Adam Malik adalah Wakil Presiden Republik Indonesia ketiga yang menjabat pada masa Orde Baru pimpinan Suharto. Ia menjabat posisi tersebut pada periode 1978, menggantikan Sri Sultan Hamengkubuwana IX.
Kiprah sosok kelahiran Pematangsiantar, Sumatra Utara ini memang banyak di bidang politik sehingga membuatnya dipercaya di posisi strategis tersebut. Namun, sebelum aktif sebagia politisi, Adam Malik mengawali kariernya sebagai jurnalis. Salah satu andilnya dalam bidang jurnalistik ialah mendirikan Kantor Berita Antara yang sampai saat ini masih eksis memberitakan peristiwa nasional hingga internasional.
Di luar personanya sebagai politisi dan jurnalis, Adam Malik juga dikenal sebagai penggemar seni. Ia kerap menjalin kedekatan dengan sejumlah seniman tanah air bahkan mengoleksi karya seni rupa yang tergolong antik dan jumlahnya ratusan.
Dari mulai karya Basuki Abdullah, Sudjojono, Trubus Soedarsono, hingga Affandi dimiliki Adam Malik. Kini sejumlah koleksinya dipamerkan di Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta, pada 15-23 Agustus 2026.

"Maka Lahirlah Angkatan ‘66" karya Sudjojono. (Foto: Good News From Indonesia/Dimas Wahyu Indrajaya)
“Bapak Adam Malik memiliki kedekatan personal yang luar biasa dengan para seniman. Kedekatan ini terjadi dengan tokoh-tokoh besar mulai dari Basuki Abdullah sampai Sudjojono. Hubungan di balik dan kedekatan yang intim inilah yang membuat koleksi beliau begitu bernyawa,” ucap Sri Kusumawati, Kepala Unit Pengelola Museum Seni Provinsi DKI Jakarta, lewat kata sambutannya dalam seminar kuratorial “The Adam Malik Collection” di Museum Seni Rupa dan Keramik pada Kamis (20/8/2026).
Di antara banyak karya, terdapat lukisan “Maka Lahirlah Angkatan ‘66” karya Sudjojono. Adam Malik mendapatkan lukisan ini dari Sudjojono langsung karena keduanya sama-sama pemrakarsa Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi). Ketika Sudjono dilanda kesulitan ekonomi, Adam Malik pun membeli lukisan yang sarat dengan sejarah pergolakan politik dan seni di Indonesia pada tahun tersebut.

"Potret Adam Malik, Wakil Presiden Republik Indonesia" karya Basuki Abdullah. (Foto: Good News From Indonesia/Dimas Wahyu Indrajaya)

Selain karya seni, juga terdapat literatur dan bukti arsip sejarah yang berkaitan dengan Adam Malik. (Foto: Good News From Indonesia/Dimas Wahyu Indrajaya)
Selain itu juga ada lukisan dari maestro aliran realis dan naturalis, Basuki Abdullah. Lukisan potret Adam Malik dibuat oleh Basuki yang kemudian disumbangkan oleh Adam Malik sendiri ke Balai Seni Rupa Jakarta sebagai salah satu koleksi awal gedung tersebut.
Kurator pameran, Farah Wardani sebagai salah satu narasumber seminar menjelaskan bahwa Adam Malik sama seperti Presiden RI pertama Sukarno yang akrab dengan karya seni. Namun, keduanya memiliki perbedaan signifkan di mana Adam Malik lebih gemar mengoleksi lukisan bertemakan orang-orang biasa dan kegiatan tradisi budaya di kampung halamannya.

Seminar kuratorial "The Adam Malik Collection" dibawakan langsung oleh praktisi seni di antaranya Farah Wardani (kedua dari kiri) dan Amir Sidharta (paling kanan). (Foto: Good News From Indonesia/Dimas Wahyu Indrajaya)
“Tidak banyak lukisan-lukisan perempuan cantik dan seksi di koleksinya. Itu berbeda sekali dengan Bung Karno. Lalu banyak sekali orang-orang biasa, keluarga. Juga banyak tradisi Sumatra yang tentunya berangkat dari dia sebagai kelahiran Sumatra. Tidak semegah dan seepik koleksi Bung Karno, tetapi kita bisa melihat seperti apa Adam Malik dari koleksinya,” ungkap Farah.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


