Ada kisah menarik dari dua murid di SD Cikal Serpong. Namanya Lea dan Aksara. Mereka berani mulai nulis buku yang isinya lebih kompleks, yakni tentang kepercayaan diri, skincare, sampai standar kecantikan.
Lea menghadirkan buku berjudul My Own Special Crown; sedangkan Aksara menulis trilogi berjudul Beyond The Filter, Skincare Decoded, serta Parents and Guardians. Benar, Kawan tidak salah lihat, trilogi!
Ketiga buku Aksara masing-masing nyentuh isu yang kerap dialami remaja, yakni skincare dan filter media sosial yang membuat seseorang merasa selalu kurang dengan wajah aslinya. Dan yang paling jarang diangkat adalah perihal komentar orang tua, terutama ibu, yang kerap meragukan kemampuan anaknya sendiri.
"Aku sangat ingin membuat orang lain lebih percaya diri, terutama remaja dan anak-anak," kata Aksara.
Sementara itu, Lea bercerita bahwa bukunya lahir dari pengalaman pribadinya soal rambut keriting. Hal sederhana sebenarnya, tapi standar kecantikan cukup bikin dia dulu minder.
"Buku saya membahas tentang rasa suka terhadap diri sendiri dan juga rasa tidak percaya diri pada anak-anak yang memiliki rambut keriting. Banyak orang sering salah paham dan menilai rambut keriting secara negatif," katanya.
Lewat bukunya, Lea ingin para pembaca, terutama anak-anak senasib, bisa lebih nerima diri sendiri.
Nah, yang bikin makin menarik, hasil jualan bukunya senilai Rp15 juta, didonasikan ke Yayasan Kanker Pita Kuning. Mereka menyumbangkan uang hasil buku buat anak-anak yang lagi berjuang lawan kanker.
Iya, anak SD. Umurnya baru 11-12 tahun yang punya kepedulian setinggi itu.
Ini Jadinya Kalau Tugas Anak SD Dikerjakan Secara Serius
Sebenarnya, buku itu merupakan bagian dari tugas akhir kelas 6, namanya Culminating Project.
Culminating Project adalah proyek puncak atau proyek akhir pembelajaran yang dirancang agar peserta didik dapat menunjukkan apa yang telah mereka pelajari melalui sebuah karya atau solusi nyata.
Berbeda dengan ujian yang mengukur kemampuan mengerjakan soal, Culminating Project menilai bagaimana siswa mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap untuk menyelesaikan suatu permasalahan atau menghasilkan sebuah produk.
Lewat tugas ini, anak-anak diminta benar-benar berpikir, ngamatin sekitar, lalu bertanya ke diri sendiri tentang masalah yang sedang mereka perhatikan.
"Ini bukan sekadar tugas akhir, ini adalah ruang di mana anak-anak belajar melihat dunia dengan lebih jujur. Dalam prosesnya, setiap murid diajak untuk berhenti sejenak, mengamati sekelilingnya, lalu bertanya: apa yang sebenarnya sedang terjadi, dan mengapa itu penting untukku?" kata Dian Nurmala, pendidik yang jadi mentor Lea dan Aksara.
Kenapa Harus Yayasan Kanker?
Ide donasi ini katanya bukan dari guru atau orang tua yang ngarahin. Murni inisiatif Lea dan Aksara sendiri.
"Ide untuk berdonasi datang dari anak-anak. Mereka tidak ingin berhenti di cerita, mereka ingin cerita itu berdampak. Kami kemudian bersama-sama mencari lembaga yang selaras dengan nilai dan pesan yang mereka angkat. Prosesnya sederhana, tapi penuh makna: menulis, menghubungi, menunggu, dan berharap," kata Dian.
Aksara punya alasan kuat mengapa mereka mendonasikan hasil buku ke yayasan kanker. Menurutnya, proses pengobatan kanker banyak mengubah fisik seseorang sehingga para penyintas membutuhkan dukungan lebih.
"Mereka yayasan kanker yang memiliki banyak anak yang mungkin sudah tidak percaya diri karena perubahan tubuh cepat karena chemotherapy. Aku harap donasinya bisa membuat mereka mendapatkan treatment lebih banyak dan cepat agar bisa segera pulih dan sehat."
Lea nambahin alasan yang lebih personal lagi. Sebagai anak yang pernah merasa kurang ideal, Lea ingin para penyintas tetap merasa cantik.
"Saya ingin mereka tahu bahwa mereka tetap cantik dan berharga, walaupun tubuh mereka mengalami perubahan. Saya juga ingin mereka merasa bahwa mereka tidak sendirian.
Pada akhirnya, buat Dian, bukan hasil donasi ini yang dilihat, melainkan bagaimana proses anak-anak bertumbuh dan punya rasa empati.
"Bukan hasil akhir, tapi perjalanan yang terus berjalan. Dan bagi saya, itu jauh lebih berharga," tutupnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


