Ada satu kebiasaan yang tanpa sadar sering kita lakukan sebagai pembaca: lebih cepat membeli buku terjemahan dibandingkan karya penulis Indonesia.
Seolah-olah cerita dari luar negeri selalu lebih menarik untuk dinikmati. Padahal, begitu banyak penulis Indonesia yang mampu menghadirkan cerita sederhana dengan makna yang begitu dekat dengan kehidupan kita.
Belakangan ini, aku ingin lebih banyak membaca sekaligus merekomendasikan karya penulis Indonesia. Bukan karena buku terjemahan tidak layak dibaca, tetapi karena rasanya kita perlu memberi ruang yang lebih besar bagi cerita-cerita yang lahir dari pengalaman, budaya, dan realitas yang kita alami sendiri.
Salah satu buku yang menarik untuk dibaca adalah "Dompet Ayah, Sepatu Ibu" karya J.S. Khairen.
Ini menjadi buku pertama yang berhasil kuselesaikan dalam satu hari. Bukan karena jumlah halamannya sedikit, melainkan karena setiap bab selalu membuatku ingin terus membuka halaman berikutnya. Bahasanya ringan, mengalir, dan terasa akrab. Ada banyak bagian yang membuatku berpikir, "Bukankah ini juga bagian dari kehidupan kita?"
Novel ini tidak menawarkan kisah yang muluk-muluk. Justru kekuatannya ada pada cerita tentang kehidupan sehari-hari tentang keluarga, mimpi, keterbatasan, dan perjuangan. Hal-hal yang mungkin pernah dialami oleh banyak orang, termasuk aku sebagai pembaca.
Salah satu hal yang paling kusukai dari buku ini adalah caranya memandang perjuangan.
Di dalamnya ada kisah seorang anak perempuan yang bercita-cita menjadi guru. Mimpi yang terdengar sederhana, tetapi untuk membeli sepasang sepatu saja ia harus berjuang begitu keras.
Ada pula seorang anak laki-laki yang tumbuh dalam keluarga yang “broken home”, namun tidak menjadikan keadaan itu sebagai alasan untuk menyerah pada hidup.
Dua cerita itu mengingatkanku bahwa keterbatasan memang bisa memperlambat langkah seseorang, tetapi tidak selalu mampu mematikan harapan.
Sebagai pembaca, aku juga banyak merenungkan tentang istilah sandwich generation. Selama ini istilah tersebut sering dibicarakan dengan nada yang berat, seolah hanya identik dengan beban dan pengorbanan. Setelah membaca buku ini, aku justru melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.
Menjadi seseorang yang harus berjuang bukan hanya untuk dirinya sendiri memang menghabiskan banyak energi. Ada mimpi yang harus ditunda, ada kenyamanan yang harus dikorbankan. Namun, berjuang untuk keluarga tidak selalu berarti kita kehilangan kesempatan untuk hidup dengan bahagia.
Justru bagi sebagian orang, keluarga adalah alasan terbesar untuk terus bertahan, berkembang, dan mengejar cita-cita.

dokumentasi pribadi
Aku sempat berhenti cukup lama ketika membaca bagian akhir buku ini. J.S. Khairen menulis bahwa ada satu indikator kemiskinan yang sering luput dari perhatian, yaitu ”semangat”.
Kalimat itu sederhana, tetapi terus teringat bahkan setelah bukunya selesai kubaca.
Sering kali kita mengukur kemiskinan hanya dari pendapatan, pekerjaan, atau akses terhadap pendidikan. Padahal, ada sesuatu yang jauh lebih mendasar: semangat untuk terus berjuang.
Memang, semangat tidak akan langsung menghapus kemiskinan atau mengubah keadaan seperti membalik telapak tangan. Namun, semangat membuat seseorang terus belajar, terus mencoba, dan terus percaya bahwa hidupnya masih bisa berubah.
Mungkin terdengar klasik, tetapi begitulah kenyataannya.
Aku juga merasakan hal yang sama, meski dengan cerita hidup yang berbeda. Ada masa ketika yang paling sulit dijaga bukanlah kemampuan untuk bekerja keras, melainkan keyakinan bahwa perjuangan yang sedang dijalani suatu hari akan menemukan jalannya. Karena itulah, bagian tentang semangat ini terasa begitu dekat denganku.
Tentu, bukan berarti mereka yang hidup berkecukupan tidak memiliki semangat ataupun empati. Namun, buku ini mengajak kita melihat kehidupan dari sudut pandang mereka yang berada di lapisan masyarakat paling rentan, mereka yang tetap memilih bangkit meski berkali-kali terjatuh.
Menurutku, inilah kekuatan karya penulis Indonesia. Mereka mampu menghadirkan cerita yang terasa dekat karena lahir dari realitas yang kita lihat setiap hari.
Tidak selalu penuh kejutan, tetapi jujur. Tidak selalu megah, tetapi mampu meninggalkan bekas yang panjang setelah halaman terakhir selesai dibaca.
Bagiku, "Dompet Ayah, Sepatu Ibu" bukan sekadar novel tentang kemiskinan atau perjuangan keluarga. Buku ini adalah pengingat bahwa mimpi tetap layak diperjuangkan, bahwa keluarga bisa menjadi alasan seseorang bertahan, dan bahwa semangat sering kali menjadi modal paling berharga ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja.
Kalau kamu sedang mencari bacaan yang ringan, hangat, dan membuatmu berhenti sejenak untuk merenungkan arti perjuangan, buku ini layak masuk ke dalam daftar bacamu.
Dan semoga, setelah membaca buku ini, kita juga semakin percaya bahwa karya penulis lokal memiliki begitu banyak kisah luar biasa yang akan membawa kita makin mengenal Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


