lestarikan ekosistem danau toba ratusan siswa sma santo thomas 2 medan hijaukan simalungun dan toba - News | Good News From Indonesia 2026

Lestarikan Ekosistem Danau Toba, Ratusan Siswa SMA Santo Thomas 2 Medan Hijaukan Simalungun dan Toba

Lestarikan Ekosistem Danau Toba, Ratusan Siswa SMA Santo Thomas 2 Medan Hijaukan Simalungun dan Toba
images info

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaaan; Ricky L.Sitorus, S.Pd. bersama Ketua Fasilitator : Vrywanti Sitanggang, M.Pd menyerahkan dan melakukan tanam


Upaya menumbuhkan kesadaran ekologis generasi muda terus digelorakan dari bangku sekolah. Setelah melaksanakan studi lapangan sehari sebelumnya, sebanyak 368 siswa kelas X SMA Swasta Santo Thomas 2 Medan kembali terjun ke alam untuk melaksanakan projek kokurikuler akhir semester genap tahun ajaran 2025/2026.

Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (12/6/2026) ini menyasar dua kabupaten di kawasan super prioritas Danau Toba, yakni Kabupaten Simalungun dan Kabupaten Toba, Sumatra Utara.

Melalui aksi nyata penanaman pohon dan gotong royong, para siswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga langsung mempraktikkan mitigasi krisis iklim di lapangan.

Kepala SMA Swasta Santo Thomas 2 Medan, Suster Oratna Sembiring, M.Pd., SCMM., menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian integral dari asesmen kokurikuler. Untuk mengukur efektivitasnya, sekolah menerapkan sistem penilaian yang ketat melalui indikator capaian serta pelaksanaan pretest dan posttest pascakegiatan.

"Kami ingin memastikan pembelajaran ini membekas. Bersekolah bukan sekadar mengejar angka di atas kertas, melainkan bagaimana membentuk karakter yang peduli pada lingkungan hidup. Danau Toba adalah permata Sumatra Utara yang harus dijaga oleh generasi masa depan," ujar Suster Oratna saat mendampingi langsung Kelompok 1 di Simalungun.

baca juga

Keberangkatan rombongan besar ini dimulai sejak pagi buta, tepat pukul 06.00 WIB dari Kota Medan. Guna efektivitas pergerakan dan meminimalkan dampak penumpukan di lokasi, panitia membagi para siswa ke dalam tiga kelompok besar dengan lokus kegiatan yang berbeda.

Kehadiran para siswa disambut hangat oleh Kepala Desa Togu Domu Nauli, Joel Manalu. Di kawasan perbukitan yang jamak menjadi jujukan wisatawan tersebut, siswa menanam bibit pohon buah seperti kelengkeng, jambu, dan mangga. Diharapkan, apa yang ditanam dapat memberikan dampak ekologis sekaligus ekonomi bagi warga lokal di kemudian hari.

Reyhan Nababan, siswa kelas X KN 2 yang tergabung dalam Kelompok 1, mengaku mendapat pengalaman berharga yang tidak ditemukan di dalam ruang kelas. Menurutnya, memegang tanah dan menanam bibit pohon memberinya perspektif baru tentang arti penting merawat alam.

"Biasanya kami hanya melihat materi tentang reboisasi di proyektor kelas. Hari ini, saat mencangkul dan meletakkan bibit kelengkeng ke tanah, saya sadar bahwa satu pohon yang kami tanam hari ini adalah napas bagi masa depan," kata Reyhan penuh antusias.

Kesan serupa disampaikan oleh Bumi Januar Sebayang, siswa kelas X KN 6. Ia merasa bangga bisa berkontribusi langsung bagi pelestarian kawasan tangkapan air Danau Toba yang posisinya sangat vital bagi ekosistem sekitar.

Sementara itu, Kelompok 2 berkonsentrasi di Kabupaten Toba, tepatnya di Desa Parsaoran, Sibisa, dan Geopark Kaldera, Kecamatan Ajibata.

Aksi lingkungan Kelompok 2 ini dihadiri langsung oleh Camat Ajibata Mangapul Roha Manurung dan Kepala Desa Parsaoran Agus Nadapdap. Sinergi lintas sektor terlihat jelas karena bibit pohon yang ditanam para siswa disediakan langsung oleh Dinas Kehutanan melalui BPDASHL (Badan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung) Wilayah Asahan Barumun.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Ricky L. Sitorus, S.Pd., yang mendampingi Kelompok 2, menekankan pentingnya aksi gotong royong yang dilakukan siswa bersama masyarakat setempat. Menurutnya, kedisiplinan dan kepedulian sosial adalah dua pilar penting dalam membentuk karakter siswa.

baca juga

"Selain menanam pohon, anak-anak juga melakukan aksi bersih lingkungan atau gotong royong. Kami ingin menanamkan sense of belonging (rasa memiliki) terhadap fasilitas publik dan alam. Ketika mereka pulang, mereka membawa pulang paradigma baru tentang kebersihan," tutur Ricky.

Vasto Girsang, siswa kelas X KN 8 yang ikut dalam aksi di Ajibata, menyatakan bahwa lelah akibat perjalanan jauh langsung sirna begitu melihat keindahan Geopark Kaldera. Ia bersama timnya merasa tertantang untuk menjaga keasrian lokasi tersebut.

Tidak kalah berbobot, Kelompok 3 yang beranggotakan 135 siswa menggelar kegiatannya di Desa Lumbanrangrang, Sionggang Utara, Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba. Dipandu Ketua Fasilitator Linda Nova Simalango, S.T., kelompok ini berkesempatan menimba ilmu langsung dari pakar lingkungan hidup.

Narasumber utama mereka adalah Marandus Sirait, tokoh legendaris penerima penghargaan Kalpataru tahun 2005 kategori Penyelamat Lingkungan.

Marandus dikenal luas atas dedikasinya menghijaukan puluhan hektare hutan lindung gundul di sekitar Danau Toba, yang kini bertransformasi menjadi kawasan ekowisata populer, Taman Eden 100.

Di hadapan ratusan siswa, Marandus memberikan sosialisasi mendalam mengenai teknik penanaman pohon yang benar, fungsi hidrologis hutan, hingga cara merawat hutan lindung agar terhindar dari kerusakan jangka panjang. Setelah sesi teori, para siswa diajak melakukan praktik langsung penanaman di area kritis.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum yang juga bertindak sebagai Koordinator Kokurikuler SMA Santo Thomas 2 Medan, Sanny D.M. Samosir, S.Pd., M.M., menjelaskan bahwa pelibatan tokoh sekaliber Marandus Sirait bertujuan untuk memberikan inspirasi nyata (role model) bagi peserta didik.

baca juga

"Kami mendesain kurikulum kokurikuler ini agar kontekstual. Mendengar langsung kisah perjuangan seorang penerima Kalpataru menanam pohon selama puluhan tahun akan menyentuh sisi humanis dan akademis siswa secara bersamaan. Ini adalah asesmen autentik yang bernilai tinggi," urai Sanny.

Rangkaian kegiatan intensif yang berlangsung hingga sore hari tersebut berjalan dengan lancar dan tertib. Seluruh guru pendamping dan wali kelas memastikan setiap tahapan, mulai dari keberangkatan, pelaksanaan aksi di tiga titik berbeda, hingga pengerjaan lembar asesmen posttest, diselesaikan dengan baik oleh seluruh siswa.

Melalui kegiatan belajar di alam ini, SMA Swasta Santo Thomas 2 Medan menegaskan komitmennya dalam mendukung kelestarian lingkungan global yang dimulai dari aksi lokal. Ratusan batang pohon yang tertanam di Simalungun dan Toba hari itu, menjadi bukti bahwa pendidikan karakter berbasis ekologi bukan lagi sebuah opsi, melainkan urgensi.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.