hujan tidak pernah menjadi musuh - News | Good News From Indonesia 2026

Hujan Tidak Pernah Menjadi Musuh

Hujan Tidak Pernah Menjadi Musuh
images info

Yang Berubah Bukan Hujannya (Hasil AI)


Setiap kali banjir melanda, hujan hampir selalu menjadi pihak pertama yang disalahkan. Curah hujan yang tinggi dianggap sebagai penyebab utama jalan yang tergenang, sungai yang meluap, hingga rumah-rumah yang terendam. Penjelasan itu terdengar begitu masuk akal sehingga jarang sekali dipertanyakan. Seolah-olah air yang turun dari langit sendirilah yang menciptakan bencana.

Yang paling banyak berubah bukanlah hujannya, melainkan tempat hujan itu jatuh. Bentang alam yang dahulu mampu menyerap air perlahan berganti menjadi hamparan beton, aspal, dan bangunan. Ketika air kehilangan ruang untuk kembali ke tanah, ia akan mencari jalannya sendiri. Sayangnya, jalan yang ditemukannya kini sering kali adalah jalan raya, permukiman, sekolah, hingga ruang tamu rumah-rumah warga.

Jika hujan merupakan satu-satunya penyebab banjir, seharusnya setiap hujan selalu menghasilkan genangan. Kenyataannya tidak demikian. Ada kota yang tetap dapat beraktivitas setelah diguyur hujan deras, sementara kota lain lumpuh hanya dalam hitungan jam. Bahkan hujan dengan intensitas yang hampir sama dapat menghasilkan dampak yang sangat berbeda di dua wilayah yang berdekatan. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa yang menentukan bukan hanya seberapa deras hujan turun, tetapi juga seberapa siap lingkungan menerima air yang datang.

baca juga

Alam sebenarnya telah memiliki cara sederhana untuk mengelola hujan. Tanah, pepohonan, rawa, dan kawasan hijau bekerja layaknya spons yang menyerap sekaligus memperlambat aliran air. Ketika ruang-ruang itu hilang, air kehilangan tempat untuk kembali ke tanah.

Persoalan muncul ketika manusia mengganggu mekanisme alami tersebut. Pertumbuhan kota yang begitu cepat mendorong alih fungsi lahan secara besar-besaran. Sawah, kebun, dan ruang terbuka hijau berganti menjadi kawasan permukiman, gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, kawasan industri, serta jaringan jalan yang hampir seluruhnya tertutup beton dan aspal. Permukaan yang dahulu mampu menyerap air berubah menjadi permukaan kedap air yang justru mempercepat limpasan ketika hujan turun.

Pada saat yang sama, sungai kehilangan ruangnya. Sempadan sungai dipadati bangunan, sedimentasi mengurangi kapasitas aliran, saluran drainase tersumbat sampah, sementara daerah resapan terus menyusut. Air yang seharusnya memiliki banyak jalur untuk meresap akhirnya berkumpul dalam waktu yang bersamaan. Ketika volume air melebihi kapasitas sungai dan drainase, banjir menjadi sesuatu yang hampir tidak terhindari.

Kondisi tersebut diperparah oleh perubahan iklim. Meningkatnya suhu Bumi membuat atmosfer mampu menyimpan lebih banyak uap air sehingga peluang terjadinya hujan dengan intensitas tinggi semakin besar. Namun, hujan ekstrem tidak otomatis berubah menjadi bencana. Dampaknya sangat bergantung pada kondisi lingkungan tempat hujan itu turun. Kota yang masih memiliki ruang hijau yang memadai, daerah resapan yang terjaga, serta sistem pengelolaan air yang baik akan jauh lebih mampu menghadapi curah hujan tinggi dibandingkan dengan kota yang hampir seluruh permukaannya telah tertutup beton.

Ironisnya, cara kita merespons banjir sering kali masih berfokus pada airnya, bukan pada penyebab mengapa air itu tidak lagi memiliki tempat. Setelah banjir surut, drainase dibersihkan, sungai dikeruk, tanggul diperbaiki, dan bantuan darurat disalurkan. Berbagai langkah tersebut tentu penting untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan. Namun, pada saat yang sama, ruang terbuka hijau terus berkurang, pembangunan tetap berlangsung di kawasan yang rentan, dan tanah yang mampu menyerap air semakin sedikit. Persoalan mendasarnya tetap dibiarkan.

Akibatnya, banjir menjadi peristiwa yang terus berulang. Setiap musim hujan, kita kembali menyalahkan cuaca. Setelah air surut, perhatian publik ikut surut. Siklus pembangunan yang sama kembali berjalan hingga musim hujan berikutnya menghadirkan persoalan yang sama. Tanpa disadari, yang kita ulang bukan hanya banjirnya, tetapi juga cara berpikir kita tentang banjir.

Sejumlah kota di berbagai negara mulai mengubah pendekatan tersebut melalui konsep sponge city, yaitu pendekatan yang merancang kota agar mampu menyerap, menahan, dan memanfaatkan air hujan secara alami. Alih-alih berupaya membuang air secepat mungkin, pendekatan ini memperbanyak ruang hijau, memperluas penggunaan permukaan berpori, membangun kolam retensi, merestorasi sungai, serta mempertahankan kawasan resapan. Air hujan tidak lagi dipandang sebagai ancaman yang harus segera disingkirkan, melainkan sebagai bagian dari sistem alam yang perlu dikelola.

baca juga

Pendekatan itu menunjukkan bahwa pengendalian banjir bukan semata persoalan teknologi atau besarnya anggaran. Yang lebih mendasar adalah cara pandang terhadap air itu sendiri. Selama hujan terus ditempatkan sebagai penyebab utama, solusi yang lahir akan selalu berorientasi pada bagaimana mengalirkan air secepat mungkin. Padahal kota yang tangguh bukanlah kota yang mampu mengusir air, melainkan kota yang mampu hidup berdampingan dengannya.

Pada akhirnya, mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya mengapa hujan selalu menyebabkan banjir. Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa kita terus membangun kota dengan cara yang membuat hujan berubah menjadi bencana.

Barangkali hujan tidak pernah menjadi musuh. Musuhnya adalah keyakinan bahwa kota dapat terus dibangun tanpa menyisakan ruang bagi air. Air selalu mencari jalan pulang ke tanah. Ketika tanah kita ditutup dengan beton, jangan heran jika ia memilih jalan pulang melalui jalan raya, sekolah, hingga ruang tamu rumah kita. Selama cara pandang itu tidak berubah, setiap musim hujan akan selalu menghadirkan pertanyaan yang sama, padahal jawabannya sudah lama ada di hadapan kita.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

IR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.