Brebes sudah lama dikenal sebagai sentra utama penghasil bawang merah. Di balik hamparan hijau kawasannya, para petani kerap berhadapan dengan ancaman serangan hama ulat daun (Spodoptera exigua) serta ketergantungan tinggi pada obat-obatan kimia.
Peneliti dari Pusat Riset Hortikultura Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menghabiskan waktu empat tahun terakhir untuk menguji berbagai teknik budidaya langsung di lahan pertanian warga desa.
Uji coba ini memetik berbagai temuan praktis yang bisa diterapkan secara bertahap. Pada tahun pertama uji coba, tim periset mendapati penggunaan benih umbi berukuran besar dan sedang mampu menghasilkan volume panen jauh lebih tinggi dibanding umbi kecil.
Memasuki tahun kedua, riset bergeser pada penggunaan pelindung jaring atau netting house yang dipasang menutupi area tanam. Pemasangan kerodong pelindung ini terbukti memangkas frekuensi penyemprotan obat hama hingga 50 persen.
Hasil panen bawang merah juga melompat naik dari angka 9,4 ton per hektare menjadi 16,6 ton per hektare.
"Pada tahun pertama, kami menemukan bahwa penggunaan benih berupa umbi berukuran besar mampu menghasilkan panen lebih tinggi dibandingkan umbi berukuran sedang maupun kecil. Oleh karena itu, kami merekomendasikan petani menyeleksi benih dengan memilih umbi berukuran besar atau sedang untuk ditanam," kata peneliti Pusat Riset Hortikultura BRIN Joko Pramono.
Siasat Tanam Pembatas dan Pemanfaatan Jaring Pelindung
Eksperimen dilanjutkan pada tahun ketiga lewat uji coba sistem tumpang sari bersama tanaman jagung. Penanaman jagung berdampingan di dalam petak yang sama ternyata membuat hasil panen bawang menurun akibat tertutup naungan daun jagung.
Tim periset kemudian mengubah strategi dengan menanam jagung sebagai benteng pembatas di sekeliling area lahan.
Pola tanaman pembatas yang ditanam dua minggu sebelum masa tanam bawang ini terbukti efektif menghalau serbuan hama tanpa mengganggu pencahayaan matahari. Memasuki riset tahun keempat, tim menguji metode solarisasi tanah serta pemberian biochar untuk menekan penyakit akibat serangan jamur dan bakteri.
Efektivitas jaring kerodong sendiri sangat bergantung pada kedisiplinan petani di lapangan. Pemasangan jaring harus menutup seluruh bagian area tanam secara rapat agar ngengat tidak bisa masuk bertelur.
"Kerodong harus menutup rapat pertanaman, agar ngengat tidak dapat masuk. Selain itu, penggunaan kerodong dengan lubang lebih rapat dapat menghambat masuknya hama berukuran kecil," kata periset Pusat Riset Hortikultura BRIN Rini Murtiningsih.
Meskipun modal awal pembelian jaring cukup tinggi, alat ini dapat dipakai secara berulang hingga enam sampai sepuluh kali musim tanam. Pengadaan jaring lewat sistem sewa di kelompok tani menjadi opsi terjangkau bagi para petani lokal.
Di balik capaian teknik tanam baru tersebut, riset BRIN memberikan catatan penting terkait kondisi tanah di pusat produksi bawang merah Brebes. Pengujian laboratorium menunjukkan sisa racun dari beberapa jenis obat hama yang sudah lama dilarang masih mengendap di dalam tanah dan jaringan tanaman.
Kandungan bahan organik tanah di kawasan ini terpantau berada pada tingkat yang rendah akibat penggunaan bahan kimia secara terus-menerus. Kondisi ini memerlukan langkah pemulihan tanah secara bertahap.
Perbaikan kualitas tanah dilakukan melalui pemberian bahan organik terfermentasi serta penambahan dolomit untuk menjaga tingkat keasaman tanah. Pengembalian kesuburan tanah ini menjadi syarat agar lahan pertanian di Brebes tetap produktif dan aman digunakan untuk jangka panjang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

