Elisa masih ingat betul rasanya mengangkat besi dan engsel di sebuah toko bangunan milik warga keturunan Tionghoa. Upahnya waktu itu Rp70.000 per hari. Akan tetapi, kesempatan itu memang harus diambil demi membiayai kuliahnya.
Itu baru satu dari 13 pekerjaan sampingan yang pernah dijajal Elisa selama kuliah. Ia pernah jadi host live streamer, penulis lepas, sampai sekretaris dadakan di sebuah startup rintisan. Semuanya dilakoni sambil kuliah, sambil menahan beban ekonomi keluarga yang runtuh gara-gara pandemi Covid-19.
Hari ini, kerja keras itu berbuah jadi Daur Tanggung, bisnis pengepulan sampah yang ia dirikan bersama sang ayah pada Desember 2024. Bisnis ini kini bermitra dengan lebih dari 116 pemulung dan mengelola 20-25 ton sampah setiap bulan.
Semuanya dilakoni sambil menahan beban ekonomi keluarga yang runtuh gara-gara pandemi Covid -19.
Hari ini, kerja keras itu berbuah jadi Daur Tanggung.
Apa Itu Daur Tanggung?
Bagi yang belum familiar, Daur Tanggung adalah bisnis pengepulan sampah atau yang dalam bahasa sehari-hari sering disebut lapak atau bandar rongsokan. Bedanya, Daur Tanggung memposisikan diri sebagai perantara yang lebih adil antara pemulung dan pasar daur ulang.
Cara kerjanya seperti pengepul kebanyakan. Pemulung mengumpulkan sampah bernilai jual, seperti botol plastik, kardus, besi, aluminium, hingga jeriken bekas, dari jalanan atau tempat sampah warga.
Sampah itu kemudian disetorkan ke Daur Tanggung untuk ditimbang dan dibeli dengan harga tertentu sesuai jenisnya. Setelah terkumpul dalam jumlah besar, Daur Tanggung menjualnya kembali ke pabrik atau industri yang mengolah sampah tersebut jadi bahan baku baru.
Dengan kata lain, Daur Tanggung berperan sebagai pengepul, pihak tengah dalam rantai daur ulang, sebelum sampah benar-benar diproses jadi produk baru seperti kertas atau biji plastik daur ulang.
Yang membedakan Daur Tanggung dari pengepul kebanyakan adalah dua hal, yakni edukasi dan transparansi harga. Banyak pemulung selama ini tidak paham jenis-jenis sampah dan harga pasarannya, sehingga rentan dibayar murah oleh pengepul yang tidak jujur. Daur Tanggung mencoba menutup celah itu—dan dampaknya, seperti akan diceritakan nanti, cukup signifikan bagi pendapatan para pemulung mitranya.
Bisnis ini didirikan Elisa bersama sang ayah pada Desember 2024. Kini, hanya dalam waktu kurang dari dua tahun, Daur Tanggung sudah bermitra dengan lebih dari 116 pemulung dan mengelola 20-25 ton sampah setiap bulan. Angka tersebut setara sekitar 2-3 truk tronton penuh sampah per bulannya.
Ketika Usaha Orang Tua Runtuh di Tengah Kuliah
Up and down kehidupan telah Elisa rasakan. Akan tetapi, pendirian Daur Tanggung ini dimulai dari titik paling rapuh dalam hidup seorang mahasiswa.
Elisa bercerita, usaha orang tuanya sempat merosot tajam saat ia baru duduk di semester 2 menuju semester 3. Penyebabnya, pandemi Covid-19. Di masa itu, ia berpikir untuk berhenti kuliah. Namun orang tuanya menolak keras.
"Mereka tuh kayak, enggak gimana pun caranya harus kuliah," katanya menirukan sikap keras kepala orang tuanya.
Di situlah mental Elisa mulai terbentuk. Mau atau tidak, ia harus berupaya mencari uang untuk membiayai kuliahnya yang baru saja dijalani 1 tahun.
Kolektor 13 Pekerjaan Sampingan
Demi menyambung hidup dan membantu orang tua, Elisa tidak pilih-pilih pekerjaan. Ia mencicipi total 13 pengalaman kerja selama masa kuliah. Mulai dari menjadi host live streamer dengan gaji Rp1 juta per bulan, hingga menjadi penulis fiksi dan copywriter.
Pengalaman yang paling membekas adalah saat ia bekerja di sebuah toko bangunan milik warga keturunan Tionghoa. Di sana, ia benar-benar melakukan pekerjaan fisik yang berat.
"Itu benar-benar aku ngangkat barang... barang engsel, terus kayak besi dan segala macem itu cat," ungkapnya.
Semua itu ia lakukan di sela-sela jadwal kuliah yang padat dari pagi hingga sore.
Tak hanya itu, Elisa juga mengejar beasiswa untuk meringankan tanggungan kuliahnya.
Belajar dari Kegagalan: Gagal di 30 Besar, tapi Tetap Jalan
Berbagai pengalaman itu secara tidak langsung menjadi landasan berdirinya Daur Tanggung.
Gagasan membangun Daur Tanggung sebenarnya berawal dari sebuah kegagalan. Pada September 2024, Elisa mendaftarkan ide bisnisnya ke program Pertamuda (Pertamina Muda), ajang kompetisi bisnis untuk mahasiswa yang digagas Pertamina.
Idenya sempat lolos ke 80 besar, sebuah kejutan bagi Elisa sendiri. Namun langkahnya terhenti di tahap seleksi administratif menuju 30 besar.
Gagal jadi pemenang, Elisa justru merasa tertantang. Elisa lantas merancang ulang Daur Tanggung, berbekal beasiswa dari Pertamina yang ia dapatkan sejak semester 3. Sang ayah, yang punya rekam jejak panjang berbisnis—mulai dari jual-beli sayur mayur, motor, sampai empang ikan—pun turut ikut memberinya dukungan.
"Bapakku tuh bilang, yaudah, ini usaha jalanin aja. Coba aja dulu," kata Elisa kepada GNFI.
Desember 2024, Daur Tanggung resmi berdiri, tanpa menunggu validasi dari kompetisi apa pun.
Makna di Balik Nama "Daur Tanggung"
Nama Daur Tanggung sengaja dipilih tanpa embel-embel bahasa Inggris. Elisa ingin mengubah cara pandang masyarakat Indonesia terhadap sampah.
Nama "Daur Tanggung" dipilih bukan tanpa alasan. "Daur" berarti daur ulang, sedangkan "Tanggung" adalah singkatan dari tanggung jawab bersama. Elisa ingin mengubah stigma bahwa sampah adalah masalah pemerintah semata. Baginya, siapapun yang mengonsumsi sesuatu, ia bertanggung jawab atas proses akhirnya.
"Seringnya kita kan kadang salah-salahan gitu ya, kalau misalnya kita udah ngomongin sampah kayak, ah ini masalah pemerintah, ini masalah masyarakat," jelas Elisa.
Menurutnya, persoalan sampah sejatinya adalah tanggung jawab kolektif, mulai dari konsumen hingga pengelola akhir.
Nota Dua Rangkap: Senjata Melawan Ketidaktransparanan
Salah satu masalah klasik dalam bisnis pengepulan sampah di Indonesia adalah minimnya transparansi harga terhadap pemulung. Banyak pemulung tidak paham jenis sampah dan harga pasarannya, sehingga rentan dibayar murah oleh pengepul.
Daur Tanggung menjawab persoalan ini dengan menerapkan sistem nota dua rangkap. Satu lembar dipegang pemulung, satu lagi disimpan Daur Tanggung. Nota itu berisi catatan berupa jenis barang dan harga yang jelas, sehingga tidak ada ruang manipulasi timbangan atau harga.
Sistem sederhana ini terbukti berdampak nyata. Elisa menceritakan kisah salah satu mitranya, Pak Handoyono, yang sebelumnya berpenghasilan Rp40.000-60.000 per hari dari hasil memulung. Setelah bergabung dengan Daur Tanggung dan mendapat edukasi soal jenis serta harga sampah, pendapatannya melonjak menjadi Rp100.000-150.000 per hari. Ada kenaikan sekitar 50%.
"Itu menurut aku hal yang membuat aku bangga sih, justru karena kayak, oh ternyata edukasiku berhasil," ujar Elisa.
Masih Sebatas Pengepul, Bermimpi Jadi Lebih
Saat ini, Daur Tanggung masih berperan sebagai distributor atau pengepul. Mereka menyalurkan sampah terpilah ke pihak lain yang mengolahnya menjadi bahan baku baru. Untuk naik level menjadi pengolah daur ulang penuh, Elisa mengakui butuh mesin dan investasi besar yang belum bisa dijangkau saat ini.
Menutup ceritanya, Elisa menitipkan pesan sederhana bagi generasi sebayanya yang kerap dihantui rasa takut memilih jalan hidup di tengah banyaknya pilihan.
"Kita nggak pernah tahu yang mana yang terbaik buat kita gitu ya, dan ya let's go on gitu, maksudnya hidup akan terus berjalan. Jadi coba aja dan gas aja sih, sampe akhir gas aja sampe ujung," pesannya.
Dari 13 pekerjaan sampingan, kegagalan di ajang kompetisi nasional, hingga bisnis yang kini menghidupi ratusan keluarga pemulung, perjalanan Elisa adalah pengingat bahwa naik kelas tidak selalu butuh jalan mulus. Kadang, cukup bermodal nekat dan kemauan untuk terus mencoba.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


