membangun siklus baru dari sisa panen mahasiswa kknt ipb university dan kelompok tani organik desa kadilanggon kembangkan teknologi pirolisis - News | Good News From Indonesia 2026

Membangun Siklus Baru dari Sisa Panen: Mahasiswa KKNT IPB University dan Kelompok Tani Organik Desa Kadilanggon Kembangkan Teknologi Pirolisis

Membangun Siklus Baru dari Sisa Panen: Mahasiswa KKNT IPB University dan Kelompok Tani Organik Desa Kadilanggon Kembangkan Teknologi Pirolisis
images info

Teknologi Pirolisis


Desa Kadilanggon, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, merupakan salah satu wilayah yang kehidupan masyarakatnya tidak dapat dipisahkan dari aktivitas pertanian. Hamparan lahan pertanian mengelilingi kawasan permukiman dan menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Sebagian warga menggantungkan penghidupannya dari sektor ini. Terdapat tiga kelompok tani yang produktif di desa ini, sehingga kondisi lahan dan keberhasilan budidaya menjadi hal yang dekat dengan kehidupan mereka.

Produktivitas pertanian juga memiliki tantangannya sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, petani di Desa Kadilanggon menghadapi permasalahan seperti serangan hama serta kondisi tanah yang cenderung asam, atau biasa disebut asam-asaman. Gangguan tersebut tidak hanya memengaruhi pertumbuhan tanaman, namun juga pada kondisi tertentu dapat berujung pada penurunan hasil panen. Di sisi lain, aktivitas pertanian yang terus berlangsung juga menghasilkan limbah dalam jumlah yang tidak sedikit, salah satunya berupa sekam padi.

Bagi petani, sekam bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Sebagian dapat dimanfaatkan kembali, misalnya sebagai bahan pakan ternak. Namun, ketika tidak digunakan, sekam masih kerap dibakar secara terbuka karena dianggap sebagai sisa yang sudah tidak memiliki banyak kegunaan. Padahal, limbah pertanian yang kaya akan bahan organik tersebut masih menyimpan potensi untuk dikembalikan ke dalam sistem pertanian dalam bentuk yang berbeda.

baca juga

Dari kondisi inilah mahasiswa KKN Tematik IPB University di Desa Kadilanggon mencoba melihat persoalan limbah pertanian dari sisi lain. Alih-alih membiarkan sekam berhenti sebagai limbah, bagaimana jika sisa dari aktivitas pertanian tersebut justru diolah kembali menjadi sesuatu yang dapat mendukung pertanian?

Teknologi Pirolisis
info gambar

Teknologi Pirolisis


Salah satu pendekatan yang diperkenalkan adalah teknologi pirolisis. Pirolisis merupakan proses penguraian bahan organik melalui pemanasan dalam kondisi oksigen yang terbatas. Melalui proses tersebut, limbah siaa pertanian tidak hanya menghasilkan satu jenis produk, tetapi dapat menghasilkan beberapa produk yang memiliki potensi pemanfaatan berbeda.

Dalam alat yang dikembangkan mahasiswa KKN, sekam padi dipanaskan di dalam tabung pembakaran. Uap dan gas hasil proses tersebut kemudian dialirkan melalui pipa menuju sistem kondensasi pada tabung kedua yang berisi air pendingin dan pipa spiral. Proses pendinginan ini memungkinkan sebagian uap terkondensasi menjadi asap cair, sementara hasil dari bagian lainnya dapat terkumpul sebagai tar.

Dari satu proses pengolahan, teknologi ini menghasilkan tiga keluaran utama, yaitu arang, tar, dan asap cair. Arang atau biochar menjadi salah satu produk yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali pada lahan pertanian.

Biochar dapat membantu memperbaiki beberapa sifat tanah dan, bergantung pada karakteristik serta dosis aplikasinya, berpotensi membantu meningkatkan kualitas media tumbuh. Pemanfaatannya menjadi relevan dengan kondisi lahan pertanian yang dihadapi masyarakat Desa Kadilanggon, khususnya dalam upaya pengelolaan tanah yang lebih baik.

Produk lainnya adalah asap cair yang dihasilkan dari proses kondensasi dan memiliki senyawa yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pengendali organisme pengganggu tanaman. Dengan pengolahan dan formulasi yang tepat, asap cair dapat menjadi salah satu alternatif dalam mendukung pengelolaan hama pertanian.

Tar merupakan produk yang dihasilkan selama proses pirolisis dapat dimanfaatkan lebih lanjut sebagai bahan bakar alternatif, sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan penggunaannya. Dengan demikian, limbah yang sebelumnya hanya memiliki dua kemungkinan, yakni digunakan kembali secara terbatas atau dibakar, kini dapat diarahkan menjadi beberapa produk dengan fungsi yang berbeda.

Pengembangan teknologi ini dilakukan oleh mahasiswa KKN Tematik IPB University dengan melibatkan Petani Organik Desa Kadilanggon, Kelompok Petani Sarwo Tulus. Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting karena teknologi yang diperkenalkan di tingkat desa tidak cukup hanya dapat dibuat, tetapi juga perlu sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pengguna di lapangan.

Teknologi pirolisis diperkenalkan dan didemonstrasikan kepada masyarakat dalam kegiatan pada 11 Agustus 2026. Melalui demonstrasi, masyarakat tidak hanya diperkenalkan pada bentuk alat, tetapi juga dapat memahami bagaimana limbah pertanian dapat diolah hingga menghasilkan produk yang berpotensi dimanfaatkan kembali.

Teknologi ini memperlihatkan bahwa pengelolaan limbah pertanian dan permasalahan budidaya sebenarnya tidak selalu harus dilihat sebagai dua persoalan yang terpisah. Sekam yang berasal dari aktivitas pertanian dapat diolah kembali menjadi produk yang berpotensi digunakan untuk mendukung aktivitas pertanian itu sendiri. Melalui inovasi teknologi yang dibawakan mahasiswa KKNT IPB, teknologi pirolisis menjadi salah satu pintu masuk untuk membangun pendekatan yang lebih sirkular di tingkat desa.

baca juga

Mengenalkan teknologi tidak bersrti seluruh persoalan pertanian dapat diselesaikan dalam satu alat. Pemanfaatan biochar, asap cair, maupun produk pirolisis lainnya tetap membutuhkan penyesuaian, terutama terkait karakteristik bahan, dosis, formulasi, serta kondisi lahan dan tanaman. Karena itu, demonstrasi yang dilakukan mahasiswa KKN menjadi langkah awal untuk memperkenalkan alternatif pemanfaatan limbah sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk melihat kemungkinan pengembangannya.

Pada akhirnya, inovasi pertanian tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang jauh dari keseharian masyarakat. Terkadang, bahan baku yang dibutuhkan sudah berada di sekitar mereka, seperti sisa setelah panen, limbah organik yang menumpuk, dan limbah yang selama ini dianggap tidak lagi bernilai.

Melalui pirolisis, sekam padi ataupun limbah sisa pertanian lainnya tidak berhenti sebagai sampah yang tidak bernilai. Ia dapat diolah menjadi arang, asap cair, dan tar yang masing-masing memiliki potensi pemanfaatan. Inovasi ini membuktikan bahwa pertanian tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga dapat mulai mengelola kembali sisa produksinya agar tetap berada dalam satu siklus yang lebih panjang.

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.