gol a gong kembali jadi duta baca indonesia 2026 misi besarnya bawa semangat literasi hingga akar rumput - News | Good News From Indonesia 2026

Gol A Gong Kembali Jadi Duta Baca Indonesia 2026, Misi Besarnya Bawa Semangat Literasi hingga Akar Rumput

Gol A Gong Kembali Jadi Duta Baca Indonesia 2026, Misi Besarnya Bawa Semangat Literasi hingga Akar Rumput
images info

Gol A Gong Kembali Jadi Duta Baca Indonesia 2026, Misi Besarnya Bawa Semangat Literasi hingga Akar Rumput


Di tengah tantangan budaya baca yang masih menjadi pekerjaan rumah di Indonesia, nama Gol A Gong kembali dipercaya memegang peran penting dalam gerakan literasi nasional.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia kembali mengukuhkan sastrawan dan pegiat literasi itu sebagai Duta Baca Indonesia 2026 pada Senin, 18 Mei 2026, di Jakarta. Penugasan kembali tersebut menjadi bentuk apresiasi atas kiprah panjangnya menggerakkan budaya baca di berbagai daerah sejak menjabat pada periode 2021–2025.

Bagi banyak komunitas literasi, Gol A Gong bukan sekedar penulis. Ia adalah sosok yang turun langsung ke lapangan, mendatangi taman bacaan, berbincang dengan relawan, hingga menghidupkan ruang membaca di berbagai kota.

Gol A Gong Kembali Jadi Duta Baca Indonesia 2026

Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, E. Aminudin Aziz, mengatakan penugasan kembali Gol A Gong dilakukan untuk melanjutkan misi penguatan budaya baca masyarakat Indonesia.

Menurutnya, gerakan literasi membutuhkan figur yang mampu hadir langsung di tengah masyarakat dan membangun kerja sama lintas komunitas.

Selama menjadi Duta Baca Indonesia, Gol A Gong dinilai aktif melibatkan berbagai unsur, mulai dari Taman Bacaan Masyarakat, komunitas literasi, penulis, hingga dinas perpustakaan daerah.

Menariknya, program Duta Baca Indonesia tahun 2026 dijalankan melalui skema non-APBN. Meski begitu, Perpusnas berharap gerakan literasi tetap berjalan kreatif dan berdampak luas.

Sosok Gol A Gong di Balik Gerakan Literasi Indonesia

Nama asli Gol A Gong adalah Heri Hendrayana Harris. Ia lahir di Purwakarta, Jawa Barat, pada 15 Agustus 1963 dan dikenal luas sebagai penulis, jurnalis, serta pegiat literasi.

Namanya melejit lewat novel legendaris Balada Si Roy, bacaan remaja yang sangat populer pada era 1990-an. Tokoh Roy yang bebas, gemar bertualang, dan dekat dengan dunia anak muda membuat novel itu memiliki tempat tersendiri di hati pembaca Indonesia.

Namun perjalanan hidup Gol A Gong tidak selalu mudah. Saat duduk di bangku sekolah dasar, ia mengalami kecelakaan yang membuat tangan kirinya harus diamputasi. Kondisi itu tidak membuatnya berhenti berkembang. Sang ayah justru mendorongnya untuk rajin membaca, berolahraga, dan berani tampil percaya diri. Dari situlah dunia literasi menjadi jalan hidupnya.

Dari Balada Si Roy hingga Rumah Dunia

Selain menulis buku, Gol A Gong juga mendirikan Rumah Dunia di Serang, Banten. Tempat itu berkembang menjadi ruang kreatif gratis bagi anak-anak dan masyarakat untuk membaca, menulis, belajar teater, hingga berdiskusi tentang sastra.

Kiprahnya di lapangan membuat banyak komunitas literasi merasa dekat dengannya. Ia tidak hanya dikenal lewat karya, tetapi juga lewat konsistensinya mendatangi daerah-daerah yang akses bacanya masih terbatas.

Melalui program Safari Literasi, Gol A Gong berkeliling ke berbagai wilayah Indonesia untuk berbagi buku, mengisi pelatihan menulis, dan menghidupkan semangat membaca di ruang publik.

Misi Besar Gol A Gong untuk Budaya Baca Indonesia

Bagi Gol A Gong, gerakan literasi bukan sekedar program seremonial. Ia percaya budaya membaca harus tumbuh dari kepedulian terhadap masyarakat.

Karena itu, ia tetap bersedia melanjutkan amanah sebagai Duta Baca Indonesia 2026 meski dijalankan secara sukarela.

“Menjadi berguna jauh lebih penting dari sekedar menjadi orang penting,” ucapnya.

Kalimat itu menjadi gambaran cara pandangnya terhadap gerakan literasi yang selama ini ia jalani.

Gol A Gong juga menaruh perhatian besar pada penguatan Relawan Literasi Masyarakat atau Relima. Menurutnya, relawan literasi tidak cukup hanya menjalankan tugas administratif, tetapi juga perlu meningkatkan kapasitas diri, jejaring, dan kemampuan kreatif.

Ia mendorong agar gerakan membaca lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Salah satunya melalui kelas penulisan kreatif, memoir, hingga ruang inspiratif di perpustakaan dan taman bacaan.

Literasi yang Dibawa Lebih Dekat ke Masyarakat

Di era digital, Gol A Gong melihat gerakan literasi juga perlu membangun kedekatan baru dengan publik. Karena itu, penggerak literasi didorong lebih aktif memanfaatkan ruang publik dan media sosial agar budaya membaca terasa lebih akrab, terutama bagi generasi muda.

Pada kesempatan yang sama, ia juga mengungkap rencana kolaborasi penulisan buku bersama para Relima dari berbagai daerah di Indonesia. Buku tersebut ditargetkan terbit pada peringatan Hari Kunjung Perpustakaan, 14 September 2026.

Lewat langkah itu, Gol A Gong ingin gerakan literasi tidak berhenti di seminar atau kampanye sesaat, melainkan hadir sebagai pengalaman nyata yang tumbuh dari masyarakat sendiri.

Di tengah derasnya arus informasi hari ini, sosok seperti Gol A Gong mengingatkan bahwa membaca bukan sekedar kebiasaan, melainkan jalan panjang untuk membangun cara berpikir, empati, dan masa depan bangsa.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Meita Astaningrum lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Meita Astaningrum.

MA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.