Ikan tembang merupakan jenis ikan pelagis yang mudah ditemukan di perairan pesisir Indonesia, termasuk di Desa Kronjo, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Selama ini, ikan tembang biasa dijual dalam kondisi segar dengan harga yang relatif rendah. Namun, siapa sangka, di tangan ibu-ibu pesisir Desa Kronjo, ikan tembang kini bisa diolah menjadi dendeng ikan asin, sebuah produk olahan yang memiliki nilai jual jauh lebih tinggi dibandingkan ikan segar.
Perubahan ini bermula dari sebuah pelatihan yang digagas oleh tim Samudera Bahari, salah satu program dalam PPK Ormawa Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan (HIMITEKA) IPB University tahun 2026. Program PPK Ormawa sendiri merupakan bentuk kontribusi nyata organisasi mahasiswa dalam menjawab persoalan yang ada di tengah masyarakat, salah satunya lewat penguatan ekonomi warga pesisir.
Pelatihan ini dilaksanakan pada Sabtu (11/07/2026) dan diikuti oleh 19 ibu-ibu dari RW 03 dan RW 04 Desa Kronjo. Bukan tanpa alasan, ibu-ibu dipilih sebagai peserta karena selama ini mereka kerap kali tidak memiliki kegiatan produktif di luar urusan rumah tangga, padahal potensi hasil laut di sekitar mereka sebenarnya cukup melimpah untuk dikembangkan.
Diawali dengan Pre-Test, Ditutup dengan Praktik Langsung
Sebelum masuk ke sesi praktik, tim pelaksana lebih dulu mengadakan pre-test kepada seluruh peserta. Tujuannya sederhana, yaitu untuk mengetahui sejauh mana pemahaman awal ibu-ibu terkait proses pembuatan ikan asin, khususnya dendeng ikan asin yang memang masih belum banyak dikenal luas oleh masyarakat pesisir setempat.
Setelah pre-test rampung, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung yang dipandu oleh Ibu Julastri, Ketua RT 03 Desa Kronjo. Ibu Julastri berperan besar dalam pelatihan ini karena beliau yang mendemonstrasikan sekaligus menuntun peserta lain melalui setiap tahapan proses, mulai dari membersihkan ikan, meracik bumbu, hingga teknik pengeringan khas yang membedakan dendeng ikan asin dari ikan asin biasa.
Sebagai perbandingan, dalam sesi yang sama juga dibuat ikan asin original menggunakan bahan baku yang sama tanpa tambahan gula merah, sehingga peserta bisa langsung melihat perbedaan tekstur dan proses pengolahan antara kedua jenis produk tersebut.
Kegiatan yang Punya Makna Lebih dari Sekadar Pelatihan
Bagi Ibu Julastri, kegiatan semacam ini punya arti yang lebih dalam daripada sekadar belajar mengolah ikan. Saat ditemui usai pelatihan, beliau menyampaikan pandangannya.
"Pelatihan seperti ini tentunya sangat baik, terutama bisa menyasar ke ibu-ibu pesisir yang tidak memiliki kegiatan, sehingga mereka bisa belajar dengan adanya kegiatan ini," ujar Ibu Julastri.
Pernyataan tersebut sebenarnya menggambarkan persoalan yang cukup umum terjadi di banyak desa pesisir. Ibu-ibu rumah tangga di kawasan tersebut kerap kali tidak memiliki ruang atau kesempatan untuk mengembangkan keterampilan baru, padahal potensi sumber daya laut di sekitar mereka sebenarnya bisa dimanfaatkan lebih maksimal untuk menambah penghasilan keluarga.
Sepanjang pelatihan berlangsung, para peserta terlihat antusias dan menyimak setiap tahapan proses dengan saksama. Suasana pelatihan pun berjalan lancar, dari awal hingga akhir kegiatan.
Dari pelatihan ini, dihasilkan dua jenis produk olahan, yaitu ikan asin dendeng dan ikan asin original. Kedua produk tersebut saat ini masih berada dalam tahap penjemuran sebelum nantinya memasuki proses pengemasan pada pelatihan lanjutan yang juga akan dilaksanakan oleh tim Samudera Bahari.
Tahapan ini sengaja dirancang bertahap, mengingat pengolahan hasil laut menjadi produk yang siap dijual bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal kemasan yang menarik dan higienis agar produk memiliki daya saing di pasaran. Dengan pendekatan bertahap seperti ini, diharapkan kelompok ibu-ibu di Desa Kronjo dapat benar-benar menguasai seluruh rangkaian proses produksi, mulai dari pengolahan hingga pengemasan, sehingga produk yang dihasilkan siap dipasarkan secara mandiri di kemudian hari.
Langkah Kecil dengan Dampak yang Tidak Kecil
Pelatihan semacam ini diharapkan dapat membawa dampak yang cukup berarti bagi masyarakat pesisir. Ikan tembang yang tadinya hanya dijual mentah dengan harga rendah, kini punya peluang untuk diolah menjadi produk bernilai tambah yang bisa dipasarkan lebih luas.
Selain itu, kegiatan ini juga membuka ruang bagi ibu-ibu pesisir untuk belajar hal baru, bertukar pengalaman, sekaligus membangun kebersamaan antarwarga. Kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat seperti yang dilakukan tim Samudera Bahari ini menjadi salah satu contoh bagaimana pengetahuan dari kampus bisa benar-benar diterapkan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat secara langsung.
Ke depannya, program Samudera Bahari masih akan melanjutkan rangkaian pelatihan lain, termasuk pelatihan pengemasan produk. Harapannya, produk dendeng ikan asin dan ikan asin original dari Desa Kronjo ini bisa terus berkembang, tidak hanya sebagai konsumsi rumah tangga, tetapi juga sebagai sumber penghasilan tambahan yang berkelanjutan bagi warga pesisir setempat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


