bongal jejak emas dan jalur dagang nusantara sejak abad ke 7 - News | Good News From Indonesia 2026

Bongal, Jejak Emas dan Jalur Dagang Nusantara Sejak Abad ke-7

Bongal, Jejak Emas dan Jalur Dagang Nusantara Sejak Abad ke-7
images info

Bongal/BRIN


Wilayah Bongal di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, dalam beberapa tahun terakhir semakin menarik perhatian dunia arkeologi. Berbagai temuan di kawasan ini menunjukkan bahwa Bongal bukan sekadar wilayah tua, tetapi juga menjadi salah satu titik penting dalam sejarah perdagangan Nusantara sejak abad ke-7 hingga ke-10 Masehi.

Penelitian terhadap situs Bongal berawal dari survei arkeologis pada 2001. Saat itu, arkeolog senior BRIN, Dr. Ery Soedewo, memperoleh informasi dari masyarakat Desa Jago-jago mengenai keberadaan sebuah arca di perbukitan Bongal.

“Pada 2001 itu kami melakukan survei arkeologis di wilayah administrasi Kotamadya Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah. Waktu melakukan survei itu kami dapat informasi dari masyarakat di Desa Jago-jago bahwa di suatu perbukitan di wilayah Desa Jago Jago itu mereka pernah melihat secara langsung ada arca,” jelas Ery.

Temuan tersebut ternyata berupa Arca Ganesa yang diperkirakan berasal dari abad ke-9 hingga ke-10 Masehi. Kondisinya sudah tidak utuh, dengan bagian kepala dan sebagian sandaran yang hilang.

“Sayang sekali waktu kami temukan pada 2001 memang sudah tidak utuh, ada bagian kepala yang hilang. Pada bagian sandarannya sebagian juga sudah hilang, tapi kami bisa mengidentifikasi sebagai Arca Ganesa, karena ada atribut-atribut ikonografisnya yang mencirikan bahwa ini adalah Arca Dewa Ganesa,” tegasnya.

Koin Arab, Kapal Kuno hingga Aksara Pallawa

Penelitian kembali intensif dilakukan pada 2019 setelah masyarakat menemukan berbagai artefak ketika menambang emas. Pecahan keramik, gerabah, manik-manik, hingga koin ditemukan di kawasan tersebut.

“Masyarakat bisa menemukan itu karena mereka lagi menambang emas di sana. Mereka menemukan pecahan-pecahan keramik, gerabah, manik-manik, ada koin-koin juga. Di antara beragam artefak itu saya terpaku pada dua jenis koin. Salah satu jenis koinnya seperti koin masa Dinasti Abbasiah, berarti sekitar abad 9,” jelas Ery.

Selain koin dari masa Abbasiyah, ditemukan pula koin dari masa Umayyah. Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa Bongal telah terhubung dengan jaringan perdagangan internasional sejak berabad-abad lalu.

Bukti lainnya adalah keramik bercorak bunga dari Dinasti Tang di China yang berasal dari abad ke-7 hingga ke-10 Masehi. Bahkan, ditemukan keramik berwarna hijau yang berasal dari Persia.

Yang paling mengejutkan adalah temuan bagian kapal kuno. Beberapa papan kayu yang ditemukan ternyata merupakan bagian dari perahu. Salah satunya memiliki tulisan dengan karakter aksara Pallawa-Grantha.

“Hal yang menarik juga dari temuan masyarakat itu mereka menemukan papan-papan, setelah kami cek adalah papan perahu kuno. Salah satu di antara papan itu ternyata ada tulisannya, dan setelah saya baca itu karakter aksara Palawa Granta. Kalau tinjauan paleografisnya itu dari abad ke 7 juga, ada juga keramik warna hijau dari Persia abad 7 sampai 10,” tukasnya.

Pengujian terhadap sampel kayu kemudian menunjukkan usia sekitar abad ke-7 hingga ke-8 Masehi. Temuan lain bahkan berupa kemudi kapal berukuran 4,5 meter dan kemudi lain sekitar 2,5 meter yang ditemukan pada 2021.

Ada Pala dari Maluku, Bongal Diduga Simpul Perdagangan

Ekskavasi Bongal tidak hanya menghasilkan artefak, tetapi juga ecofak yang memberikan gambaran tentang aktivitas dan perdagangan masyarakat masa lalu. Para peneliti menemukan sisa makanan, gading, biji hanjeli, serta biji pala.

Temuan pala menjadi salah satu petunjuk paling menarik karena tanaman tersebut identik dengan Kepulauan Maluku.

“Di sekitar lokasi Bongal ditemukan juga ada semacam sisa makanan selain artefaktual juga ecofaktual seperti gading, kami temukan juga hanjeli berupa biji-bijian. Kalau ada yang ingat mungkin kalau zaman kecil kita itu yang dibikin kalung itu kecil putih kelabu. Di samping itu juga kami menemukan biji pala,” urainya.

Menurut Ery, keberadaan pala di Bongal yang berjarak jauh dari Maluku mengindikasikan adanya jaringan perdagangan antara kawasan timur dan barat Nusantara pada abad ke-7 hingga ke-10.

Keunikan Bongal semakin kuat karena kawasan ini juga dikenal kaya emas. Kondisi tersebut berkaitan dengan gambaran kuno mengenai Sumatera sebagai Pulau Emas atau Suarna Dwipa.

Namun bukan hanya emas yang menjadi daya tarik. Hasil ekskavasi menunjukkan Bongal juga menyimpan berbagai komoditas bernilai tinggi berupa getah dan resin.

“Keunikan Situl Bongal, adalah tanahnya mengandung emas dijuluki sebagai Pulau Emas atau dalam Bahasa Sansekerta disebut Suarna Dwipa. Di samping itu juga keberadaan aneka pohon penghasil getak resin. Dari hasil identifikasi jenis-jenis getah resin yang ditemukan dari hasil galian ekskavasi, Bongal memiliki komoditas utama antara lain kafur, kemenyan, dan getah damar,” pungkas Ery.

Rangkaian temuan tersebut membuat Bongal semakin penting untuk memahami sejarah awal perdagangan maritim Nusantara. Dari koin Arab, keramik China dan Persia, kapal kuno, aksara Pallawa-Grantha, hingga pala dari Maluku, semuanya menunjukkan bahwa kawasan ini kemungkinan pernah menjadi bagian dari jaringan perdagangan luas yang menghubungkan Nusantara dengan dunia luar sejak lebih dari seribu tahun lalu.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.