gugatan jati diri perempuan dalam novel belenggu masih relate kah sekarang - News | Good News From Indonesia 2026

Gugatan Jati Diri Perempuan dalam Novel Belenggu: Masih Relate-kah Sekarang?

Gugatan Jati Diri Perempuan dalam Novel Belenggu: Masih Relate-kah Sekarang?
images info

Sumber : Pexels.com @Raditya Amoret


Saat pertama kali ditulis oleh Armijn Pane pada tahun 1940, novel Belenggu sempat memicu keadaan, sehingga ditolak mentah-mentah oleh penerbit Balai Pustaka. Novel ini mengisahkan sebuah cinta segitiga antara tokoh Tono, Tini, dan Rohayah.

Pada zamannya, latar belakang Rohayah dan sikap pemberontak Tini di cap “Amoral”. Namun, ketika kita membaca dengan kacamata modern, justru menyimpan sebuah gugatan yang sangat progresif, yaitu dekonstruksi peran perempuan. Akhirnya novel ini hidup lewat majalah Poedjangga Baroe dan dicetak pada pasca kemerdekaan 1949.

Melalui karakter Tini, Armijn Pane dengan berani mematahkan mitos “perempuan ideal” masa itu yang selalu diidentikkan dengan sosok wanita yang lemah lembut, penurut, dan manis. Bertolak belakang dengan tokoh Tini yang hadir sebagai perempuan yang mandiri, tegas, dan aktif di ranah publik, meski banyak masyarakat yang memandang bahwa Tini gagal dalam urusan keluarga.

baca juga

Di sinilah Belenggu mulai menggugat: apakah harga diri seorang perempuan hanya sebatas statusnya sebagai istri?

Bagi Tini, sebuah pernikahan bukanlah sebuah kekangan yang merenggut otonomi dirinya. Pergolakan batinnya dalam menolak peran tradisional sebagai pelayan domestik di rumah sendiri tergambar dari keengganannya didikte oleh pakem lama.

Dia menolak menghabiskan energinya hanya untuk mengurus hal-hal sepele seperti menyiapkan sandal atau mencatat telepon pasien suaminya.

Tini menuntut ruang eksistensi untuk aktif di organisasi sosial, sebuah pilihan yang di masa itu dianggap sebagai bentuk kelalaian seorang istri.

Kenyamanan emosional yang ditemukan Tono pada Rohayah perlahan membuatnya menjauh dari keluarga. Perubahan ini memicu kecurigaan Tini hingga akhirnya ia nekat menemui Rohayah secara langsung. Pertemuan tersebut melahirkan kesadaran baru bagi Tini. Alih-alih bertahan dalam pernikahan yang hambar, ia memilih pergi ke Surabaya untuk memimpin rumah piatu dan memulai lembaran hidup baru yang lebih bahagia.

Melampaui waktu delapan dasawarsa sejak novel Belenggu kali pertama terbit, fenomena “perempuan yang keluar dari ranah domestik” layaknya tokoh Tini bukan lagi sebuah anomali yang luar biasa, melainkan potret massal yang kita lihat setiap hari di kota-kota besar seperti Jakarta.

Pemberontakan batin yang disuarakan Tini menemui artikulasi nyatanya yang paling personal dan tragis pada potret malam hari di gerbong khusus wanita kereta pelaju kita. Wanita masa kini tidak lagi sebatas tinggal diam mengurus rumah tangga, mereka adalah para pencari nafkah dan tulang punggung finansial yang mempertaruhkan diri di ranah publik hingga pengujung malam.

baca juga

Tatkala malapetaka tubrukan kereta melanda dan mengoyak gerbong khusus wanita, peristiwa tersebut tidak lagi sekadar menempati manifes kecelakaan transportasi. Tragedi itu menjelma menjadi lambang yang menggetarkan kesadaran kita mengenai besarnya risiko lahiriah dan batiniah yang wajib ditebus oleh perempuan urban demi mempertahankan independensi dirinya. Kompartemen yang hancur dan dipenuhi jerit cekam para perempuan yang didera keletihan sepulang kerja, ialah bukti ikonis bahwa kaum perempuan kini berada di garda depan kerasnya kehidupan publik.

Standar ganda peninggalan era 1940 masih membayangi perempuan masa kini yang mandiri. Di satu pihak mereka dituntut berprestasi di luar rumah, tetapi di pihak lain, karier dan kepulangan mereka yang larut malam langsung dituding sebagai penyebab runtuhnya rumah tangga.

Membaca ulang Belenggu dalam konteks dinamika sosial kontemporer, menegaskan sebuah fakta bahwa emansipasi yang diperjuangkan Tini belum mencapai titik akhir. Agenda perempuan untuk meraih kedaulatan diri yang seutuhnya, lepas dari subordinasi domestik dan aman dari kerentanan di ruang publik masih merupakan manifes pergerakan yang panjang, melelahkan, dan melintasi zaman.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MW
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.