Legenda asal usul Kedung Bolong yang ada di Gunungkidul merupakan salah satu cerita rakyat dari Yogyakarta. Legenda ini berkisah tentang sebuah mata air yang muncul dari pengorbanan seorang pemuda yang baik hati.
Bagaimana kisah dari legenda asal usul Kedung Bolong tersebut?
Legenda Asal Usul Kedung Bolong di Gunungkidul, Cerita Rakyat dari Yogyakarta
Dilansir dari buku Antologi Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta, pada zaman dahulu hiduplah sepasang suami istri yang tinggal di Desa Sampang, Gunungkidul. Pasangan suami istri ini bernama Pak Krama dan Mbok Kromo.
Pasangan suami istri ini hidup dengan sederhana. Meskipun demikian, mereka suka membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.
Hal ini membuat Pak Krama dan Mbok Krama disukai oleh para tetangganya. Meskipun demikian, masih ada satu hal yang belum didapatkan oleh mereka sejak lama.
Meskipun sudah menikah lama, Pak Krama dan Mbok Krama masih belum dikaruniai anak. Mereka selalu berdoa pada Yang Kuasa agar segera diberi momongan.
Doa Pak Krama dan Mbok Krama akhirnya terjawab. Setelah menunggu sekian lama, Mbok Krama akhirnya mengandung anak yang mereka idam-idamkan.
Sembilan bulan kemudian, Mbok Krama akhirnya melahirkan. Alangkah bahagianya perasaan pasangan suami istri tersebut.
Pak Krama kemudian memberi nama anak mereka Sidowayah. Nama ini berarti anak yang kelahirannya sudah dinanti-nantikan.
Seiring berjalannya waktu, Sidowayah mulai tumbuh dewasa. Tidak hanya menggenapi kebahagiaan orang tuanya, Sidowayah juga tumbuh menjadi anak yang baik budinya.
Sidowayah selalu patuh pada kedua orang tuanya. Tidak jarang dia suka membantu kedua orang tuanya bertani di lahan yang mereka miliki.
Selain itu, Sidowayah juga mengurus kerbau mereka dengan baik. Sebelum kembali ke kandang, Sidowayah selalu memandikan kerbau tersebut sebuah kedung yang ada di desa mereka.
Kedung ini sangat disakralkan oleh masyarakat desa. Tidak hanya itu, kedung ini memiliki air yang jernih dan tidak pernah kering.
Kehadiran Sidowayah membuat kehidupan Pak Krama dan Mbok Krama makin makmur. Hasil panen dan ternak mereka meningkat dengan baiknya.
Namun suatu hari situasi ini berubah ketika sebuah malapetaka menimpa Desa Sampang. Kedung yang ada di sana tiba-tiba mengering dan tidak mengeluarkan air setetes pun.
Hal ini tentu tidak pernah dialami oleh masyarakat desa sebelumnya. Keringnya air kedung ini membuat kehidupan masyarakat menjadi terganggu.
Puncaknya salah seorang warga akhirnya meninggal dunia akibat tidak adanya sumber air yang bisa dimanfaatkan. Kejadian ini membuat para tetua desa untuk berembuk membahas situasi ini.
Usut punya usut, ternyata ada salah seorang masyarakat yang berbuat tak pantas di kedung tersebut. Perbuatan inilah yang membuat air kedung tersebut mengering, seakan menjadi hukuman bagi masyarakat Desa Sampang.
Para tetua desa kemudian pergi ke Pertapaan Tumpeng. Di sana tetua desa melakukan pertapaan selama tujuh hari tujuh malam.
Dari pertapaan ini, tetua desa akhirnya memperoleh sebuah petunjuk agar air kedung kembali mengalir seperti sedia kala. Petunjuk tersebut mengisyaratkan agar ada pengorbanan dari seorang anak laki-laki yang baik budi.
Tetua desa kemudian menyampaikan petunjuk ini di hadapan masyarakat. Tidak ada seorangpun masyarakat yang berani untuk memenuhi permintaan tersebut.
Tiba-tiba Sidowayah muncul di tengah keheningan masyarakat. Dia berkata rela berkorban agar air kedung kembali seperti sedia kala.
Tetua desa menerima pengorbanan Sidowayah. Apalagi kriteria yang dimiliki oleh pemuda tersebut memang cocok seperti apa yang ada di dalam petunjuk.
Kabar ini kemudian sampai pada Pak Krama dan Mbok Krama. Pada awalnya, mereka tidak ingin Sidowayah melakukan hal tersebut.
Namun begitu melihat ketulusan Sidowayah, pasangan suami istri ini akhirnya menerima keputusan sang anak. Tepat pada hari yang ditentukan, Sidowayah kemudian pergi ke kedung yang mengering tersebut.
Begitu Sidowayah tiba di sana, air kedung kembali keluar dengan perlahan. Air ini makin membesar dan kembali memenuhi kedung begitu Sidowayah berada di tengah.
Ketika Sidowayah berjalan ke tengah kedung, air yang ada di sana membentuk lingkaran selayaknya terowongan. Begitu tiba di tengah, air tersebut kembali menutup dan Sidowayah menghilang di dalamnya.
Sejak saat itu, kidung ini kembali mengalir dan memenuhi kebutuhan warga. Atas peristiwa ini, kidung tersebut kemudian diberi nama Kidung Bolong, merujuk pada bentuk air yang dilewati oleh Sidowayah yang seperti terowongan ketika menuju ke tengah.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


