AIESEC in Untan melanjutkan komitmen penguatan kapasitas pemuda melalui Capacity Building 3 dalam rangkaian program AIESEC Future Leaders (AFL) Summer Peak 2026. Berlangsung di Gedung Kuliah Bersama B, Universitas Tanjungpura pada Sabtu, 16 Mei 2026, kegiatan ini membekali 30 delegasi dengan pendampingan intensif dari 5 orang pendamping (coach) dalam menyusun Curriculum Vitae (CV) serta portofolio profesional berbasis storytelling.
Mengangkat tema "Crafting Your Voyage Story", hari ini delegasi diajak menyusun CV dan portofolio yang tidak sekadar berisi daftar riwayat, melainkan mampu menceritakan perjalanan, keterampilan, dan nilai diri mereka secara lebih berkesan. Sesi dibuka dengan gerakan roll dance untuk mencairkan suasana, dilanjutkan sesi berbagi cerita singkat, tempat setiap delegasi merenungkan satu keputusan yang ingin mereka mulai hari itu demi versi terbaik diri mereka di masa depan.
Materi utama dibawakan oleh Arrini Gloria Situmorang, Local Head of Engagement with AIESEC in Untan. Ia membuka sesi dengan mengajak delegasi menyadari satu hal sederhana, bahwa setiap orang sebenarnya sudah memiliki cerita, entah dari pengalaman berorganisasi, mengerjakan proyek, mengikuti kompetisi, maupun kegiatan sukarela. Tantangannya, menurut Arrini, bukan pada ketiadaan pengalaman, melainkan pada cara mengkomunikasikannya.
"Tantangannya, terkadang kita punya banyak pengalaman, tapi tidak tahu cara mengkomunikasikannya dengan baik. Karena itu, CV dan portofolio itu ada, bukan hanya untuk menunjukkan apa yang sudah kita lakukan, tapi juga menceritakan kisah di balik perkembangan diri kita," terang Arrini.
Arrini kemudian membagikan sejumlah cara praktis menyusun CV, mulai dari memahami tujuan sebelum menulis, sebab kebutuhan CV untuk magang, beasiswa, organisasi, atau pekerjaan tidak pernah sama persis. Ia memperkenalkan metode STAR, yaitu menjelaskan situasi yang dihadapi, tugas yang diemban, langkah yang diambil, hingga hasil yang dicapai, sebagai cara menyampaikan pengalaman secara runtut dan meyakinkan. Ia juga mengingatkan pentingnya memilih kata kunci yang tepat, mengingat banyak proses seleksi kini menyaring CV secara digital sebelum sampai ke tangan perekrut.
Soal portofolio, Arrini menegaskan bahwa dokumen ini bukan milik eksklusif mereka yang bergerak di bidang desain atau kreatif. Proyek akademik, riset, tulisan, hingga dokumentasi kegiatan organisasi pun bisa menjadi bahan portofolio, asalkan disertai proses di baliknya, bukan sekadar hasil akhirnya saja. Ia menutup pemaparannya dengan mengingatkan bahwa menyusun CV dan portofolio pada dasarnya adalah proses memahami diri sendiri, sebelum berusaha meyakinkan orang lain akan nilai yang dimiliki.

Usai sesi materi, pembawa menjelaskan proyek akhir yang akan dikerjakan delegasi secara berkelompok. Setiap tim diminta menganalisis studi kasus yang telah disiapkan dan merumuskan solusi strategis dalam presentasi, mencakup pemahaman kasus, akar masalah, solusi, rencana aksi, hingga dampak yang diharapkan. Penilaian nantinya mempertimbangkan ketajaman analisis, kreativitas solusi, kelayakan rencana aksi, dampak yang dihasilkan, kemampuan presentasi, hingga kekompakan tim menjawab pertanyaan juri.
Sesi ditutup dengan sesi refleksi akhir, tempat beberapa delegasi membagikan satu hal yang paling mereka ingat dari kegiatan hari itu. Jonathan Harry Widjaya Sagala mengaku pelajaran soal personal branding yang paling membekas baginya. "Hal yang paling saya ingat dari sesi hari ini adalah pentingnya personal branding. Saya belajar bahwa sebelum memperkenalkan diri kepada orang lain, kita perlu memahami kekuatan diri sendiri terlebih dahulu dan menata pengalaman kita sedemikian rupa sehingga benar-benar mencerminkan siapa diri kita," ujarnya.
Bagi AIESEC in Untan, Capacity Building 3 tidak melulu soal teknik menulis dokumen. Harapannya, delegasi pulang dengan kemampuan mengenali nilai diri sendiri dan menceritakannya secara meyakinkan, bekal yang akan terus terpakai jauh melampaui program ini, baik untuk kesempatan akademik, organisasi, maupun karir ke depan. Rangkaian AFL Summer Peak 2026 sendiri masih akan berlanjut lewat sesi pendampingan, penyelesaian proyek akhir, hingga proyek sosial yang berdampak langsung bagi masyarakat sekitar.
Sebagai bagian dari jaringan organisasi kepemudaan internasional yang tersebar di lebih dari seratus negara, AIESEC in Untan terus berupaya menghadirkan program yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa masa kini, khususnya dalam mencetak generasi muda yang berani mengambil peran aktif di tengah masyarakat maupun dunia global. Lewat AFL Summer Peak 2026, AIESEC in Untan berharap dapat melahirkan lebih banyak talenta muda Kalimantan Barat yang memiliki kapasitas kepemimpinan sekaligus kepekaan sosial yang kuat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


