AIESEC in Universitas Jember (UNEJ) kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan kepemimpinan generasi muda melalui penyelenggaraan Kawula17 Goes To School di Aula SMKN 1 Glagah, Banyuwangi. Mengusung tema "Environmental Issues in Banyuwangi", kegiatan ini diikuti oleh 120 pelajar SMA/sederajat dengan tujuan mengembangkan kemampuan berpikir kritis serta membangun kesadaran terhadap berbagai isu lingkungan yang ada di sekitar mereka.
Kawula17 Goes To School merupakan program yang dirancang untuk mendorong pelajar agar tidak hanya memahami permasalahan lingkungan secara teoritis, tetapi juga mampu mengidentifikasi akar permasalahan, menganalisis berbagai sudut pandang, serta merumuskan solusi yang dapat diterapkan di masyarakat. Melalui pendekatan pembelajaran yang interaktif dan berbasis pengalaman (experiential learning), peserta diajak menjadi bagian dari proses penyelesaian masalah sekaligus dipersiapkan sebagai generasi muda yang mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan berkelanjutan dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Kegiatan diawali dengan sambutan dari Kepala SMKN 1 Glagah, Tofik Santoso, S.T., M.Pd., yang menyampaikan apresiasinya terhadap kolaborasi antara AIESEC in UNEJ dan berbagai komunitas lingkungan dalam menghadirkan ruang belajar yang relevan bagi pelajar. Menurutnya, isu lingkungan menjadi salah satu tantangan yang perlu dipahami sejak dini agar generasi muda mampu berperan aktif dalam menjaga keberlanjutan lingkungan di masa depan.
Setelah sesi pembukaan, peserta mengikuti pengenalan program yang dilanjutkan dengan sesi berbagi bersama tiga community partner, yaitu Banyuwangi Osoji Club, Eco Bhinneka Muhammadiyah Banyuwangi, dan Green Jasmine 2841. Ketiga komunitas tersebut memperkenalkan berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi Banyuwangi, mulai dari pengelolaan sampah, eksploitasi sumber daya alam, hingga berbagai tantangan lingkungan lainnya yang membutuhkan keterlibatan masyarakat, khususnya generasi muda.
Kawula17 Goes To School mengajak peserta terlibat secara aktif melalui serangkaian sesi diskusi berbasis design thinking. Setelah mendapatkan gambaran mengenai berbagai isu lingkungan, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok dengan fokus pembahasan yang berbeda-beda. Setiap kelompok kemudian menggunakan metode 5 Whys untuk mengidentifikasi akar penyebab dari isu yang mereka bahas, sebelum melanjutkan ke proses stakeholder mapping guna mengenali berbagai pihak yang terlibat maupun terdampak oleh permasalahan tersebut.
Sebagai bagian dari proses pembelajaran, para peserta juga melakukan sesi wawancara bersama community partner yang memiliki pengalaman sesuai dengan isu yang sedang mereka kaji. Hasil wawancara tersebut kemudian menjadi dasar dalam menyusun analisis, merumuskan kebutuhan masyarakat melalui pendekatan How Might We, hingga mengembangkan berbagai ide solusi yang relevan dan aplikatif.
Tidak berhenti pada tahap diskusi, setiap kelompok diberi kesempatan untuk mempresentasikan hasil analisis dan solusi yang telah mereka susun di hadapan peserta lainnya. Sesi presentasi ini menjadi ruang bagi para pelajar untuk melatih kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kerja sama tim, serta keberanian dalam menyampaikan gagasan di depan publik. Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi penghargaan (Rewards and Recognition) sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi aktif seluruh peserta selama kegiatan berlangsung.
OC President Kawula17 Goes To School, Niya Asri Rahayu, menyampaikan bahwa kegiatan ini lahir dari keyakinan bahwa perubahan dapat dimulai dari keberanian generasi muda untuk mengambil peran di lingkungan sekitarnya.
"Di Banyuwangi, kami melihat bahwa perubahan lahir ketika orang muda berani mengambil peran. Melalui Kawula Goes to School, para peserta tidak hanya diajak memahami berbagai isu lingkungan, tetapi juga menantang diri untuk berpikir kritis, berkolaborasi, dan mengubah ide menjadi aksi nyata. Kami percaya bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan bersama dapat menciptakan dampak yang lebih besar. Semoga semangat yang tumbuh hari ini terus berkembang menjadi gerakan positif yang membawa perubahan bagi lingkungan dan masyarakat," ungkap Niya.
Senada dengan hal tersebut, Zahratul Jannah dari Eco Bhinneka Muhammadiyah Banyuwangi mengapresiasi inisiatif AIESEC in UNEJ dalam menghadirkan ruang edukasi lingkungan bagi para pelajar.
"Menurut saya acaranya keren, karena memang anak-anak muda perlu mendapatkan edukasi mengenai isu-isu lingkungan. Pada merekalah masa depan lingkungan ini kita titipkan. Alam bukan warisan dari nenek moyang, tetapi titipan untuk generasi berikutnya. Karena itu, generasi muda harus menjadi agent of change. Saya juga merasa nama 'Kawula' sangat sesuai dengan semangat yang dibawa, karena isu lingkungan memang harus terus disuarakan oleh generasi emas Indonesia. Harapannya, kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak sekolah, mengingat wilayah Banyuwangi juga sangat luas," ujarnya.
Melalui Kawula17 Goes To School, AIESEC in UNEJ berharap para pelajar tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai isu lingkungan, tetapi juga memiliki keberanian untuk menganalisis permasalahan di sekitar mereka, berkolaborasi dengan berbagai pihak, serta menciptakan solusi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Lebih dari sekadar kegiatan edukasi, program ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan pola pikir kritis, kepemimpinan, dan kepedulian sosial sebagai bekal dalam menghadapi berbagai tantangan global di masa depan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


