Selalu ada kisah positif yang dapat kita pahami dari pengabdian seorang dokter di manapun mereka berada. Kisah inspiratif ini bahkan juga bisa Kawan dapatkan dari pengalaman dari berbagai dokter di masa lalu.
Salah satu kisah positif terkait pengabdian seorang dokter bisa Kawan dapatkan dari perjalanan dr. Sander Batuna. Mundur di era 1960-an akhir hingga 1970-an awal, dr. Sander Batuna menjadi salah satu sosok penting bagi masyarakat, khususnya dari kalangan suku Asmat yang ada di Papua.
Sebab dr. Sander Batuna yang pada waktu itu masih berusia 32 tahun memutuskan untuk mengabdi bagi masyarakat suku Asmat yang ada di sana. Dengan berbagai keterbatasan yang ada, sosok dokter ini tetap berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi keselamatan masyarakat yang ditanganinya.
Bagaimana kisah dari pengabdian dr. Sander Batuna kepada masyarakat suku Asmat tersebut? Simak kisah lengkapnya dalam artikel berikut ini.
Bertugas dengan Alat Seadanya
Kisah dr. Sander Batuna ini pernah diangkat dalam salah satu artikel di surat kabar Indonesia Raya terbitan 1971. Dikutip dari artikel "Dr. Sander Batuna Penjelamat Suku Asmat" yang terbit di surat kabar Indonesia Raya edisi 24 Agustus 1971, dr. Sander Batuna diketahui mulai bertugas di tengah masyarakat suku Asmat sejak Maret 1969.
Meskipun berusia masih cukup muda, yaitu 32 tahun, dr. Sander Batuna tetap memutuskan untuk mengabdikan hidupnya bagi masyarakat suku Asmat. Kepeduliannya terhadap kesehatan masyarakat suku Asmat menjadi dorongan besar bagi de. Sander Batuna untuk mengabdikan hidupnya di sana.
Padahal tidak mudah menjadi seorang dokter di daerah Papua pada periode waktu tersebut. Keterbatasan alat dan perlengkapan yang ada tentu menjadi tantangan tersendiri bagi dr. Sander Batuna dalam menjalankan tugasnya.
Selain itu, bacaan yang bisa dia dapatkan untuk memperbarui ilmu kedokteran juga terbatas. Untungnya kedekatan
Belum lagi edukasi kesehatan ekstra yang masih perlu disampaikan pada masyarakat secara luas pada waktu itu. Sebab hal-hal berbau mistis dan tahayul masih banyak dipercayai di tengah masyarakat jika ada sebuah penyakit yang terjadi, alih-alih membawanya pada dokter untuk berobat secara langsung.
Pengabdian untuk Masyarakat Suku Asmat
Pengabdian dr. Sander Batuna terhadap masyarakat suku Asmat tidak bisa dipandang sebelah mata. Bicara soal uang, tidak banyak balas jasa dalam bentuk harta yang didapatkan oleh sang dokter selama menjalankan masa tugasnya.
Namun uang tidak menjadi satu-satunya hal yang dia tuju dalam pengabdiannya tersebut. dr. Sander Batuna justru merasakan nikmat yang lebih besar atas keberhasilannya menyelamatkan banyak masyarakat suku Asmat.
Pada April 1970, pernah datang kelapa Desa Owus ke daerah Agats. Di sana dia menemui uskup di Agats dan menceritakan tentang wabah yang terjadi di desanya. Sang uskup kemudian mengarahkan kepala desa tersebut untuk menemui dr. Sander Batuna.
Pada hari berikutnya, dr. Sander Batuna pun berangkat menuju Desa Owus. Ternyata di sana tengah terjadi epidemi flu pada waktu itu.
Wabah ini juga membuat banyak masyarakat yang menderita pneumonia. Akhirnya dr. Sander Batuna pun turun tangan untuk mengatasi wabah tersebut.
Dalam waktu tiga bulan, tercatat ada 700 orang yang meninggal dunia akibat wabah ini. Namun jumlah tersebut bisa lebih jika penanganan dari dr. Sander Batuna tidak datang lebih cepat.
Atas jasanya itu, dr. Sander Batuna disebutkan dalam artikel tersebut dianggap sebagai sosok penyelamat bagi masyarakat suku Asmat pada waktu itu.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


