harta karun dari sarang lebah tanpa sengat ternyata bisa jadi produk antikanker - News | Good News From Indonesia 2026

Harta Karun dari Sarang, Lebah Tanpa Sengat Ternyata Bisa Jadi Produk Antikanker

Harta Karun dari Sarang, Lebah Tanpa Sengat Ternyata Bisa Jadi Produk Antikanker
images info

Foto oleh Meggyn Pomerleau di Unsplash


Pemanfaatan keanekaragaman hayati Indonesia kembali mencatat temuan di sektor pangan fungsional dan kesehatan.

Selama ini, madu dari lebah tanpa sengat (stingless bee) atau yang akrab dikenal sebagai madu klanceng populer karena kandungan senyawa bioaktifnya yang tinggi.

Namun, riset terbaru menunjukkan bahwa manfaat madu ini tidak hanya berasal dari cairan manisnya, melainkan dari mikroorganisme probiotik yang hidup di dalam madu dan bee pollen tersebut.

Tim peneliti Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengidentifikasi bakteri asam laktat probiotik dari tujuh spesies lebah tanpa sengat asal Yogyakarta dan Sumbawa.

Spesies yang diteliti meliputi Heterotrigona itama, Tetragonula laeviceps, Tetragonula clypearis, Tetragonula sarawakensis, Lepidotrigona terminata, Tetragonula drescheri, dan Tetragonula biroi.

Hasil eksplorasi ini bahkan telah resmi mengantongi nomor pendaftaran paten S00202605018 serta dipublikasikan dalam jurnal internasional Antonie van Leeuwenhoek dan International Microbiology.

Peneliti PRTPP BRIN, Ema Damayanti, menjelaskan bahwa isolat bakteri asam laktat yang ditemukan dari madu lokal ini memiliki daya tahan yang kuat di dalam saluran pencernaan manusia.

Mikroorganisme ini menunjukkan berbagai aktivitas biologis penting yang sangat baik, mulai dari kemampuan antibakteri, antioksidan, hingga potensi besar sebagai kandidat pangan fungsional masa depan.

 

Pemetaan Genom dan Mekanisme Penangkal Penyakit

Dari sekian banyak mikroorganisme yang diisolasi, tim peneliti menyaring tujuh isolat terbaik berdasarkan kemampuannya dalam menghambat pertumbuhan bakteri patogen.

Guna membedah potensinya secara mendalam, isolat unggulan ini dianalisis menggunakan teknologi whole genome sequencing (WGS) serta pengujian metabolomik berbasis UHPLC-HRMS.

Langkah identifikasi mendetail ini berhasil mengonfirmasi bahwa jenis bakteri tersebut adalah Lacticaseibacillus rhamnosus dan Pediococcus acidilactici.

Pengujian laboratorium membuktikan bahwa bakteri hasil isolasi ini mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen berbahaya seperti Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan Pseudomonas aeruginosa.

Kemampuan ini menjadi menarik karena isolat probiotik tersebut sekaligus mencegah pembentukan biofilm, yakni lapisan pelindung bakteri patogen yang sering kali memicu resistensi terhadap pengobatan medis.

Selain fungsi antibakteri, uji klinis skala laboratorium menunjukkan adanya aktivitas antikanker yang kuat terhadap lini sel kanker kolon WiDr.

Bakteri ini juga mencatatkan nilai antioksidan tinggi melalui pengujian DPPH, ABTS, dan FRAP, serta menunjukkan aktivitas penghambatan enzim $\alpha$-amilase.

Karakteristik terakhir ini menjadi poin krusial karena berkaitan langsung dengan kemampuan mengendalikan kadar gula darah, yang membuka peluang pengembangan produk suplemen bagi penderita diabetes.

 

Hilirisasi Riset Menuju Skala Industri

Keberhasilan memetakan struktur mikroorganisme ini didorong oleh analisis genom lanjutan yang mengungkap keberadaan biosynthetic gene clusters (BGCs). Klaster gen ini bertanggung jawab penuh dalam memproduksi berbagai senyawa bioaktif alami, termasuk bakteriosin yang berfungsi sebagai antimikroba alami.

Integrasi antara pendekatan genomik dan metabolomik memberikan pemahaman yang utuh mengenai mekanisme biologis dari probiotik lokal asli Nusantara.

Besarnya potensi biodiversitas lebah tanpa sengat di Indonesia pun memerlukan upaya nyata untuk membawa formula laboratorium ini ke sektor industri riil.

Pemanfaatan kekayaan hayati berbasis riset ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing nasional di bidang industri pangan sehat dan nutribiotik, sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor.

Tahapan riset selanjutnya akan difokuskan pada proses formulasi produk serta uji aplikasi langsung pada pangan fermentasi maupun suplemen komersial.

Rangkaian pengujian lanjutan ini tetap diperlukan guna memastikan aspek keamanan, stabilitas produk, serta efektivitas bakteri probiotik saat diproduksi massal dalam skala industri.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.