ketika hip hop bertemu kendang cara jenius anak muda merayakan identitas lokal di era globalisasi - News | Good News From Indonesia 2026

Ketika Hip-hop Bertemu Kendang: Cara Jenius Anak Muda Merayakan Identitas Lokal di Era Globalisasi

Ketika Hip-hop Bertemu Kendang: Cara Jenius Anak Muda Merayakan Identitas Lokal di Era Globalisasi
images info

Instagram @naykillaaa


NDX A.K.A., Tenxi dan Naykilla merupakan nama yang saat ini tidak asing lagi di telinga anak muda Indonesia. Nama-nama tersebut merupakan para musisi Indonesia yang membawa genre musik hipdut. Lagu yang dinyanyikan musisi ini kerap kali dijadikan latar suara video pendek TikTok dan reels Instagram. Selain itu, lagu-lagunya juga dibawakan di berbagai festival musik dan kafe kekinian.

Lagu “Garam & Madu (Sakit Dadaku)” hasil kolaborasi Tenxi, Naykilla, dan Jemsii menjadi salah satu lagu hipdut yang langsung menjadi megahits sejak dirilis akhir tahun 2024. Bukan sebatas viral, lagu ini berhasil membawa penghargaan sebagai Karya Produksi Terbaik Terbaik dan Duo/Grup/Kolaborasi Rap/Hiphop Terbaik bagi penyanyinya di ajang bergengsi Anugerah Musik Indonesia Award 2025. Selain itu, lagu ini juga berhasil membanggakan Indonesia dengan ditampilkan secara langsung di festival musik bergengsi dunia, South by Southwest (SXSW) di Sydney, Australia.

Pencapaian yang didapat oleh Tenxi, Naykilla dan Jemsii menunjukkan adanya pergeseran preferensi musik anak muda Indonesia. Dangdut yang dianggap kampungan kini diterima dengan baik berkat adanya hibridasi budaya Barat, yaitu hip-hop, dengan budaya lokal yang menjadi genre baru yaitu hipdut.

baca juga

Menjinakkan Globalisasi di Lantai Dansa

Bagi yang secara aktif mengamati dinamika politik budaya dalam hubungan internasional, ada sebuah kekhawatiran klasik bahwa budaya lokal akan terkikis dan terjadi homogenisasi budaya yang diakibatkan oleh globalisasi. Namun, fenomena hipdut yang digandrungi anak muda Indonesia mematahkan kekhawatiran tersebut.

Hipdut merupakan musik modern hip-hop dan R&B yang berhasil anak muda Indonesia padukan dengan elemen tradisional seperti ketukan kendang dan cengkok dangdut, serta menyuntikan berbagai bahasa, yaitu bahasa Indonesia, Jawa dan Inggris dalam liriknya. Fenomena ini disebut hibridasi budaya yang menunjukkan bahwa budaya global tidak selalu menghapuskan budaya lokal, saat kedua budaya tersebut saling berinteraksi maka sebuah budaya baru akan muncul tanpa menghapus budaya aslinya.

"Global Mindset, Lokal Heart" ala Gen Z

Salah satu faktor yang membuat hipdut sangat digemari Millennial dan Gen Z adalah karena hipdut menjadi bentuk integrasi diri. Di era globalisasi ini, generasi muda dituntut untuk memiliki pemikiran terbuka agar tidak tertinggal mengenai pengetahuan global dan modern. Akan tetapi, ada kekosongan dan kerinduan yang singgah untuk tetap terhubung dengan identitas budaya lokalnya.

Hadirnya hipdut di tengah arus globalisasi menjadi angin segar bagi keresahan yang mereka alami. Lagu bergenre hipdut membuat generasi muda tetap merasa kekinian karena musik dikemas dengan modern, tetapi tetap merasa familiar dengan ketukan kendang dan lirik yang menggunakan bahasa keseharian masyarakat Indonesia.

Fenomena hipdut merupakan perwujudan bagaimana di derasnya arus globalisasi, generasi muda Indonesia tetap merayakan identitas lokal secara jenius. Hipdut meningkatkan cultural confident di anak muda Indonesia yang bangga akan karya bangsa serta berhasil mengharmonisasikan berbagai kelompok dengan latar belakang yang berbeda.

baca juga

Hipdut sebagai Peluang Soft Power Baru Indonesia

Hibridasi budaya bukan hal baru di dunia internasional. Contoh suksesnya adalah Korea Selatan melalui musik K-Pop. K-Pop yang merupakan musik pop Barat yang dipadukan dengan karakteristik dan bahasa lokal mereka, terbukti berhasil menjadi soft power dan instrumen diplomasi publik Korea Selatan.

Keberhasilan yang dicapai oleh Korea Selatan bukan tidak mungkin terjadi pada Indonesia. Lagu hipdut Indonesia yang secara organik viral di negara-negara tetangga melalui challenge TikTok, bisa menjadi modal besar untuk ke depannya. Hipdut bisa dikemas lebih profesional untuk memikat pendengar global tanpa kehilangan karakteristik uniknya.

Fenomena hipdut menunjukkan bahwa globalisasi tidak serta merta mengancam kebudayaan lokal. Melalui ketukan kendang dan lirik multibahasa, generasi muda Indonesia menyuarakan kepada dunia bahwa identitas lokal tetap bisa melekat meski telah menjadi warga dunia yang modern. Globalisasi bukan sesuatu yang menakutkan, tetapi bisa menjadi peluang baru dalam karya dan diplomasi.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AN
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.