"Rasanya sekarang makin panas". Keluhan ini mungkin sering terdengar atau bahkan dirasakan oleh Kawan GNFI ketika beraktivitas di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, atau Makassar. Kondisi tersebut bukan sekadar perasaan.
Selain dipengaruhi perubahan iklim global, cara kita membangun kota juga berkontribusi terhadap meningkatnya suhu perkotaan. Dominasi beton dan aspal, berkurangnya ruang hijau, hingga padatnya aktivitas manusia membuat panas lebih mudah tersimpan dan sulit dilepaskan. Lantas, mengapa kota-kota di Indonesia terasa semakin gerah?
Mengapa Kota Semakin Panas?
Kawan GNFI, suhu udara di Indonesia memang menunjukkan tren peningkatan. Berdasarkan Catatan Iklim Indonesia 2024 yang diterbitkan BMKG, suhu rata-rata nasional meningkat sekitar 0,9 derajat celcius selama periode 1981-2024 atau sekitar 0,02 derajat celcius per tahun. Bahkan, 2024 menjadi tahun terpanas sejak pencatatan dimulai pada 1981 dengan anomali suhu sekitar 0,8 derajat celcius dibandingkan rata-rata periode 1991-2020.
Namun, perubahan iklim bukan satu-satunya penyebab. Pertumbuhan kota yang pesat mengubah banyak kawasan hijau menjadi permukiman, jalan, pusat bisnis, dan infrastruktur. Berkurangnya vegetasi membuat kota kehilangan kemampuan alaminya untuk mendinginkan udara, sementara aktivitas perkotaan mulai dari transportasi hingga penggunaan energi menghasilkan panas tambahan.
Kombinasi antara perubahan iklim dan perubahan tata guna lahan inilah yang membuat suhu di kawasan perkotaan meningkat lebih cepat dibandingkan wilayah sekitarnya.
Urban Heat Island Kota yang Menyimpan Panas
Kawan GNFI, fenomena tersebut dikenal sebagai Urban Heat Island (UHI) atau pulau panas perkotaan. Menurut United States Environmental Protection Agency (US EPA). UHI terjadi ketika permukaan seperti beton, aspal, dan bangunan menyerap panas matahari pada siang hari, lalu melepaskannya kembali secara perlahan sehingga suhu kota tetap tinggi, bahkan setelah matahari terbenam. Akibatnya, suhu udara di kawasan perkotaan dapat 1-4 derajat celcius lebih tinggi dibandingkan daerah di sekitarnya.
Fenomena ini juga terjadi di Indonesia. BMKG menyebutkan bahwa efek Urban Heat Island semakin terasa di berbagai kota besar seperti Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar. Meluasnya kawasan terbangun dan berkurangnya tutupan vegetasi menyebabkan suhu permukaan di wilayah perkotaan terus meningkat.
Artinya, kota tidak hanya terdampak oleh perubahan iklim, tetapi juga memiliki karakteristik yang memperkuat akumulasi panas. Semakin padat pembangunan tanpa diimbangi ruang hijau, semakin besar pula potensi terjadinya Urban Heat Island.
Apa Dampaknya bagi Masyarakat?
Panas yang meningkat tidak hanya membuat aktivitas di luar ruangan terasa tidak nyaman. Tetapi juga berdampak pada kesehatan dan produktivitas. World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa paparan suhu tinggi meningkatkan risiko heat exhaustion,heartstroke, dehidrasi, serta memperburuk penyakit kardiovaskular dan gangguan pernapasan, terutama pada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, dan pekerja luar ruangan.
Di Indonesia, dampak tersebut paling dirasakan oleh masyarakat yang bekerja di ruang terbuka maupun tinggal di kawasan padat dengan akses ruang hijau yang terbatas. Selain itu, meningkatnya penggunaan pendingin ruangan (AC) untuk beradaptasi dengan cuaca panas turut meningkatkan konsumsi energi. Jika kebutuhan listrik masih dipenuhi oleh pembangkit berbahan bakar fosil, kondisi ini berpotensi memperbesar emisi gas rumah kaca dan memperkuat siklus pemanasan.
Karena itu, mengatasi panas perkotaan bukan hanya soal menciptakan kenyamanan, tetapi juga melindungi kesehatan masyarakat dan meningkatkan ketahanan kota terhadap perubahan iklim.
Bagaimana Membuat Kota Lebih Sejuk?
Mengurangi panas perkotaan membutuhkan pendekatan yang menggabungkan infrastruktur hijau, inovasi, dan partisipasi masyarakat. Salah satu langkah paling efekti adalah memperbanyak ruang terbuka hijau (RTH). Menurut UN-Habitat, ruang hijau berperan penting dalam menurunkan suhu lingkungan, meningkatkan kualitas udara, sekaligus memperkuat ketahanan kota terhadap dampak perubahan iklim. Penggunaan material bangunan yang lebih ramah iklim, seperti cool roof, green roof, dan green wall, juga mulai diterapkan di berbagai kota untuk mengurangi penyerapan panas.
Di Indonesia, solusi juga hadir melalui pendekatan edukasi dan teknologi. Salah satunya adalah Jakarta Weather Detective (U-DETECT Jakarta) yang diinisiasi oleh U-Inspire Indonesia. Program ini mengajak siswa sekolah menengah memetakan suhu lingkungan menggunakan sensor Internet of Things (IoT) dan Geographic Information System (GIS). Melalui pendekatan citizen science, para siswa belajar mengenali titik-titik panas di lingkungan sekitar sekaligus memahami bagaimana data dapat digunakan untuk mendukung aksi adaptasi terhadap perubahan iklim.
Pada akhirnya, menciptakan kota yang lebih sejuk bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Kolaborasi antara masyarakat, sekolah, komunitas, akademisi, dan pembuat kebijakan menjadi kunci agar pembangunan kota tetap berjalan tanpa mengorbankan kualitas lingkungan.
Kawan GNFI, perubahan iklim memang menjadi tantangan global, tetapi kondisi kota yang semakin panas juga dipengaruhi oleh cara kita membangun dan mengelolanya. Dengan memperluas ruang hijau, menerapkan desain kota yang lebih adaptif, serta melibatkan masyarakat melalui inovasi seperti U-DETECT Jakarta, kota-kota di Indonesia memiliki peluang untuk menjadi lebih tangguh, sehat, dan nyaman. Di tengah tantangan iklim yang terus berkembang, langkah-langkah kecil yang dilakukan hari ini dapat menjadi fondasi bagi kota yang lebih layak huni di masa depan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


