seberapa seimbang dunia kerja kita begini indeks life work balance indonesia - News | Good News From Indonesia 2026

Seberapa Seimbang Dunia Kerja Kita? Begini Indeks Life-Work Balance Indonesia

Seberapa Seimbang Dunia Kerja Kita? Begini Indeks Life-Work Balance Indonesia
images info

Ilustrasi work-life balance | Unsplash/Sweet Life


Menyeimbangkan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi adalah hal yang sudah sepatutnya didapatkan pekerja. Konsep ini disebut juga dengan work-life balance.

Work-life balance memastikan pekerja untuk bisa memenuhi tanggung jawab di pekerjaannya tanpa mengorbankan waktu untuk dirinya sendiri, keluarga, hobi, dan kesehatannya. Work-life balance sangat penting karena dipercaya bisa membuat seseorang lebih sehat dan produktif.

Dalam laporan Remote yang bertajuk Global Life-Work Balance Index 2025, Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki kultur work-life balance yang cukup baik di Asia.

Sebagai catatan, Remote sengaja menggunakan istilah Life-Work Balance alih-alih Work-Life Balance, karena mereka percaya bahwa kehidupan harus diletakkan di urutan pertama. Sementara itu pekerjaan bertugas untuk mendukung kualitas hidup tersebut.

Laporan ini meninjau negara-negara dengan kekuatan ekonomi besar, di mana Indonesia adalah salah satu subjek penelitian karena statusnya sebagai salah satu dari 60 negara dengan PDB terbesar di dunia.

Secara global, Indonesia menempati peringkat ke-35 dari total 60 negara yang dievaluasi dalam indeks tersebut. Namun, jika dikerucutkan di wilayah Asia, Indonesia ada di peringkat ke-7.

baca juga

10 Negara dengan Life-Work Balance Terbaik di Asia 2025

Berdasarkan data dari Remote, berikut adalah daftar sepuluh negara di Asia yang dinilai paling seimbang dalam urusan pekerjaan dan kualitas hidup:

  1. Jepang (Skor: 61,07)
  2. Singapura (Skor: 57,85)
  3. Malaysia (Skor: 57,31)
  4. Taiwan (Skor: 55,46)
  5. Korea Selatan (Skor: 54,27)
  6. Indonesia (Skor: 51,22)
  7. Arab Saudi (Skor: 50,79)
  8. Israel (Skor: 50,08)
  9. Vietnam (Skor: 47,36)
  10. Tailan (Skor: 46,71).

Faktor dan Indikator

Penilaian ini tidak dilakukan secara sembarang. Ada beberapa analisis terhadap sepuluh indikator utama, yakni cuti tahunan wajib, upah minimum, sistem kesehatan, hingga indeks kebahagiaan penduduk di negara tersebut.

Selain itu, aspek perlindungan pekerja seperti cuti melahirkan berbayar dan persentase tunjangan sakit (sick pay) juga menjadi poin krusial. Keamanan publik melalui Global Peace Index serta inklusivitas sosial turut menentukan skor akhir setiap negara dalam daftar ini.

Metodologi ini dirancang untuk memberikan gambaran holistik tentang bagaimana sebuah negara menghargai kehidupan para pekerjanya. Fokus utamanya adalah memastikan bahwa pekerjaan hadir untuk memperkaya hidup, bukan justru menenggelamkannya.

baca juga

Seberapa Balance Kehidupan Pekerja Indonesia?

Indonesia merupakan salah satu negara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) tinggi secara global. Indonesia mencatatkan skor indeks sebesar 51,22 dengan rata-rata jam kerja mingguan yang berada di angka 38,36 jam.

Angka jam kerja ini tergolong cukup kompetitif jika dibandingkan dengan negara Asia lainnya yang sering kali memiliki budaya kerja sangat intens.

Dalam hal hak istirahat, pekerja di Indonesia mendapatkan 12 hari cuti tahunan wajib ditambah dengan 15 hari libur nasional. Skema cuti melahirkan juga dinilai baik dengan durasi 13 minggu dan tingkat pembayaran upah penuh 100 persen.

Menariknya, Indonesia memiliki persentase tunjangan sakit atau sick pay yang cukup tinggi, yakni antara 80 hingga 100 persen. Kebijakan ini memberikan rasa aman bagi pekerja saat menghadapi kondisi kesehatan yang tidak terduga tanpa takut kehilangan penghasilan.

Dari sisi perlindungan kesehatan, Indonesia mengandalkan sistem asuransi publik untuk menjamin kesejahteraan medis para pekerjanya. Sementara itu, skor keamanan atau Global Peace Index Indonesia berada di angka 1,86, yang menunjukkan kondisi negara yang relatif stabil.

Indonesia memiliki indeks kebahagiaan penduduk di angka 5,62. Seluruh variabel ini kemudian diolah dengan bobot tertentu untuk mencerminkan kualitas hidup riil para tenaga kerja di tanah air.

Kawan GNFI, Remote menilai bahwa kesadaran akan pentingnya jeda dari pekerjaan semakin meningkat seiring dengan tantangan teknologi seperti munculnya kecerdasan buatan (AI). AI memang membantu produktivitas, tetapi juga memicu kekhawatiran akan tuntutan belajar yang tiada henti bagi para pekerja.

Budaya kerja "selalu aktif" atau always-on culture yang dipicu teknologi membuat batas antara ruang privat dan profesional semakin kabur. Oleh karena itu, kebijakan untuk menetapkan batas jam kerja dan hak libur menjadi cara untuk melindungi kesehatan mental masyarakatnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.