Kelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Inovasi (KKNTI) IPB University, khususnya Kelompok SUBANG08, sukses menyelenggarakan program edukasi dan sosialisasi pertanian bertajuk "Rancabango Cerdas Bertani". Kegiatan strategis ini dilaksanakan di Desa Rancabango, Kecamatan Patokbeusi, Kabupaten Subang, pada Senin (20/7/2026). Program ini hadir sebagai wujud nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat desa khususnya dalam mendorong kemajuan sektor agraris.
Kegiatan "Rancabango Cerdas Bertani" bertujuan untuk memperkenalkan berbagai inovasi di bidang teknologi pertanian serta metode pengendalian hama yang efektif, terpadu, dan berkelanjutan. Di tengah tantangan anomali cuaca dan degradasi kualitas lahan, kegiatan ini diharapkan dapat memotivasi petani setempat untuk menerapkan teknik budidaya yang lebih ramah lingkungan. Pada akhirnya, inovasi ini diproyeksikan mampu menekan biaya produksi, meningkatkan produktivitas panen, dan menjaga ekosistem lahan sawah di Kabupaten Subang.
Acara ini mendapat dukungan penuh dan antusiasme tinggi dari berbagai elemen masyarakat serta aparatur pemerintahan setempat. Hal ini dibuktikan dengan kehadiran sejumlah tokoh penting yang turut berdiskusi langsung dengan masyarakat, di antaranya Kepala Desa Rancabango Bapak Hj. Rasam, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Bapak Suryana, Kepala UPTD Pengelolaan Pertanian Bapak Haris Ismail, serta Perwakilan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Ibu Santi.
Dalam sesi pemaparan, perwakilan mahasiswa KKNTI IPB University membagikan tiga inovasi utama yang berfokus pada efisiensi dan kemandirian budidaya. Materi pertama mengupas tuntas tata cara pembuatan pupuk kompos secara mandiri. Mengingat fluktuasi harga pupuk kimia di pasaran, mahasiswa mengedukasi petani untuk kembali memanfaatkan bahan organik, seperti kotoran hewan ternak, arang sekam, dolomit, dan cocopeat. Bahan baku tersebut difermentasi menggunakan bantuan dekomposer serta pupuk hayati selama kurang lebih 35 hari. Melalui proses ini, petani diharapkan mampu memproduksi kompos berkualitas yang kaya unsur hara untuk menyuburkan lahan mereka tanpa harus selalu bergantung pada pupuk pabrikan.
Materi kedua merupakan pengenalan perbenihan unggul, yakni varietas padi IPB 9G. Varietas hasil riset pemulia IPB ini menjadi primadona karena sifatnya yang sangat adaptif; yang dapat tumbuh optimal baik pada lahan sawah tergenang maupun pada kondisi darat atau terbatas air (padi gogo). Padi ini memiliki potensi produktivitas yang sangat tinggi, mencapai 9,09 ton per hektare Gabah Kering Giling (GKG). Selain tahan terhadap cekaman kekeringan dan hemat air berkat sistem pengairan berselang, penanaman IPB 9G juga sangat efisien karena mampu menekan kebutuhan penggunaan pupuk hingga 25 persen tanpa mengorbankan hasil panen.
Sebagai langkah pengendalian hama preventif yang tidak merusak alam, mahasiswa IPB juga memperkenalkan cara pembuatan bumbung konservasi parasitoid. Memanfaatkan bahan sederhana seperti potongan bambu atau botol bekas, alat ini diletakkan di area persawahan. Prinsip kerjanya adalah dengan menyelamatkan dan memperbanyak agen hayati (parasitoid berukuran mikroskopis) dari kelompok telur hama seperti penggerek batang padi dan walang sangit. Parasitoid yang berkembang biak akan secara alami menyerang dan memutus siklus hidup hama tanpa perlu penyemprotan pestisida kimia yang berlebihan.
Tak hanya membekali petani dengan inovasi fisik di lapangan, mahasiswa juga mendorong literasi digital melalui sosialisasi platform IPB Digitani. Platform digital berbasis aplikasi ini dihadirkan sebagai solusi inovatif yang menjadi perantara langsung antara petani dan pakar pertanian di IPB. Melalui IPB Digitani, ruang dan jarak tak lagi menjadi hambatan. Petani dapat berkonsultasi langsung secara mudah dengan para ahli terkait berbagai kendala budidaya, seperti penyakit tanaman yang tidak dikenali sehingga mendapatkan solusi yang cepat, akurat, dan berbasis keilmuan. Mahasiswa dengan sigap membantu para petani mengunduh serta mempraktikkan cara pendaftaran di gawai mereka masing-masing.
Perwakilan Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Bapak Cecep Guntara memberikan materi edukasi tambahan kepada para petani yang hadir, (20/7/2026). Diketahui, materi yang disosialisasikan meliputi pentingnya aplikasi pembenah tanah untuk memperbaiki kualitas unsur hara lahan, serta pengenalan Rumah Burung Hantu (Rubuha) sebagai predator alami yang efektif menekan populasi hama tikus di area persawahan
Rangkaian edukasi ini menjadi semakin paripurna dengan materi tambahan dari praktisi Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT). Bapak Cecep Guntara, selaku perwakilan POPT, memberikan pencerahan mengenai urgensi aplikasi pembenah tanah. Ia menggarisbawahi bahwa pembenah tanah sangat krusial untuk memperbaiki struktur fisik dan kimia lahan yang mulai jenuh, sehingga akar tanaman dapat menyerap nutrisi dengan lebih optimal.
Lebih lanjut, Cecep juga menyosialisasikan pentingnya pendirian Rumah Burung Hantu (Rubuha) di area persawahan. Rubuha difungsikan sebagai tempat bernaung bagi burung hantu (Tyto alba), yang merupakan predator alami paling efektif dalam menekan populasi hama tikus. Pendekatan hayati ini sangat disarankan untuk menjaga keseimbangan rantai makanan ekosistem sawah.
Secara keseluruhan, program edukasi "Rancabango Cerdas Bertani" yang diprakarsai oleh Kelompok SUBANG08 IPB University berhasil menciptakan ruang transfer keilmuan yang interaktif. Sinergi antara temuan akademisi, arahan dari penyuluh POPT dan BPP, serta komitmen aparatur desa ini diharapkan menjadi titik tolak yang kuat untuk mewujudkan pertanian yang modern, mandiri, dan berdaya saing tinggi di Kabupaten Subang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


