan Cuma Tugas Peneliti, Tapi Tugas Bersama
Membangun industri bibit ayam lokal tidak bisa dikerjakan sendirian di dalam laboratorium. Perlu ada sinergi antara lembaga riset, pemerintah daerah, peternak di lapangan, hingga pemain industri besar.
Tanpa kerja sama ini, bibit-bibit bagus hasil riset hanya akan berakhir jadi laporan di rak buku, sementara peternak tetap harus beli bibit dari luar.
Kemandirian perbibitan ini adalah cara untuk memperkuat sistem dari hulu ke hilir. Peneliti BRIN, Tike Sartika, menilai bahwa kekayaan genetik ayam kita adalah aset nasional yang selama ini kurang dioptimalkan secara komersial.
Jika industri bibit lokal ini sudah berjalan, kita tidak perlu lagi pusing dengan fluktuasi harga bibit internasional yang sering kali bikin peternak lokal menjerit.
Jadi, ekosistem pangan kita bisa lebih tangguh menghadapi krisis pangan global yang kapan saja bisa terjadi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


