Berjalan kaki di bawah terik matahari pada siang hari sering kali terasa melelahkan. Trotoar memantulkan panas, udara terasa pengap, dan bayangan pohon semakin sulit ditemukan. Sebagian besar dari kita menganggap kondisi tersebut sebagai konsekuensi wajar dari tinggal di negara tropis. Faktanya, rasa panas yang kita rasakan tidak sepenuhnya disebabkan oleh iklim. Di banyak kota, kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh pilihan-pilihan pembangunan yang perlahan menghilangkan pepohonan dari ruang publik.
Pohon sering kali menjadi elemen pertama yang dikorbankan ketika jalan diperlebar, gedung baru dibangun, atau jaringan utilitas dipasang. Di sisi lain, penanaman pohon kerap dijadikan simbol kepedulian terhadap lingkungan melalui kegiatan seremonial yang berhenti setelah bibit ditanam. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pohon masih dipandang sebagai pelengkap estetika kota, bukan sebagai bagian penting dari infrastruktur yang menopang kehidupan masyarakat.
Pohon bukan sekadar penghias kota. Pohon adalah infrastruktur hidup yang menjaga kualitas lingkungan sekaligus menopang kehidupan masyarakat. Namun, dalam praktik pembangunan, pohon masih terlalu sering diperlakukan sebagai elemen yang dapat dikorbankan ketika ruang dibutuhkan untuk kepentingan lain.
Selama ini, istilah infrastruktur identik dengan jalan, jembatan, drainase, dan bangunan publik. Pohon pun memiliki fungsi yang tidak kalah penting dalam menopang kehidupan perkotaan. Kanopi pohon membantu menurunkan suhu, menyerap karbon dioksida dan polutan udara, mengurangi limpasan air hujan, serta menciptakan ruang yang lebih nyaman bagi pejalan kaki. Keberadaannya bukan sekadar memperindah kota, tetapi juga menyediakan layanan ekologis yang mendukung kualitas hidup masyarakat setiap hari.
Ironisnya, manfaat tersebut sering kali baru disadari ketika pepohonan telah hilang. Kota menjadi lebih panas, kualitas udara memburuk, dan ruang publik kehilangan keteduhannya. Berbagai persoalan tersebut kemudian diatasi melalui solusi yang membutuhkan biaya besar, padahal sebagian fungsi itu telah lama disediakan oleh pohon secara alami.
Cara pembangunan di banyak kota menunjukkan bahwa nilai ekologis pohon masih sering diabaikan. Keputusan penebangan umumnya didasarkan pada kebutuhan ruang dan efisiensi konstruksi, sementara manfaat jangka panjang yang hilang jarang menjadi pertimbangan utama.
Pembangunan dan pelestarian pohon seharusnya tidak diposisikan sebagai dua kepentingan yang saling bertentangan. Kota yang berkelanjutan bukan hanya membangun lebih banyak fasilitas fisik, tetapi juga mampu mempertahankan sistem alami yang selama ini menopang kehidupan masyarakat.
Perspektif tersebut juga tercermin dalam berbagai program penghijauan. Keberhasilannya lebih sering diukur dari jumlah bibit yang ditanam daripada jumlah pohon yang mampu bertahan hidup. Akibatnya, penghijauan kerap berhenti menjadi kegiatan seremonial, bukan upaya membangun ruang hijau yang berkelanjutan.
Menjaga pohon yang telah tumbuh sering kali lebih bernilai daripada sekadar menanam pohon baru. Pohon dewasa membutuhkan waktu puluhan tahun untuk memberikan keteduhan dan manfaat ekologis yang optimal. Kehilangannya tidak dapat digantikan hanya dengan menanam bibit baru.
Keberadaan pohon pada dasarnya mencerminkan bagaimana sebuah kota memandang hubungan antara pembangunan dan lingkungan. Ketika pohon mudah dikorbankan demi kebutuhan ruang, hal tersebut menunjukkan bahwa pertimbangan ekologis belum memperoleh posisi yang memadai dalam proses pembangunan. Padahal, keberlanjutan kota tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur yang dibangun, tetapi juga oleh kemampuan mempertahankan sistem alami yang mendukung kehidupan masyarakat.
Pada akhirnya, kota yang maju bukan hanya kota dengan jalan yang semakin luas atau gedung yang semakin tinggi, tetapi kota yang mampu menyediakan ruang hidup yang nyaman bagi masyarakatnya. Pohon bukan sekadar elemen hijau yang memperindah pemandangan, melainkan bagian penting dari sistem perkotaan yang menjaga kualitas hidup manusia. Selama pohon masih dianggap sebagai pelengkap yang dapat dikorbankan, kita akan terus membangun kota yang semakin modern, tetapi semakin kehilangan keteduhannya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


