dunia sedang tidak baik baik saja bagaimana kita tetap optimis - News | Good News From Indonesia 2026

Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja. Bagaimana Kita Tetap Optimis?

Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja. Bagaimana Kita Tetap Optimis?
images info

Foto oleh Ty Williams di Unsplash


Kawan GNFI, pernah merasa lelah hanya karena melihat berita? Harga naik. Kondisi ekonomi terasa tidak pasti. Berita tentang konflik, bencana, atau berbagai persoalan sosial muncul silih berganti di lini masa. Belum selesai membaca satu kabar buruk, muncul kabar lainnya.

Tidak heran kalau kemudian kita merasa marah, cemas, bahkan pesimis melihat masa depan. Perasaan itu wajar. Ketika banyak hal di sekitar kita terasa tidak pasti, bertahan dan memikirkan diri sendiri memang perly menjadi prioritas. Apalagi ketika kebutuhan sehari-hari semakin mahal, sementara penghasilan belum tentu ikut bertambah.

Namun, kalau terus-menerus berada dalam mode bertahan, kita juga bisa kehabisan energi. Lantas, apakah kita harus memaksa diri untuk selalu berpikir positif? Tidak juga.

Kita tidak harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Hal yang mungkin dapat kita lakukan adalah mencari ruang-ruang kecil yang membantu kita tetap terhubung dengan kehidupan. Ada beberapa hal sederhana yang bisa dicoba.

baca juga

Jangan Menjauh dari Lingkaran Sosial

Ketika hidup sedang berat, ada kalanya kita justru ingin menghilang. Tidak ingin bertemu siapa-siapa. Malas membalas pesan. Ajakan berkumpul pun rasanya ingin ditolak karena kita sedang tidak punya energi.

Padahal, berhubungan dengan orang lain bisa menjadi salah satu cara untuk membuat hidup terasa sedikit lebih ringan.

Kita tentu membutuhkan orang-orang terdekat seperti pasangan, keluarga, atau sahabat. Namun, koneksi sosial tidak selalu harus datang dari hubungan yang sangat dekat.

Mengutip Psychology Today, Gina Simmons Schneider menulis bahwa hubungan sosial, baik yang kuat maupun yang lebih longgar, dapat memberikan rasa nyaman, koneksi, dan komunitas. Bahkan, interaksi sederhana dengan kenalan atau orang yang hanya sesekali kita temui dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan kita.

Oleh karenanya, kalau ada teman yang mengajak bertemu, jangan buru-buru menolak hanya karena sedang tidak terlalu bersemangat.

Mungkin kita memang tidak mendapatkan solusi dari pertemuan itu. Namun, bisa jadi kita mendapatkan sesuatu yang tidak kalah penting: perasaan bahwa kita tidak sendirian.

Mencari Hal untuk Disyukuri

Jujur saja, bagian ini mungkin terdengar paling klise. Bagaimana mau bersyukur kalau hidup sedang sulit?

Ketika sudah bekerja keras tetapi penghasilan masih segitu-gitu saja, sementara kebutuhan terus bertambah, rasanya memang sulit menemukan sesuatu yang patut dirayakan.

Namun, bersyukur bukan berarti kita harus menganggap masalah sebagai sesuatu yang tidak penting.

Bersyukur dapat membantu kita mengingat bahwa masalah bukan satu-satunya hal yang sedang terjadi dalam hidup kita.

Misalnya, mungkin kondisi finansial kita belum sesuai harapan. Akan tetapi, kita masih memiliki teman yang mau mendengarkan cerita. Ada orang tua yang menanyakan kabar. Ada pasangan yang membuat kita merasa aman. Tubuh yang masih memungkinkan kita bangun dan menjalani aktivitas hari ini dapat kita syukuri.

Memang, hal-hal tersebut tidak serta-merta menyelesaikan masalah. Akan tetapi, menyadarinya dapat membantu kita melihat kehidupan dari sudut pandang yang sedikit lebih utuh. Terlebih, ketika kita terlalu lama terpaku pada apa yang salah, hal-hal baik yang sebenarnya masih ada di sekitar kita bisa ikut luput dari perhatian.

Jadi, tidak perlu mencari sesuatu yang besar untuk disyukuri. Coba mulai dari hal kecil. Apa satu hal yang masih terasa baik hari ini?

Berbuat Baik kepada Orang Lain

Ketika sedang menghadapi masalah, perhatian kita biasanya tersedot ke dalam diri sendiri.

“Bagaimana nasibku?”

“Kapan keadaan ini akan membaik?”

“Apa yang harus kulakukan?”

Semua pertanyaan itu wajar dan juga valid. Tetapi, sesekali mengalihkan perhatian kepada orang lain juga bisa membantu kita keluar sejenak dari lingkaran pikiran tersebut.

Tidak harus dengan menjadi relawan di organisasi tertentu. Kita bisa memulainya dari hal yang sangat sederhana. Misalnya dengan membantu orang membawa barang, memberikan tempat duduk kepada yang membutuhkan, mentraktir teman yang sedang kesulitan, atau bahkan sekadar tersenyum kepada orang lain.

American Psychological Association merangkum sejumlah penelitian yang menunjukkan bahwa menjadi relawan dan melakukan berbagai tindakan kebaikan berkaitan dengan kebahagiaan, rasa terhubung dengan orang lain, serta berkurangnya rasa kesepian. Salah satu penjelasannya adalah karena berbuat baik membuat kita keluar sejenak dari fokus terhadap diri sendiri dan mengarahkan perhatian kepada kebutuhan orang lain.

Menariknya, manfaat tersebut tidak selalu membutuhkan banyak uang.

Kita mungkin sedang berhemat. Kita mungkin belum mampu berdonasi dalam jumlah besar. Tidak masalah. Waktu, perhatian, tenaga, dan kebaikan kecil juga punya nilai.

Mungkin kita tidak bisa memperbaiki dunia hari ini. Namun, kita bisa membuat hari seseorang menjadi sedikit lebih baik dan terkadang, dari sana, hari kita sendiri ikut terasa sedikit lebih ringan.

baca juga

Kita Tidak Harus Selalu Positif

Dunia memang tidak selalu baik-baik saja. Ada banyak hal yang berada di luar kendali kita, seperti kondisi ekonomi, berita yang muncul setiap hari, keputusan orang lain, hingga berbagai persoalan yang terjadi di sekitar kita.

Kita pun tidak harus menutup mata terhadap semuanya. Pesimisme pun tidak selalu berarti kita lemah. Ada kalanya dia muncul karena kita sedang lelah menghadapi kenyataan.

Terlepas dari itu, jangan sampai berbagai hal buruk yang terjadi di luar diri membuat kita lupa bahwa masih ada hal-hal yang bisa kita rawat di dalam diri.

Kita masih bisa menjaga hubungan dengan orang lain. Kita masih bisa menemukan sesuatu untuk disyukuri. Kita masih bisa melakukan kebaikan, sekecil apa pun.

Mungkin kita memang tidak bisa mengendalikan dunia yang sedang tidak baik-baik saja. Tetapi kita masih punya ruang untuk menentukan bagaimana kita menjalaninya dan mungkin, untuk hari ini, itu sudah cukup.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.