Di berbagai wilayah, khususnya Jogja, makanan berlebih dari hotel yang masih layak bisa berakhir di tempat sampah. Sementara itu, ada mahasiswa yang menahan lapar di kamar kos karena uang makan sudah habis sebelum akhir bulan. Fenomena itu terus mengganggu pikiran Ika Kurniati.
“Saya menemukan fakta bahwa ada mahasiswa yang meninggal di kos-kosan karena kurang makan,” kata Ika sebagaimana dikutip dari DW Indonesia.
Dari keresahan itu, lahirlah Berbagi Bites Jogja (BBJ), komunitas food rescue dan food bank yang kini aktif menyelamatkan makanan berlebih di Yogyakarta.
Bukan Sekadar Bagi-Bagi Makanan Gratis, tapi Mengurangi Sampah
Misi BBJ sebenarnya bukan hanya membagikan makanan gratis kepada yang membutuhkan. Lebih dari itu, mereka mengambil langkah progresif untuk mengurangi sampah makanan. Berbagi Bites Jogja menyelamatkan makanan yang masih layak agar tidak berakhir di tempat sampah.
Ika memulai gerakan ini pada 2024. Pengalamannya sebagai pemilik coffee shop membuatnya melihat langsung bagaimana industri makanan menghasilkan limbah setiap hari, mulai dari sisa bahan baku hingga makanan matang yang tidak habis terjual.
Ia juga gelisah ketika mengetahui Indonesia pernah disebut sebagai salah satu penyumbang sampah makanan terbesar di dunia.
Data Kementerian PPN/Bappenas tahun 2021 menunjukkan Indonesia menghasilkan 23 hingga 48 juta ton sampah makanan setiap tahun. Angka itu bukan cuma soal makanan terbuang, tetapi juga tentang energi, air, dan biaya produksi yang ikut sia-sia.
Di Yogyakarta, masalahnya bahkan lebih konkret. Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLHK DIY, Sjamsu Agung Widjaja, menyebut sisa makanan mendominasi komposisi sampah di DIY dengan angka 53,21 persen.
Artinya, lebih dari separuh sampah di Jogja berasal dari makanan.
Padahal pada 2024, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan sudah ditutup permanen. Situasi itu membuat persoalan sampah di Jogja makin mendesak.
Belajar dari Jakarta dan Bali
Sebelum mendirikan BBJ, Ika sempat berangkat ke Jakarta pada 2023 untuk menjadi relawan di komunitas food rescue dan food bank.
Food rescue adalah upaya menyelamatkan makanan berlebih yang masih layak konsumsi agar tidak dibuang. Sementara food bank adalah sistem distribusi makanan kepada kelompok yang membutuhkan.
Konsep ini sebenarnya sudah lama berkembang di luar negeri dan mulai populer di Jakarta maupun Bali.
“Kalau di Jakarta dan Bali, food rescue dan food bank itu sudah sangat dikenal karena memang itu adalah proyek dari luar negeri yang akhirnya berhasil mengurangi sampah makanan,” ujar Ika, dikutip dari Mojok.co.
Sepulang dari Jakarta, ia diajak membangun gerakan serupa di Jogja. Misinya adalah menghubungkan makanan berlebih dengan orang-orang yang membutuhkan.
Pada praktiknya, praktir tidak sesederhana sebagaimana yang Ika rencanakan.
Makanan Berlebih, Bukan Makanan Sisa
Salah satu tantangan terbesar BBJ adalah soal cara pandang masyarakat tentang makanan yang dibagikan. Oleh karena itu, Ika sengaja menggunakan istilah “makanan berlebih”, bukan “makanan sisa”.
Menurutnya, istilah makanan sisa sering dianggap identik dengan makanan bekas makan orang lain. Padahal, makanan yang diselamatkan BBJ adalah makanan yang belum tersentuh dan masih layak konsumsi.
“Kalau makanan sisa lebih tepatnya bukan untuk kita manusia, tapi misalnya untuk makanan ayam, bebek, kucing dan lain sebagainya,” jelas Ika.
Karena itu, BBJ sangat selektif memilih mitra.
Mereka hanya menerima makanan yang masih memenuhi standar keamanan pangan. Sejauh ini, BBJ telah bekerja sama dengan berbagai pihak seperti Holland Bakery, Artotel Yogyakarta, Sheraton Mustika Yogyakarta Resort & Spa, Royal Ambarrukmo, hingga perusahaan frozen food di Boyolali.
Ada Prosedur Ketat Sebelum Makanan Dibagikan
Setiap Kamis sore, Jumat pagi, atau Minggu, relawan BBJ bergerak mengambil makanan dari hotel, toko roti, restoran, atau acara tertentu.
Makanan tidak langsung dibagikan. Semuanya harus melewati proses pemeriksaan berlapis.
Pihak hotel biasanya lebih dulu memastikan makanan aman. Mereka membersihkan ulang wadah, memanaskan makanan sesuai standar, dan memberi batas waktu konsumsi.
“Mereka juga memberi informasi, kalau makanan harus dikonsumsi tidak boleh lebih dari 3 jam. Jadi tidak boleh disimpan atau dipanaskan sendiri, karena khawatir menimbulkan bakteri lain,” kata Ika.
Setelah proses itu, relawan BBJ masih melakukan pengecekan mandiri menggunakan metode organoleptik. Ini adalah metode pemeriksaan kualitas makanan menggunakan pancaindra.
Relawan mengecek bentuk makanan, mencium aromanya, merasakan teksturnya, lalu mencicipi sedikit untuk memastikan makanan benar-benar layak konsumsi.
“Jadi kami cek bentuknya, kami cek teksturnya, kami cek baunya, dan kami rasakan langsung apakah memang makanan tersebut masih layak atau tidak,” ujar Ika.
Kalau lolos pemeriksaan, barulah makanan didistribusikan.
Penerima manfaat BBJ dari berbagai kalangan, mulai dari panti asuhan, komunitas lansia, hingga mahasiswa rantau.
Ika mengaku cukup sering menemukan mahasiswa yang kesulitan memenuhi kebutuhan makan karena uang saku terbatas. Apalagi, biaya hidup di Jogja juga ikut naik.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


