Mencari tahu tentang jejak peradaban Nusantara tidak akan pernah membosankan bagi Kawan GNFI, apalagi jika kita membahas rumah adat suku Bali Loloan yang memiliki gaya arsitektur unik, yakni berbentuk rumah panggung.
Sebagai insight, suku Loloan adalah kelompok masyarakat Muslim keturunan Melayu dan Bugis yang menetap serta membentuk entitas budaya unik di wilayah Jembrana, Bali. Menariknya, salah satu warisan kebudayaannya terwujud dalam bentuk rumah adat suku Bali Loloan yang kini jumlahnya kian menyusut termakan kemajuan zaman.
Artikel ini akan menggali pengertian, sejarah, hingga gaya arsitektur rumah panggung Loloan di Bali yang menjadi saksi bisu toleransi dan dialog antar budaya masyarakat Islam dan Hindu di Pulau Dewata tersebut. Yuk, simak sampai habis!
Apa Itu Rumah Panggung Loloan?
Rumah adat suku Bali Loloan adalah rumah panggung yang terinspirasi dari gaya rumah khas Bugis dan mulai dibangun sejak tahun 1800-an. Seperti namanya, rumah panggung suku Loloan didirikan oleh masyarakat Loloan yang uniknya mayoritas beragama Islam.
Dalam buku Tata Krama Suku Loloan di Kabupaten Jembrane, dijelaskan bahwa dulunya rumah panggung suku Loloan hanya terbuat dari kayu dan bersifat nonpermanen. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak berkembang rumah semi-permanen dengan campuran desain tembok di bagian dinding bawah dan kayu di bagian atas.
Sesuai namanya, lokasi rumah panggung suku Loloan sendiri berada di kawasan Kampung Loloan, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali. Kawasan ini sejak dahulu dikenal sebagai permukiman kuno yang menjadi pusat persebaran peradaban Islam di wilayah Bali Barat semenjak berabad-abad silam.
Sejarah Rumah Panggung Suku Bali Loloan
Menelusuri rekam jejak masa lalu dari rumah adat suku Loloan sama dengan menggali bagaimana kisah masyarakat suku Melayu-Bugis bisa menginjakkan kaki ke daerah tersebut.
Menurut buku Tata Krama Suku Loloan di Kabupaten Jembrane, kisah berpusat pada sosok Syarif Abdullah bin Yahya Al Qadry, adik Sultan Pontianak, yang berkelana mencari daerah yang belum terlalu dikuasai Belanda. Hal ini lantaran dirinya tidak menyetujui perjanjian traktat yang dibuat sang kakak dan pihak Belanda.
Bersama para anak buah yang berasal dari suku Melayu (Pahang, Johor, Kedah, Trengganu), Bugis dan Arab, ia pergi ke Bali. Memang pada abad ke-17 dan ke-18 Pulau Bali dan Lombok belum terlalu mendapat pengaruh dari bangsa Eropa, khususnya Belanda.
Setelah kapalnya tiba di Air Kuning atau Jembrana. Haji Shihabuddin, yakni sosok orang Bugis yang sudah terlebih dahulu menetap di Jembara, kemudian mengantar Syarif Abdullah bertemu dengan Raja Jembrana.
Dari dialog tersebut, Syarif Abdullah beserta para pengikutnya diizinkan menetap di area kiri dan kanan Sungai Ijogading (sekarang Loloan Barat dan Loloan Timur) dan ditugaskan menjadi laskar rakyat dari negeri Jembrana.
Syarif Abdullah kemudian membangun Desa Loloan. Pada tahun 1800, bersama orang-orangnya, ia mendirikan permukiman berupa rumah-rumah panggung. Ia juga mendirikan Benteng Fatimah yang terletak di Loloan Timur pada tahun 1804.
Desain rumah panggung sendiri sangat esensial mengingat kawasan bermukim mereka dahulu berdekatan dengan aliran Sungai Ijo Gading yang bisa saja meluap kala musim penghujan tiba. Perlahan tapi pasti, kearifan tata ruang yang mereka bawa dari kampung halaman menyatu erat dengan unsur iklim lokal, menjadikan tempat tinggal ini sebagai saksi bisu harmonisasi budaya masa lalu.
Sayangnya, kehadiran rumah panggung suku Loloan makin tergerus seiring dengan waktu. H. Musadat Johar, seorang budayawan Loloan, mengungkapkan bahwa salah satu alasannya adalah karena para pewaris rumah adat tersebut mulai menjual hunian mereka dan memilih membagi hasilnya dengan keluarga.
Gaya Arsitektur Rumah Adat Suku Loloan
Konstruksi serta pembagian tata ruang rumah adat suku Loloan dirancang dengan strategis dan bisa dikatakan menjadi saksi bisu cerita toleransi antara umat Hindu dan Islam di wilayah tersebut.
Literatur karya Marsuhan menyebutkan bahwa struktur utama rumah panggung Loloan terdiri dari dua lantai dan tersusun dari 3 bagian: lantai atas/loteng, lantai tengah/induk, dan lantai bawah/kolong.
Lantai bawah biasanya digunakan untuk menyimpan benda tak terpakai, sedangkan lantai atas dipergunakan sebagai loteng. Lantai tengah atau lantai induk menjadi pusat hunian utama, dipergunakan untuk beragam aktivitas si pemilik rumah beserta anggota keluarga setiap hari.
Bagian lantai induk ini dibagi lagi menjadi tiga: bagian depan, tengah, dan belakang. Jika masyarakat Hindu punya lumbung untuk menerima tamu, suku Loloan punya "amben" di bagian rumah mereka untuk menyambut pengunjung.
Sementara itu, bagian tengah rumah adat suku Loloan ini difungsikan untuk bilik-bilik kamar tidur si pemilik dan bagian belakang digunakan untuk dapur.
Kehadiran "amben" menjadi penanda bagaimana umat Islam dan Hindu di Loloan membaur dengan harmoni. Amben sengaja diletakkan di depan bangunan sebelum pintu masuk utama atau juga bisa terletak di dalam bangunan setelah pintu masuk.
Area ini sengaja dirancang lebih rendah dari bagian rumah lain agar para tamu bisa duduk bersilah atau memasang posisi kaki berjuntai dengan nyaman. Di satu sisi, masyarakat Hindu di Loloan juga menyediakan gazebo atau lumbung di depan rumah mereka agar bisa bercengkrama dengan para sahabat muslim mereka dengan nyaman.
Sejak zaman dulu, bahkan berlaku sejak zaman kerajaan, masyarakat Islam dan Hindu sudah akrab satu sama lain. Para warga Muslim akan berkunjung ke rumah tetangga mereka yang beragama Hindu ketika momen Galungan-Kuningan, dan umat Hindu pun akan mengunjungi para tetangga Muslim saat Lebaran.
Bangunan khas peninggalan leluhur ini bukan sekadar tumpukan kayu tempat bermukim, melainkan bukti autentik dari terjadinya toleransi dan dialog lintas budaya pada masa silam yang patut kita lestarikan bersama.
Seluruh kemegahan struktur fisik kebanggaan masyarakat Kampung Loloan ini dibangun dengan mengandalkan material utama berupa kayu jati yang terkenal solid dan tahan lama. Mereka memakai sistem bongkar-pasang (knockdown) untuk menyusunnya.
Rumah panggung Suku Lolohan sendiri berkembang seiring berjalannya waktu, dari mulanya non-permanen menjadi semi-permanen, terwujud dari bagian dinding bawah yang diadaptasi dan diganti menggunakan tembok.
Sekian artikel berjudul "Rumah Adat Suku Bali Loloan, Saksi Bisu Toleransi Umat Islam dan Hindu yang Mulai Hilang".
Semoga artikel ini membantu Kawan untuk memahami gaya arsitektur hingga sejarah rumah panggung suku Loloan dan memantik keinginan melestarikan warisan budaya!
REFERENSI
- https://kc.umn.ac.id/id/eprint/25665/3/BAB_I.pdf
- https://digilib.uinsa.ac.id/66441/2/Masruhan_F23416145%20OK.pdf
- https://repositori.kemendikdasmen.go.id/30270/1/TATAKRAMA%20SUKU%20BANGSA%20LOLOAN%20DI%20KABUPATEN%20JEMBRANA%20PROVINSI%20BALI.pdf
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


