ketika tiktok menjadi standar kehidupan apa yang hilang - News | Good News From Indonesia 2026

Ketika TikTok menjadi Standar Kehidupan, Apa yang Hilang?

Ketika TikTok menjadi Standar Kehidupan, Apa yang Hilang?
images info

Foto oleh Zulfugar Karimov di Unsplash


Saat ini, media sosial, terutama TikTok, menjadi tempat kita mencari berbagai referensi, mulai dari gaya hidup, keuangan, hubungan, hingga cara menjalani kehidupan.

Melalui layar yang berada dalam genggaman, kita dapat mengetahui perspektif orang lain hanya dalam hitungan detik.

Kemudahan tersebut tentu membawa banyak manfaat. Kita dapat belajar dari pengalaman orang lain tanpa harus mengalami sendiri.

Akan tetapi, persoalan muncul ketika referensi yang kita lihat perlahan berubah menjadi standar yang perlu diikuti.

Ada perubahan pola pikir dari, “Apa yang dapat saya pelajari dari konten ini?”, menjadi, “Mengapa hidup saya tidak seperti itu?”

baca juga

Standar TikTok

Beberapa waktu lalu, seorang pria membuat unggahan yang berbunyi, “Cari calon istri yang bisa kunafkahi Rp3 juta per bulan.” Unggahan tersebut mendapatkan beragam reaksi, meskipun banyak di antaranya berupa ejekan dan caci maki. Ada pula beberapa orang yang mencoba membesarkan hati pria tersebut.

Setiap orang tentu berhak menyampaikan pendapat. Sebagian komentar yang muncul terasa seperti upaya memaksakan standar kehidupan pribadi kepada orang lain.

Salah seorang netizen, misalnya, mengatakan bahwa uang Rp3 juta hanya cukup untuk satu kali perawatan hewan peliharaannya.

Pernah pula beredar kisah di media sosial tentang keretakan rumah tangga yang dikaitkan dengan tuntutan gaya hidup. Sang istri dikabarkan meminta nafkah Rp15 juta per bulan karena merasa pemberian Rp7 juta belum mencukupi.

Terlepas dari lengkap atau tidaknya cerita tersebut, kisah tersebut memperlihatkan satu persoalan penting, yaitu konten yang kita lihat di media sosial dapat mempengaruhi cara kita menilai kehidupan.

Tentu tidak semua pengguna media sosial mengalami hal serupa. Kita tetap perlu mencermati bagaimana TikTok dan platform lainnya membentuk pandangan kita mengenai banyak hal, terutama gaya hidup.

Bahkan, Sosiolog Sry Lestari Samosir mengatakan bahwa ini adalah bentuk penjajahan baru yang bersumber dari gaya hidup yang membuat orang semakin terbelenggu dan kehilangan arah.

Terlebih, konten yang mendapatkan banyak tanda suka, komentar, dan dibagikan berulang kali sering dianggap mewakili kebenaran bersama. Padahal, sebuah konten dapat menjadi ramai bukan karena benar atau relevan, melainkan karena kontroversial, menghibur, atau berhasil memancing emosi.

baca juga

Tiga Hal yang Hilang

Apabila fenomena “standar TikTok” diikuti secara masif, ada tiga hal yang berpotensi hilang dari diri kita.

  1. Self-awareness. Kita sering lupa bahwa konten yang ditampilkan di media sosial telah melalui proses pemilihan dan penyuntingan. Apa yang kita lihat hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Misalnya soal kaya dengan cepat, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya ke dalam diri, 

    1. Apakah definisi kesuksesan tersebut sesuai dengan nilai yang kita yakini? 

  • Apakah jalannya relevan dengan keadaan kita? 

  • Kemampuan berpikir kritis. Tidak semua konten dibuat berdasarkan informasi yang kontekstual. Misalnya, konten yang berdasarkan pengalaman pribadi, belum tentu sesuai dengan konteks realita kita. Kita perlu mempertanyakan beberapa hal: 

    1. Siapa yang menyampaikan informasi ini? 

    2. Apakah konteksnya sama dengan kehidupan saya?

  • Apa dampaknya apabila saya mengikuti saran tersebut?

  • Empati. Banyak standar yang berkembang di TikTok berpusat pada pencapaian material, seperti besarnya penghasilan sampai gaya hidup tertentu. Kondisi ekonomi memang penting, terutama ketika seseorang hendak membangun keluarga. Namun, ekonomi bukan satu-satunya ukuran nilai manusia. Ada tanggung jawab, kemauan bertumbuh, kejujuran, kesetiaan, dan ketekunan yang juga perlu diperhitungkan.

  • Seseorang yang hari ini berada di bawah belum tentu akan selamanya berada di sana. Sebaliknya, kita yang sedang merasa berada di atas juga tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang akan terjadi beberapa tahun mendatang. Alhasil, lebih baik kita bermawas diri dan bersikap suportif pada hal-hal yang baik.

    baca juga

    Mencari Wisdom di luar TikTok

    Media sosial dapat digunakan sebagai sumber referensi, tetapi sebaiknya tidak dijadikan rujukan utama dalam menentukan arah kehidupan. Kebijaksanaan tidak lahir dari menonton video berdurasi tiga menit, tetapi tumbuh melalui refleksi, pengalaman, serta kesediaan untuk belajar dari kehidupan.

    Dalam konteks pernikahan, misalnya, kita dapat memperbanyak diskusi dengan orang-orang yang telah melalui berbagai lika-liku kehidupan rumah tangga.

    Kita dapat belajar dari mereka yang memiliki kematangan spiritual, emosional, intelektual, dan finansial agar kita mendapatkan kebijaksanaan yang menyeluruh.

    Podcast atau konten berdurasi panjang juga dapat menjadi rujukan karena memberikan ruang yang lebih luas untuk memahami konteks. Akan tetapi, durasi panjang pun tidak otomatis menjamin kebenaran. Kuncinya tetap ada pada diri kita, bagaimana setiap informasi tetap perlu diperiksa dan disesuaikan dengan nilai serta keadaan kita sendiri.

    Hal terpenting adalah memperkuat kemampuan untuk menyaring konten. Tidak semua konten layak ditonton sampai selesai. Tidak semua pendapat perlu disimpan dalam pikiran. Tidak semua kehidupan perlu dibandingkan dengan kehidupan kita. Tidak semua yang ramai di media sosial adalah sesuatu yang benar.

    Ketika media sosial berubah menjadi standar kehidupan, yang hilang bukan hanya rasa puas. Kita juga berisiko kehilangan kemampuan untuk mengenali diri sendiri, menilai informasi secara jernih, dan memandang orang lain dengan empati.

    Media sosial seharusnya membantu kita melihat dunia dengan lebih luas, bukan membuat kita merasa bahwa hanya ada satu cara yang benar untuk menjalani kehidupan.

    Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

    Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

    RR
    KG
    Tim Editorarrow

    Terima kasih telah membaca sampai di sini

    🚫 AdBlock Detected!
    Please disable it to support our free content.