dari tutup botol jadi gantungan kunci dari jelantah jadi lilin cerita ecocrea di solokanjeruk - News | Good News From Indonesia 2026

Dari Tutup Botol jadi Gantungan Kunci, Jelantah jadi Lilin: Cerita ECOCREA di Solokanjeruk

Dari Tutup Botol jadi Gantungan Kunci, Jelantah jadi Lilin: Cerita ECOCREA di Solokanjeruk
images info

Dokumentasi Pribadi


Aparatur Desa Solokanjeruk pernah memperkirakan, tumpukan sampah di tempat pembuangan sementara (TPS) desa membutuhkan sekitar 20 truk tronton jika seluruhnya harus diangkut. Angka itu cukup besar untuk ukuran satu desa.

Namun, gambaran soal sampah di Solokanjeruk sebenarnya tidak perlu dicari jauh-jauh. Berjalan menyusuri beberapa bagian desa, botol plastik dan gelas sekali pakai masih mudah ditemukan di pinggir jalan maupun saluran air.

Kondisi tersebut tidak berdiri sendiri. Solokanjeruk merupakan desa semi-urban dengan aktivitas warga yang cukup padat. Barang sekali pakai sudah menjadi bagian dari keseharian, termasuk dalam kegiatan yang berlangsung di lingkungan desa. Botol minuman, gelas plastik, dan berbagai kemasan rumah tangga terus digunakan, sementara tidak semuanya berakhir di tempat pengelolaan sampah.

Kebiasaan itu yang kemudian menjadi salah satu perhatian tim KKN-T IPB University ketika menyusun program ECOCREA, singkatan dari "Eco Creative from Household Waste".

Alih-alih memulai dari kampanye besar tentang pengurangan sampah, tim memilih membawa persoalan tersebut ke dalam kegiatan yang bisa langsung dicoba warga. Sampah yang biasanya dibuang diubah menjadi barang lain yang bisa digunakan kembali.

ECOCREA kemudian dijalankan melalui dua kegiatan. Siswa SDN 02 Solokanjeruk diajak mengolah tutup botol plastik menjadi gantungan kunci. Sementara itu, ibu-ibu PKK belajar memanfaatkan minyak jelantah untuk membuat lilin aromaterapi.

baca juga

Pintu Masuk Bernama Upcycling

Sebelum menentukan bentuk kegiatannya, tim KKN mempertimbangkan kebiasaan pengelolaan sampah yang ingin mereka kenalkan kepada warga.

Prinsip 3R terdiri dari reduce, reuse, dan recycle. Mengurangi penggunaan barang sekali pakai dan menggunakan kembali barang yang masih bisa dimanfaatkan menjadi bagian penting dalam pengelolaan sampah. Namun, dua kebiasaan tersebut membutuhkan perubahan perilaku yang cukup dekat dengan aktivitas sehari-hari.

Tim kemudian memilih recycle, khususnya melalui kegiatan upcycling, sebagai langkah awal. Sampah yang biasanya langsung dibuang diolah menjadi benda dengan fungsi berbeda. Anak-anak dapat melihat sendiri perubahan botol plastik menjadi gantungan kunci. Ibu-ibu PKK dapat membawa minyak jelantah dari dapur dan mengolahnya menjadi lilin.

Cara ini juga membuat kegiatan lebih mudah dipraktikkan. Bahan utama yang digunakan bukan barang yang sulit ditemukan. Justru sebaliknya, bahan tersebut berasal dari barang yang setiap hari ada di sekitar rumah.

Tutup Botol Berubah jadi Gantungan Kunci

Kegiatan pertama berlangsung pada Rabu, 29 Juli 2026, di SDN 02 Solokanjeruk. Lebih dari 100 siswa kelas 5 dan 6 mengikuti kegiatan tersebut.

Bagi sebagian siswa, pembahasan mengenai sampah dan 3R ternyata masih merupakan hal baru. Sebelum mulai membuat kerajinan, tim KKN terlebih dahulu mengenalkan konsep reduce, reuse, dan recycle.

Penjelasan itu penting karena kegiatan membuat gantungan kunci tidak ingin berhenti pada keterampilan membuat kerajinan. Siswa juga dikenalkan pada posisi kegiatan tersebut dalam pengelolaan sampah.

Mengubah tutup botol menjadi gantungan kunci termasuk bagian dari recycle, tetapi mengurangi penggunaan barang sekali pakai dan menggunakan kembali barang yang masih layak tetap menjadi kebiasaan yang perlu dilakukan.

baca juga

Setelah sesi penjelasan selesai, meja-meja kelas mulai dipenuhi bahan yang sebelumnya mungkin hanya dianggap sampah. Botol dan tutup botol plastik dipotong, disusun, lalu dirangkai menjadi gantungan kunci.

Bagi anak-anak, bagian paling menarik justru ketika mereka mulai melihat bentuk benda yang mereka buat. Tutup botol yang biasanya masuk tempat sampah kini memiliki fungsi baru dan bisa dibawa pulang.

Kegiatan itu ternyata tidak berhenti ketika sesi di sekolah selesai. Beberapa hari setelah pelaksanaan, sejumlah siswa mencoba membuat gantungan kunci kembali di rumah dengan pendampingan orang tua. Beberapa siswa bahkan datang beramai-ramai ke posko tim KKN untuk melanjutkan kegiatan tersebut bersama-sama.

Kedatangan mereka tidak termasuk agenda awal ECOCREA. Tim memang tidak menjadwalkan sesi lanjutan di posko. Namun, para siswa tersebut datang karena masih ingin membuat gantungan kunci.

Bagi tim, pengalaman itu menjadi salah satu bagian yang paling menarik dari kegiatan di sekolah. Kerajinan yang dibuat sebagai bagian dari program kemudian dicoba lagi oleh siswa di luar kegiatan resmi.

Respons siswa juga terlihat dari rencana kegiatan mereka berikutnya. Zalika, wali kelas 5A, mengatakan sejumlah siswanya bahkan ingin mengulang kegiatan tersebut pada pelajaran Seni Rupa berikutnya karena masih ingin membuat kerajinan yang sama. 

Minyak Jelantah Masuk ke Dapur PKK

Seminggu setelah kegiatan di SD, ECOCREA dilanjutkan dengan sasaran yang berbeda.

Pada Kamis, 6 Agustus 2026, tim KKN mengadakan pelatihan pengolahan minyak jelantah di Sekretariat PKK Desa Solokanjeruk. Pesertanya adalah ibu-ibu PKK yang sehari-hari juga berhadapan langsung dengan limbah minyak dari aktivitas memasak di rumah.

Minyak goreng yang sudah digunakan biasanya tidak lagi dipakai untuk memasak. Salah satu pilihan yang sering dilakukan adalah membuangnya ke saluran air atau lingkungan sekitar rumah. Jika dilakukan berulang kali, kebiasaan tersebut dapat membuat minyak masuk ke saluran air dan mencemari lingkungan perairan. Karena itu, minyak jelantah dipilih sebagai bahan kegiatan kedua.

baca juga

Dalam pelatihan tersebut, minyak yang dibawa dari rumah diolah menjadi lilin aromaterapi. Ibu-ibu PKK mengikuti prosesnya bersama tim, mulai dari menyiapkan bahan sampai menghasilkan lilin yang bisa digunakan.

Bentuk akhirnya cukup berbeda dari bahan awal. Minyak yang sebelumnya dianggap sudah tidak terpakai berubah menjadi benda yang dapat digunakan kembali di rumah.

Lilin tersebut dapat digunakan sebagai pengharum ruangan. Dalam kondisi tertentu, lilin juga dapat membantu mengusir serangga dan menjadi alternatif penerangan ketika listrik padam.

Respons serupa muncul dari kegiatan di PKK. Tati Mulyati, Ketua Divisi Pokja III PKK Desa Solokanjeruk, mengatakan beberapa peserta mencoba menyalakan kembali lilin yang dibuat dan mendapati aromanya tetap wangi tanpa bau tengik. Bahkan, ada peserta yang berencana membuat ulang lilin aromaterapi tersebut untuk dijual. 

Pemilihan kelompok PKK juga berkaitan dengan jaringan organisasi yang sudah dimiliki kelompok tersebut. PKK punya struktur hingga tingkat RT dan RW. Dengan begitu, pengetahuan yang diperoleh dalam satu kegiatan berpeluang dibagikan kembali kepada kelompok yang lebih luas.

Artinya, pelatihan tidak harus berhenti pada ibu-ibu yang hadir di Sekretariat PKK hari itu. Mereka dapat mencoba kembali di rumah dan menunjukkan prosesnya kepada anggota keluarga atau warga lain.

Dua kegiatan ECOCREA menggunakan bahan yang berbeda, tetapi memiliki pertimbangan yang sama. Tim memilih barang yang memang dekat dengan kehidupan warga.

Botol dan tutup botol plastik mudah ditemukan dari konsumsi sehari-hari. Begitu pula minyak jelantah yang dihasilkan dari kegiatan memasak rumah tangga. Bahan-bahan tersebut tidak membutuhkan pencarian khusus sehingga kegiatan dapat diulang setelah program KKN berakhir.

Untuk siswa, gantungan kunci menjadi bentuk sederhana dari pemanfaatan sampah plastik. Mereka dapat mencoba membuatnya kembali dengan bahan yang tersedia di rumah, tentu dengan pendampingan orang tua ketika prosesnya membutuhkan alat yang tidak aman digunakan sendiri.

Bagi ibu-ibu PKK, pelatihan lilin aromaterapi memberikan alternatif pemanfaatan minyak jelantah yang sudah tidak digunakan untuk memasak. Resep dan proses yang dipelajari dapat dipraktikkan kembali tanpa harus menunggu mahasiswa datang lagi.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.