demotivasi in this economy sangat wajar tapi perlu tetap waras - News | Good News From Indonesia 2026

Demotivasi in This Economy: Sangat Wajar, tetapi Perlu Tetap Waras

Demotivasi in This Economy: Sangat Wajar, tetapi Perlu Tetap Waras
images info

Foto oleh Vitaly Gariev di Unsplash


Jika belakangan ini Kawan GNFI merasa kurang produktif, mudah cemas soal uang, atau tiba-tiba kehilangan semangat kerja, kamu tidak sendirian.

Fenomena demotivasi, terutama in this economy ini nyata. Hal yang lebih penting adalah ini bukan tanda kita lemah atau kurang bersyukur. Ini respons yang sangat manusiawi terhadap tekanan ekonomi yang memang sedang berat.

Terjebak Mode "Fight or Flight"

Stres finansial ternyata tidak cuma berhenti di kepala. Secara biologis, tubuh kita memang dirancang untuk merespons ancaman lewat mekanisme fight-or-flight, yaitu sistem saraf simpatik aktif, jantung berdebar, hormon kortisol dan adrenalin dilepaskan untuk menyiapkan tubuh menghadapi bahaya.

Mekanisme ini awalnya berevolusi untuk situasi yang benar-benar mengancam nyawa. Masalahnya, tubuh kita juga bisa bereaksi berlebihan terhadap stresor yang sebenarnya tidak mengancam nyawa secara langsung, seperti tekanan pekerjaan atau masalah keuangan.

Jika respons ini terus-menerus aktif tanpa jeda, efeknya bisa merambat ke tekanan darah, kesehatan jantung, hingga kecemasan dan depresi.

baca juga

Masalahnya, ancaman finansial di zaman sekarang sifatnya sudah parah, bukan sesekali. Uang sangat erat kaitannya dengan rasa aman dan kelangsungan hidup. Saat kondisi finansial terasa terancam, otak otomatis masuk ke mode siaga dan melepaskan kortisol seolah sedang menghadapi bahaya fisik.

Bedanya, kalau dulu mode ini aktif sebentar lalu reda setelah ancaman hilang, sekarang banyak orang hidup dalam kondisi "siaga" nyaris setiap hari. Kita sering mengecek notifikasi bank, menghitung ulang bujet, atau cemas soal kenaikan harga.

Efeknya bukan hanya lelah secara mental, tetapi juga fisik, seperti susah fokus, gampang marah, sulit tidur, bahkan menurunnya daya tahan tubuh.

Daya Beli Turun

Nah, ini yang membuat makin frustasi. Secara nominal penghasilan mungkin naik, tetapi secara riil terasa tidak ke mana-mana.

Kalau gaji naik 5% sementara inflasi menyentuh 4%, kenaikan itu nyaris tak terasa karena harga barang naik hampir setara. Jika inflasi lebih tinggi dari kenaikan gaji, daya beli justru menurun secara nyata.

Kondisi ini bukan hanya perasaan subjektif. Upah riil melemah sejak paruh kedua 2025 karena laju inflasi melampaui kenaikan upah, sehingga daya beli masyarakat mulai tertekan meski belum melemah tajam.

Untuk kelompok menengah-bawah, tabungan bahkan cenderung stagnan dan tergerus secara riil saat berhadapan dengan tekanan inflasi dan fluktuasi pendapatan.

Ditambah tekanan dari sisi harga, di mana kenaikan upah minimum yang seharusnya membantu pekerja, justru tidak demikian karena inflasi ikut terkerek. Siklus ini terasa seperti berlari di atas treadmill, di mana segala usaha untuk "naik kelas" secara finansial terasa berat karena garis finish-nya ikut bergeser. 

Wajar jika situasi ini memicu rasa lelah, bahkan putus asa. Di saat kita sudah berusaha keras, faktor eksternal membuat kita cemas. Hal ini yang membuat kesehatan mental kita terganggu karena dihantui rasa cemas.

baca juga

Cara Mempertahankan Kewarasan

Kabar baiknya, meski situasi eksternal sulit dikendalikan, ada beberapa langkah yang bisa membantu menjaga kesehatan mental di tengah tekanan ekonomi:

  • Akui perasaan, jangan ditekan. Pura-pura baik-baik saja justru memperberat stres. Mengenali dan menamai emosi adalah langkah awal untuk meredakannya.

  • Pisahkan nilai diri dari kondisi finansial. Kesulitan ekonomi sering muncul karena faktor sistemik seperti inflasi atau stagnasi upah, bukan semata kegagalan pribadi.

  • Pecah masalah besar jadi langkah kecil. Saat semua terasa mendesak, memecah tugas keuangan menjadi langkah-langkah kecil yang bisa dikelola membantu mengurangi rasa kewalahan.

  • Latih respons tubuh untuk kembali tenang. Karena stres finansial memicu reaksi fisiologis yang sama seperti ancaman fisik, teknik relaksasi seperti napas dalam atau aktivitas fisik ringan bisa membantu tubuh kembali tenang.

  • Bangun jaring dukungan. Bicara dengan orang yang dipercaya, baik keluarga, teman, atau profesional, adalah bagian penting dari resiliensi. Sistem dukungan sosial juga terbukti berperan memperkuat resiliensi individu menghadapi tekanan.

  • Merasa demotivasi di tengah tekanan ekonomi seperti sekarang adalah respons yang wajar, bukan cacat karakter. Akan tetapi, menyadari itu wajar bukan berarti kita berhenti di situ.

    Dengan memahami apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh dan pikiran kita, kita bisa mengambil langkah kecil tetapi konsisten untuk bangkit, sambil tetap realistis terhadap kondisi yang memang sedang menantang ini.

    Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

    Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

    RR
    KG
    Tim Editorarrow

    Terima kasih telah membaca sampai di sini

    🚫 AdBlock Detected!
    Please disable it to support our free content.