Pada pertengahan abad ke-13, Eropa mengalami satu tahun dengan cuaca yang sangat tidak biasa. Catatan-catatan kronik dari Inggris hingga Jerman menyebut tahun 1258 sebagai masa ketika langit tertutup kabut kering berkepanjangan, suhu turun tajam, dan hujan mengguyur di musim yang seharusnya kering. Kondisi ini memicu gagal panen besar-besaran, kelangkaan pangan, dan kematian yang meluas di berbagai wilayah Eropa. Selama berabad-abad, penyebab pasti dari anomali cuaca ini tidak diketahui, hingga penelitian sampel es di Kutub Utara dan Antartika mengungkap jejak sulfur dalam jumlah sangat besar yang berasal dari sebuah letusan gunung berapi.
Sumber sulfur tersebut ditelusuri hingga ke Gunung Samalas di Lombok, yang meletus dahsyat pada tahun 1257. Letusan itu kini menyisakan Kaldera Segara Anak sebagai bekasnya. Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan pada 2013 oleh tim ilmuwan internasional (Lavigne dkk.), letusan Samalas termasuk dalam kategori letusan terbesar dalam 7.000 tahun terakhir, dengan skala VEI 7, setara dengan letusan Gunung Tambora pada 1815. Namun sejumlah studi menunjukkan volume sulfur yang dilepaskan Samalas ke atmosfer lebih besar, sehingga dampaknya terhadap iklim global berpotensi lebih signifikan. Letusan ini juga diyakini berkaitan dengan lenyapnya sebuah kerajaan di Lombok yang disebut dalam naskah tradisional Babad Lombok sebagai Kerajaan Pamatan, meski keberadaan kerajaan tersebut secara historis belum sepenuhnya dikonfirmasi oleh bukti arkeologis.
Bagaimana Abu Vulkanik Mengubah Iklim di Belahan Bumi Lain
Letusan besar seperti Samalas melontarkan abu dan gas sulfur dioksida hingga ke lapisan stratosfer, jauh di atas jangkauan hujan yang biasanya membersihkan partikel di atmosfer bawah. Di ketinggian tersebut, gas sulfur bereaksi membentuk aerosol yang dapat bertahan di atmosfer selama berbulan-bulan hingga beberapa tahun. Aerosol ini memantulkan sebagian sinar matahari kembali ke luar angkasa, sehingga jumlah cahaya matahari yang mencapai permukaan bumi berkurang. Efeknya adalah pendinginan suhu global dalam skala yang bisa dirasakan lintas benua, dikenal dalam ilmu vulkanologi sebagai "volcanic winter" atau musim dingin vulkanik.

Peta topografi Pulau Lombok, menunjukkan lokasi Gunung Samalas dan Rinjani. Sumber: Sadalmelik/Elekhh, Wikimedia Commons (CC BY-SA).
Di Eropa, penurunan suhu dan berkurangnya sinar matahari berdampak langsung pada sektor pertanian yang saat itu menjadi tumpuan hidup sebagian besar penduduk. Tanaman pangan seperti gandum gagal tumbuh optimal atau membusuk akibat kelembapan berlebih. Sejumlah catatan sejarah, termasuk dari Biara St. Albans di Inggris, mendeskripsikan lonjakan harga pangan dan angka kematian yang tinggi pada periode tersebut. Para sejarawan lingkungan saat ini memandang letusan Samalas sebagai salah satu faktor pemicu utama krisis pangan 1258, meski faktor lain seperti pola cuaca regional dan kondisi pertanian yang sudah rentan sebelumnya turut berkontribusi.
Dampak Sosial yang Meluas Melampaui Krisis Pangan
Krisis pangan yang berkepanjangan turut memberi tekanan pada stabilitas sosial dan politik di sejumlah wilayah Eropa. Di Inggris, periode ini bertepatan dengan meningkatnya ketegangan antara Raja Henry III dan para bangsawan, yang beberapa tahun kemudian melahirkan Ketentuan Oxford, salah satu dokumen awal yang membatasi kekuasaan monarki. Perlu dicatat bahwa hubungan antara krisis pangan 1258 dan gejolak politik ini bersifat kontribusi, bukan sebab tunggal. Sejarawan umumnya menempatkannya sebagai satu dari beberapa tekanan yang memperburuk situasi politik yang sudah tegang sebelumnya.
Kondisi gizi buruk akibat kelangkaan pangan juga diperkirakan mempermudah penyebaran penyakit di tengah populasi yang padat dan minim sanitasi. Sejumlah catatan sejarah menyebut adanya lonjakan kematian di kota-kota besar Eropa pada periode ini, meski penyebab pastinya kemungkinan gabungan dari kelaparan dan wabah penyakit, bukan satu faktor tunggal.
Referensi:
Lavigne, F., Degeai, J.-P., Komorowski, J.-C., et al. (2013). "Source of the great A.D. 1257 mystery eruption identified as Samalas volcano, Rinjani Volcanic Complex, Indonesia." Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS)
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


