Audiens muda di seluruh Asia Tenggara kini semakin banyak memperoleh berita mereka dari chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) dan platform video berdurasi pendek seperti TikTok, alih-alih dari mesin pencari atau media cetak.
Pergeseran ini menjadi salah satu perhatian utama yang mengemuka dalam ASEAN Media Forum edisi ke-10 yang diselenggarakan pada 29–30 Juli lalu.
Forum tersebut mempertemukan kembali para pemimpin dan praktisi media dari seluruh Asia Tenggara di Manila selama dua hari untuk membahas bagaimana jurnalisme harus berkembang seiring dengan kemajuan kecerdasan buatan, perubahan kebiasaan audiens, serta semakin kompetitifnya ruang informasi digital.
Sejak pertama kali digelar pada 2017, forum ini telah menjadi ajang evaluasi berkala bagi komunitas media ASEAN: sebuah kesempatan untuk meninjau kembali prioritas dan pencapaian di Asia Tenggara, sekaligus menimbangnya dalam konteks perubahan regional dan global yang lebih luas.
Sekretaris Jenderal ASEAN, Dr. Kao Kim Hourn, membuka forum tahun ini dengan mengaitkan misi tersebut secara langsung dengan situasi saat ini, yang menurutnya ditandai oleh ketegangan geopolitik, ketidakpastian ekonomi, dan perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat. Ia berpendapat bahwa dalam kondisi seperti itu, tugas jurnalisme jauh melampaui sekadar melaporkan peristiwa.
Jurnalisme juga harus memverifikasi berbagai klaim, memberikan konteks, serta membekali masyarakat dengan informasi yang mereka perlukan untuk mengambil keputusan secara tepat dan berdasarkan informasi yang memadai.
Kim Hourn juga menyoroti pentingnya hal tersebut bagi ASEAN, di mana proses kerja sama kawasan cenderung berlangsung secara bertahap dan manfaatnya tidak selalu langsung terlihat oleh masyarakat. Menurutnya, cara dalam bagaimana proses tersebut diberitakan akan sangat memengaruhi apakah masyarakat memandang ASEAN sebagai sesuatu yang relevan atau tidak.
Ia juga menegaskan secara gamblang apa yang kini dipertaruhkan bagi industri media secara keseluruhan: “Kepercayaan publik, jika sekali saja hilang, akan sangat sulit untuk dipulihkan kembali. Karena itu, kredibilitas merupakan salah satu aset media yang paling berharga, sekaligus yang paling rentan.”
AI sebagai Alat, Bukan Pencipta
Pembahasan mengenai AI muncul hampir di setiap sesi, tetapi mendapatkan sorotan paling tajam dalam panel pada 30 Juli yang membahas peran media dalam membentuk masa depan ASEAN.
Panel tersebut menghadirkan Jaemark Tordecillia, mantan Kepala Media Digital GMA News Filipina; Akhyari Hananto, pendiri Good News from Indonesia dan Seasia; serta Noel Hidalgo Tan, pejabat senior di Divisi Kebudayaan dan Informasi Sekretariat ASEAN.
Hananto menjelaskan bahwa organisasinya telah mengintegrasikan AI ke dalam berbagai tahapan produksi konten, mulai dari riset, penerjemahan, hingga penyusunan format, dan sebagai hasilnya jumlah pembaca meningkat secara signifikan. Namun, ia juga menegaskan batas yang tidak boleh dilampaui.
Menurutnya, keputusan editorial tetap berada di tangan manusia. Setiap konten harus melalui proses peninjauan dan verifikasi oleh editor sebelum dipublikasikan, karena sistem AI rentan menghasilkan informasi yang keliru (hallucination), termasuk menciptakan detail yang tidak benar dan mencantumkan sumber yang sebenarnya tidak ada, sering kali berupa tautan yang rusak atau bahkan sepenuhnya fiktif.
Karena itu, timnya kini memeriksa silang hasil keluaran dari beberapa model AI dan menganggap persetujuan akhir oleh manusia sebagai syarat yang tidak dapat ditawar. Ia merangkum pendekatan medianya dengan kalimat, "Kami adalah media yang dibantu AI, bukan media yang dihasilkan oleh AI."
Tordecillia memandang perubahan ini dari sudut yang lebih struktural. Menurutnya, ruang redaksi di kawasan kini telah mencapai titik di mana mengikuti perkembangan teknologi AI bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kebutuhan.
Untuk saat ini, sebagian besar pemanfaatannya masih berfokus pada peningkatan efisiensi, seperti mempercepat alur kerja dan memungkinkan lebih banyak berita diproduksi dengan sumber daya yang sama.
Namun, ia melihat peluang yang lebih menarik justru terletak pada kemampuan AI untuk membantu menghadirkan kisah-kisah yang sebelumnya sulit diwujudkan, sekaligus menjangkau audiens yang tidak pernah tersentuh oleh format media konvensional.
Sementara itu, Tan menghadirkan perspektif kebijakan regional dalam diskusi tersebut. Ia menekankan bahwa AI generatif bukanlah penyebab lahirnya disinformasi. Yang berubah adalah biaya dan kemudahan untuk memproduksi konten palsu dalam skala besar, yang kini menjadi jauh lebih murah dan cepat.
Menurutnya, persoalan yang lebih mendasar bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada semakin terkikisnya kepercayaan publik, baik terhadap institusi maupun terhadap media.
Beradaptasi tanpa Kehilangan Esensi
Di luar pembahasan mengenai AI, para panelis berulang kali kembali pada isu perubahan perilaku audiens. Tordecillia menyoroti bahwa generasi muda kini hampir sama seringnya memperoleh berita melalui chatbot AI seperti melalui media cetak. Pergeseran ini membuat organisasi media nyaris tidak memiliki pilihan selain menyesuaikan strategi mereka.
Hananto mengungkapkan pola lain yang berkaitan dengan hal tersebut. Menurutnya, semakin banyak audiens muda yang melewati mesin pencari dan langsung beralih ke platform visual berformat video pendek seperti TikTok.
Menanggapi perubahan itu, medianya semakin berfokus pada format interaktif dan konten video yang dirancang khusus untuk audiens tersebut. Strategi ini membantu mendorong kanal-kanal mereka mencatat hampir 5 miliar tayangan sepanjang tahun lalu.
Ia juga secara terbuka mengakui adanya konsekuensi dari perubahan tersebut. Platform media sosial mengutamakan keterlibatan (engagement), bukan akurasi, dan organisasi media memiliki ruang yang sangat terbatas untuk mengubah logika itu secara langsung.
Yang dapat mereka kendalikan adalah bagaimana menyesuaikan produksi konten agar tetap efektif di dalam ekosistem tersebut, tanpa mengorbankan standar editorial.
Hal lain yang patut dicatat, dalam diskusi panel tersebut TikTok secara khusus disebut sebagai platform yang menarik audiens muda menjauh dari mesin pencari.
Instagram tidak menjadi bagian dari pembahasan itu, meskipun strategi Good News from Indonesia (GNFI) dan Seasia yang mengandalkan konten berbentuk carousel di kedua platform tersebut merupakan bagian dari narasi yang lebih luas mengenai bagaimana media beradaptasi dengan algoritma.
Tan kemudian mengaitkan berbagai penyesuaian tersebut dengan kebijakan di tingkat regional. Ia merujuk pada ASEAN Work Plan for Information and Media 2026–2035, yang menetapkan lima pilar strategis, yaitu akses informasi, integritas, produksi konten, transformasi digital, serta kolaborasi lintas sektor.
Ia juga mengingatkan agar transformasi digital tidak dipandang sebagai pengganti sepenuhnya bagi saluran media konvensional. Menurutnya, televisi dan radio tetap memegang peran penting dalam komunikasi darurat serta dalam menjangkau masyarakat yang memiliki akses digital terbatas.
Para delegasi juga menyerukan penguatan kerja sama lintas negara di antara organisasi media ASEAN. Mereka menilai bahwa masyarakat di kawasan masih lebih banyak mengonsumsi berita domestik, sementara liputan mengenai negara-negara tetangga masih sangat terbatas.
Sejumlah pembicara berpendapat bahwa membangun ruang informasi regional yang lebih terintegrasi membutuhkan lebih banyak liputan bersama, proyek kolaboratif, serta kerja sama langsung antar ruang redaksi.
Memasuki tahun ke-10 penyelenggaraannya, benang merah forum ini pada dasarnya tidak banyak berubah. Teknologi akan terus mengubah cara jurnalisme diproduksi, tetapi nilai utama industri media tetap bertumpu pada fondasi yang sama seperti selama ini: informasi yang telah diverifikasi dan disampaikan oleh orang-orang yang bersedia bertanggung jawab atasnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


