ev kuasai 26 8 persen penjualan di indonesia tapi ceritanya belum tuntas - News | Good News From Indonesia 2026

EV Kuasai 26,8 Persen Penjualan di Indonesia, Tapi Ceritanya Belum Tuntas

EV Kuasai 26,8 Persen Penjualan di Indonesia, Tapi Ceritanya Belum Tuntas
images info

Charging mobil listrik di rumah | dibuat dengan bantuan AI


Mobil saya sudah bertahun-tahun belum ganti. Masih mobil bensin. Setiap kali isi tangki penuh, angka di layar pompa Pertamax bikin saya diam sejenak sebelum menyerahkan kartu atau bayar pakai QRIS. Rasanya harga bensin sekarang naik terus, gak pernah turun, dan dompet saya yang paling dulu merasakannya.

Gara-gara itu, saya mulai rajin buka-buka informasi di internet. Membandingkan harga beberapa mobil listrik yang sekarang mulai masuk akal untuk kantong menengah, tidak lagi hanya milik orang yang uangnya berlebih seperti awal-awal dulu. Belum saya putuskan akan beli apa, uangnya masih kurang banyak. Tapi jujur saja, ini pertama kalinya saya benar-benar mempertimbangkan mobil listrik sebagai pengganti mobil lama saya.

Setiap kali sampai di titik mau memutuskan, saya selalu berhenti di pertanyaan yang sama: kalau baterainya habis di tengah perjalanan ke luar kota, saya isi di mana?

Ternyata saya tidak sendirian dengan pertanyaan itu. Setelah membaca data Gaikindo dan sebuah survei konsumen terbaru, saya baru sadar bahwa hal yang saya pikirkan tersebut, tenryata punya angka yang mewakilinya, dan angkanya cukup besar.

Pertanyaan itu yang akhirnya membawa saya membongkar data Gaikindo dan sebuah survei konsumen terbaru. Yang saya temukan ternyata dua hal sekaligus. Pertama, pasar mobil listrik Indonesia sedang melonjak lebih cepat dari yang saya kira. Kedua, keraguan saya soal isi ulang daya itu juga punya angkanya sendiri, dan angkanya juga cukup besar. Saya mulai dari yang pertama dulu.

Data Gaikindo untuk semester pertama 2026 menunjukkan sesuatu yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah otomotif Indonesia. Dari 436.564 mobil yang terjual di seluruh negeri, 117.108 di antaranya adalah kendaraan elektrifikasi (EV), gabungan dari hybrid (HEV), listrik murni (BEV), dan plug-in hybrid (PHEV). Itu artinya 26,8 persen. Lebih dari seperempat mobil baru yang keluar dari showroom sekarang punya baterai sebagai bagian dari jantungnya.

Angka ini adalah hasil dari bertahun-tahun insentif pajak, model yang makin banyak pilihan, dan harga BBM yang hampir pasti akan terus naik. Tapi tetap saja, ketika angka seperempat itu benar-benar tercapai, ada semacam titik yang terasa berbeda. Seperti melihat anak yang dulu susah disuruh belajar, tiba-tiba naik peringkat di kelas.

Yang menarik dari daftar sepuluh merek elektrifikasi terlaris, Toyota masih di posisi puncak dengan 27.575 unit, mengandalkan lini hybrid (Innova Zenix) yang sudah matang. Tapi coba lihat baris di bawahnya. BYD di posisi dua dengan 23.257 unit. JAECOO di posisi tiga dengan 17.314 unit. Disusul Geely, Wuling, Chery, Aion, Denza. Dari sepuluh merek teratas, tujuh di antaranya berasal dari Tiongkok. Hanya Toyota, Suzuki, dan Honda yang mewakili kubu Jepang.

Inilah cerita tentang peta kekuatan yang bergeser diam-diam, seperti lempeng tektonik. Selama puluhan tahun pabrikan Jepang menguasai jalan raya Indonesia nyaris tanpa tantangan berarti dari negara produsen manapun. Tiba-tiba, sekarang, di segmen elektrifikasi, mereka justru jadi minoritas.

Tapi saya tidak mau berhenti di angka yang menyenangkan ini saja. Karena kalau kita membaca survei konsumen Deloitte 2026, ceritanya jadi sedikit lebih rumit, dan menurut saya justru di titik itulah letak pelajaran sesungguhnya.

Minat orang Indonesia terhadap mobil berbahan bakar bensin memang turun 7 poin persentase, penurunan paling tajam di seluruh ASEAN. Ini berita baik bagi dunia EV. Permintaan terhadap mobil hybrid dan listrik naik 42 persen. Angka-angka ini terdengar seperti kemenangan telak untuk elektrifikasi.

Tapi survei yang sama juga bilang, 55 persen konsumen Indonesia, lebih dari separuh, masih memilih mobil bensin ketika benar-benar harus mengeluarkan uang untuk membeli mobil. Jadi ada jarak antara apa yang orang katakan mereka inginkan dan apa yang benar-benar mereka beli. Niat sudah bergeser. Tindakan belum sepenuhnya mengikuti.

Saya kira ini bukan soal orang Indonesia keras kepala atau anti perubahan. Kalau saya taruh diri saya di posisi mereka, pertanyaannya sederhana: kalau baterai habis di tengah perjalanan ke luar kota, saya isi di mana?

Jawabannya ada di data yang sama. 61 persen konsumen ingin bisa mengisi daya di rumah. Tapi hanya 54 persen yang benar-benar punya akses itu. Sementara 34 persen sama sekali tidak punya akses pengisian daya apa pun, baik di rumah maupun di sekitar tempat tinggal mereka. Ada kesenjangan 7 poin antara keinginan dan kenyataan, angka yang sama persis dengan penurunan minat terhadap mobil bensin. Kebetulan yang menarik, atau mungkin bukan kebetulan sama sekali.

Yang paling mengejutkan saya justru satu angka lain. Sembilan dari sepuluh konsumen Indonesia, atau 90 persen, mengatakan biaya adalah faktor paling penting ketika memilih lokasi SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum). Ini proporsi tertinggi di seluruh Asia Tenggara. Artinya masalah utama elektrifikasi di negeri ini bukan lagi soal orang mau atau tidak mau beralih. Sudah banyak yang ingin ganti ke mobil listrik. Masalahnya soal berapa rupiah yang harus dikeluarkan setiap kali mengisi daya, dan apakah itu lebih murah dari seliter bensin.

Saya juga penasaran, bagaimana posisi kita dibanding negara tetangga. Ternyata ceritanya tidak sesederhana angka 26,8 persen tadi. Angka itu memakai definisi luas, gabungan hybrid, mobil listrik murni, dan plug-in hybrid. Kalau memakai definisi yang lebih sempit, yaitu mobil listrik murni ditambah plug-in hybrid saja tanpa hybrid biasa, seperti yang dipakai International Energy Agency (IEA) untuk membandingkan negara-negara di dunia, porsi Indonesia pada 2025 baru sekitar 15 persen. Vietnam, dengan produsen lokalnya VinFast, sudah mendekati 40 persen. Singapura juga di kisaran 40 persen. Thailand sudah melewati 20 persen. Malaysia, tetangga serumpun kita, baru sekitar 7 persen. Jadi dengan tolok ukur yang sama, Indonesia sebenarnya ada di tengah, jauh unggul dari Malaysia, tapi masih tertinggal dari Vietnam dan Thailand. Itu tahun 2025, saya rasa tahun ini angka untuk Indonesia akan naik lumayan signifikan, terpicu naiknya harga BBM secara drastis. 

Angka-angka regional itu penting untuk melihat peta besar, tapi tidak menjawab pertanyaan yang dari tadi mengganjal saya sendiri: kalau misalnya saya benar-benar membeli mobil listrik minggu depan, saya mengisi dayanya dari mana, setiap hari?

Jawabannya, belakangan saya sadar, sebagian keraguan saya sendiri sebenarnya berdiri di atas asumsi yang keliru. Selama ini saya membayangkan isi ulang daya itu seperti isi bensin, harus mampir ke SPKLU, antre, baru jalan lagi. Padahal cara paling diandalkan justru paling sederhana, yaitu mengisi daya di rumah sendiri, semalaman, sambil tidur. Selama rumah punya akses listrik dan colokan yang memadai, itu sudah cukup untuk kebutuhan harian kebanyakan orang. SPKLU umum sebenarnya cadangan untuk perjalanan jauh, bukan cara mengisi daya sehari-hari, dan rasanya banyak orang belum sadar soal ini.

Kalkulasinya pun, begitu saya hitung ulang, ternyata jelas lebih menguntungkan. Ongkos energi listrik per kilometer sudah lebih murah dibanding bensin, apalagi Pertamax yang saya keluhkan tadi. Pemerintah juga memberi insentif pajak yang tidak main-main, di antaranya bebas PPnBM (pajak barang mewah) dan PPN hanya 1 persen untuk mobil listrik murni, jauh di bawah pajak mobil bensin biasa. Biaya perawatannya juga lebih sederhana, tidak ada oli mesin yang harus diganti rutin, tidak ada komponen pengapian yang aus.

Jadi tab perbandingan harga di browser saya itu, sepertinya tidak akan saya tutup begitu saja. Ada baiknya saya buka lagi, kali ini dengan hitungan yang lebih lengkap, bukan cuma harga di brosur, tapi juga pajak, ongkos energi bulanan, dan kenyataan bahwa saya sebenarnya hanya butuh colokan di rumah, bukan mengejar SPKLU ke mana-mana.

Angka 26,8 persen itu nyata, dan pantas dirayakan sebagai pencapaian. Tapi cerita yang lebih penting, menurut saya, bukan angka itu sendiri, melainkan berapa banyak orang seperti saya yang ternyata sudah punya alasan kuat untuk pindah, hanya belum menyadarinya. Bensin akan terus mahal. Pajak mobil listrik sudah dipangkas jauh oleh pemerintah. Perawatannya lebih sederhana. Dan cara mengisi daya paling andal ternyata bukan di jalan, tapi di rumah sendiri, semalaman, seperti mengisi baterai handphone. 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

AH
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.