pengguna media sosial indonesia meningkat perilaku sedentari menguat adakah hubungan - News | Good News From Indonesia 2026

Pengguna Media Sosial Indonesia Meningkat, Perilaku Sedentari Menguat: Adakah Hubungan?

Pengguna Media Sosial Indonesia Meningkat, Perilaku Sedentari Menguat: Adakah Hubungan?
images info

Foto oleh Anubha Walia di Unsplash


Kawan GNFI, We are Social melaporkan bahwa per Oktober 2025, angka identitas pengguna media sosial di Indonesia mencapai 180 juta pengguna. Jumlah tersebut setara dengan 62,9% dari total populasi.

Hal yang menarik lagi, 88,9% dari pengguna media sosial berusia 18 tahun ke atas, artinya didominasi oleh penduduk berusia remaja akhir hingga dewasa.

Adapun durasi penggunaan media sosial di Indonesia per minggunya mencapai 21 jam 50 menit atau sekitar lebih dari 3 jam per hari.

Angka ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia bergantung yang tinggi terhadap media sosial, terlebih WhatsApp, Instagram, Facebook, YouTube, dan TikTok.

Ini artinya, media sosial berperan penting dalam kehidupan sehari-hari. Keberadaan media sosial telah membantu memberikan kemudahan dalam menjalankan aktivitas keseharian lewat fitur yang ditawarkan.

Dengan demikian, saat ini media sosial tidak hanya dikonsumsi sebatas penggunaan pribadi, melainkan berkembang menjadi wadah digital bagi kepentingan profesional.

Hal tersebut membuat media sosial mampu mendorong perilaku sedentari. Fenomena ini menjadi pembahasan menarik karena menyangkut perubahan intensitas aktivitas fisik harian dengan faktor risiko penyakit. Untuk memahami lebih lanjut, mari simak tulisan berikut ini!

Apa itu Perilaku Sedentari?

Kawan GNFI, berdasarkan penjelasan yang diberikan oleh Sedentary Behaviour Research Network (SBRN), perilaku sedentari merupakan perilaku di luar aktivitas tidur (terjaga) seperti duduk maupun bersandar dengan energi yang dikeluarkan ≤ 1,5 MET (Metabolic Equivalent Task). Penjelasan tersebut merujuk pada minimnya aktivitas fisik yang dilakukan oleh seseorang.

Ainsworth dkk. sebagaimana dikutip oleh Park dkk. dalam Korean Journal of Family Medicine (2020) menjelaskan bahwa aktivitas fisik manusia dapat diklasifikasikan menjadi empat: (1) Perilaku Sedentari (1–1,5 MET), (2) Aktivitas dengan intensitas ringan (1,6–2,9 MET), (3) Aktivitas dengan intensitas sedang (3–5,9 MET), dan (4) Aktivitas dengan intensitas berat (≥ 6 MET).

Tanpa Kawan sadari, sebenarnya perilaku ini seringkali dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saja, duduk di sekolah atau kerja, menonton televisi, menggunakan komputer/laptop, dan scrolling media sosial berjam-jam.

Hubungan Penggunaan Media Sosial dengan Perilaku Sedenter

Kawan GNFI, seringkali kita menghabiskan waktu lama dalam menggunakan media sosial. Kemudahan dalam mendapatkan hiburan dan informasi serta menjalin komunikasi membuat kita sulit untuk tidak bergantung. Meskipun demikian, patut diwaspadai bahwa penggunaan media sosial dapat mendorong perilaku sedentari.

Berdasarkan hasil penelitian Putri dkk. yang dimuat dalam General Nursing Science Journal (2026) terhadap siswa SMP di Garut, terdapat hubungan antara penggunaan media sosial dengan perilaku sedenter.

Dalam tulisan tersebut disebutkan bahwa platform seperti Tiktok berdampak signifikan terhadap peningkatan perilaku sedenteri di kalangan siswa SMP.

Sementara itu, Etika dkk. dalam jurnal Holistic Nursing and Health Science (2023) memberikan hasil di kalangan mahasiswa kesehatan di salah satu universitas di Kediri. Berdasarkan penelitian tersebut, diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara waktu penggunaan media sosial serta jumlah kepemilikan akun terhadap perilaku sedentar.

Kedua hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara penggunaan media sosial dengan sedenter, khususnya di usia remaja hingga dewasa awal.

Dampak dari Perilaku Sedentari

Kawan GNFI, perilaku sedentari yang terbentuk akibat penggunaan media sosial maupun, dalam konteks yang lebih luas, aktivitas sehari-hari, seperti belajar maupun bekerja dapat meningkatkan risiko terhadap penyakit.

Hal ini disebabkan oleh karena tubuh kita kekurangan aktivitas fisik dan terlalu lama terpapar sinar biru dari perangkat elektronik yang dimiliki.

Kembali merujuk pada tulisan Park dkk., perilaku sedentari punya korelasi dengan sejumlah penyakit kronis. Seseorang dengan aktivitas fisik yang rendah berisiko yang lebih tinggi mengalami penyakit seperti obesitas, hipertensi, diabetes melitus, kardiovaskular, tulang dan otot, bahkan terhadap kanker.

Namun, ada hal menarik tentang perilaku sedentari dengan faktor risiko depresi. Dalam tulisan tersebut, diketahui bahwa apabila perilaku sedenter tersebut bersifat pasif (seperti menonton televisi, mendengarkan lagu, dan duduk) memiliki korelasi dengan risiko depresi.

Sementara itu, apabila perilaku sedenter tersebut bersifat aktif, seperti merajut, membaca buku, menyimak rapat, bahkan mengemudi, tidak punya korelasi yang signifikan terhadap risiko depresi—hal ini juga disampaikan oleh Kristanto dan Rahman dalam Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia (2026) tentang hubungan perilaku sedenter dengan kesejahteraan mahasiswa.

Meskipun terdapat aktivitas sedenter yang bersifat positif, tetapi bukan berarti Kawan GNFI dapat menjadikannya sebagai pembenaran mutlak.

baca juga

Lalu, Bagaimana Menyikapinya?

Kawan GNFI, di era digital saat ini, perilaku sedentari seperti tidak bisa kita hindari. Penggunaan media sosial tanpa batas turut memperkuat perilaku tersebut. Oleh karenanya, penting bagi Kawan semua untuk mulai mengambil tindakan.

Dalam konteks penggunaan media sosial, Kawan dapat mulai membatasi frekuensi penggunaan media sosial. Dilansir dari laman American Medical Association (AMA), Kawan dapat menyetel batas waktu penggunaan dan mematikan notifikasi aplikasi untuk mencegah distraksi.

Selain itu, dapat pula menggunakan aplikasi bantuan untuk memantau dan mencatat aktivitas digital sehari-hari, seperti yang dituliskan dalam situs The Conversation. Bahkan dalam kasus tertentu, dapat melakukan detoks media sosial.

Kemudian, Kawan juga dapat memulai melakukan aktivitas fisik untuk meningkatkan intensitas gerak fisik. Penerapannya dapat dilakukan dari aktivitas fisik ringan terlebih dahulu dan dilakukan secara perlahan untuk membangun ritme dan kebiasaan baru.

Selain itu, dapat pula mengambil peregangan setelah duduk maupun rebahan untuk merenggangkan otot. Dengan demikian, Kawan GNFI dapat mencukupi kebutuhan aktivitas fisik harian.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

ZA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.